Bukan Sekadar Tidak Bisa Diam dan ‘Bandel’, Ini Cara Mengenali Gejala ADHD

anak ADHD

Pernah tidak Mam Pap sedang berada di sebuah area umum seperti taman bermain atau ruang tunggu, lalu melihat seorang anak terus berlarian tanpa lelah, memanjat kursi, atau menyela pembicaraan orang lain tanpa henti?

Terkadang, ‘pemandangan’ seperti ini memunculkan pertanyaan, bahkan bisa mengarah pada menghakimi, “Anak itu, kok, nakal banget, ya?” atau “Orang tuanya gimana, sih, kok nggak bisa ngatur anaknya sampai dibiarkan begitu?”.

Tunggu dulu. Sebagai orang tua, jika anaknya mendapat label atau pandangan seperti itu tentu mengiris hati. Di sisi lain, ada pula sebagian orang tua yang langsung panik dan menempelkan label self diagnosis, “Jangan-jangan anak saya ADHD?” Padahal, kenyataannya tidak semudah itu. Anak yang super aktif dan berenergi tinggi tidak selalu ADHD. Sebaliknya, anak yang terlihat tenang pun tidak lantas bebas dari kondisi ini.

Hal ini ditegaskan dr. Anggia Hapsari, Sp. K.J, Subsp. A.R. (K) Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Subspesialis Kedokteran Jiwa Anak dan Remaja, RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, “Anak dengan ADHD tidak nakal, melainkan sedang berjuang dengan cara kerja otaknya yang berbeda. Mereka tidak butuh dihakimi atau dicap buruk, melainkan butuh pemahaman, penanganan tepat, dan dukungan penuh sejak dini.”

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) bukanlah sekadar kenakalan masa kecil, apalagi hasil dari pola asuh yang gagal. Dikatakan dr. Anggia Hapsari, Sp. K.J, Subsp. A.R. (K), ADHD adalah gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental disorder) yang terjadi sejak masa kanak-kanak dan akan menetap seumur hidup.

Kondisi ini secara biologis akan memengaruhi cara otak mengontrol emosi, memproses pikiran, dan mengarahkan tindakan. Sayangnya, karena sering kali dianggap sebagai letupan emosi atau tingkah polos biasa, mayoritas anak dengan ADHD terlambat terdiagnosis dan kehilangan momen emas untuk mendapatkan bantuan.

Ketika Otak Mengirimkan Sinyal Berbeda pada Anak ADHD

anak ADHD

Mengapa seorang anak bisa mengalami ADHD? Ini merupakan salah satu pertanyaan umum yang kerap muncul. Banyak orang meyakini bahwa anak ADHD disebabkan karena terlalu banyak mengonsumsi makanan manis, efek samping dari imunisasi, terlalu lama bermain atau kecanduan gadget, pola asuh yang salah seperti memanjakan mereka dan status sosial. Secara medis, dr. Anggia Hapsari menegaskan bahwa anggapan tersebut sepenuhnya mitos yang perlu diluruskan. 

ADHD terjadi akibat adanya kelainan pada struktur dan aktivitas otak bagian depan, atau yang dikenal sebagai lobus frontal. Bagian otak inilah yang berfungsi sebagai “rem” dan “kemudi” bagi manusia. Fungsinya untuk mengatur fokus, mengendalikan impuls, serta mengelola emosi.

Walau penyebab pastinya bersifat multifaktorial, risiko ADHD umumnya dipicu oleh faktor genetik keluarga, gangguan tumbuh kembang saat bayi dalam kandungan, hingga paparan zat beracun seperti timbal pada masa kanak-kanak. Faktor kehamilan seperti kelahiran prematur atau kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol pada ibu hamil juga turut meningkatkan risikonya.

Kapan Penegakan Diagnosis ADHD Dilakukan?

Dikatakan dr. Anggia Hapsari, gejala ADHD biasanya mulai nampak jelas saat anak memasuki rentang usia 3 hingga 12 tahun. Menariknya, wujud ADHD bisa berubah seiring bertambahnya usia seseorang.

“Pada masa kanak-kanak, gejala yang paling menonjol biasanya adalah sifat hiperaktif dan tidak bisa diam. Anak seolah memiliki energi tanpa batas, sulit menunggu giliran, sering memotong pembicaraan, dan bertindak sangat impulsif seolah tanpa berpikir panjang,” ujar dr. Anggia Hapsari.

Lebih lanjut, dr. Anggia Hapsari mengatakan seiring bertambahnya usia, pada saat menginjak usia dewasa, manifestasi ADHD dapat bergeser. Rasa gelisah yang tadinya berwujud fisik berubah menjadi kesulitan memusatkan perhatian, ketidakmampuan menentukan prioritas, serta gaya hidup yang tidak terorganisir, seperti sering kehilangan barang penting atau berjuang keras hanya untuk mengelola waktu harian.

anak ADHD

Selain itu, kondisi ‘sumbu pendek’ atau ketidakmampuan menoleransi rasa tidak nyaman membuat penderita ADHD sering dianggap pemarah atau emosional. Akibatnya, mereka tidak hanya berjuang dengan nilai akademik di sekolah atau performa di tempat kerja, tetapi juga kerap kesulitan menjalin relasi harmonis dengan teman, pasangan, maupun keluarga.

Perlu digarisbawahi, mendiagnosis ADHD bukanlah proses yang instan. Seorang psikiater anak akan melakukan evaluasi mendalam berdasarkan kriteria ketat DSM-5-TR. Diagnosis baru bisa ditegakkan jika gejala-gejala tersebut muncul konsisten selama minimal 6 bulan, dan terlihat atau terjadi di dua lingkungan yang berbeda, misalnya di rumah dan sekolah. Selain itu, gejala tersebut juga mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari anak.

Anak ADHD Tidak Bisa Disembuhkan, Namum Bisa Dikontrol

Secara medis, ADHD tidak bisa dihilangkan secara total, tetapi gejala ADHD bisa dikontrol dan dikelola hingga anak mampu hidup mandiri, bahagia dan berprestasi.

Penanganan komprehensif biasanya mengombinasikan terapi obat-obatan (seperti stimulan untuk menyeimbangkan kimia otak) dengan terapi psikologis. Melalui terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy), psikoedukasi, dan pelatihan interaksi sosial, anak belajar bagaimana cara mengenali emosinya dan mengarahkan fokusnya dengan lebih baik.

“Tanpa penanganan yang tepat, frustrasi yang menumpuk akibat gejala ADHD bisa memicu komplikasi serius seperti depresi dan krisis percaya diri. Memeriksakan anak ke psikiater bukan tanda kegagalan atau respons yang berlebihan, melainkan langkah paling berani dan penuh kasih dari orang tua.”

Salah satu kekhawatiran orang tua yang anak ADHD juga terkait dengan sekolah. Apakah Anak ADHD dapat bersekolah di sekolah biasa?

dr. Anggia Hapsari mengatakan anak dengan ADHD tentu saja bisa belajar dan bermain di sekolah umum. Bankan katanya, anak dengan ADHD tetap memiliki potensi luar biasa untuk berkembang di sekolah reguler. Anak ADHD membutuhkan melainkan support sistem yang peka dan suportif, sebuah kolaborasi yang erat antara orang tua, guru di sekolah, dan tim medis yang mendampingi.

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kedokteran jiwa jika Anda menemui tanda-tanda gangguan fokus atau kecenderungan hiperaktif pada si Kecil. Penanganan yang datang sedini mungkin adalah kunci utama untuk membuka masa depan mereka yang cerah dan penuh percaya diri.

Memahami ADHD adalah tentang mengubah kacamata kita dalam memandang anak-anak ini. Ketika kita berhenti memandang mereka sebagai anak yang “nakal” atau “pengganggu”, kita bisa mulai melihat sosok anak yang sebenarnya sedang berjuang keras mengendalikan dirinya sendiri.

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty four − = nineteen