Menitipkan anak di lembaga pendidikan pesantren bisa menajadi langkah awal membentuk karakter dan nilai agamanya. Namun di tengah pesatnya era digital, anak-anak juga perlu diberi ruang belajar yang lebih luas. Anak-anak butuh ruang berekspresi. Salah satu yang bisa dipilih lewat dunia film, yang menjadi salah satu bahasa yang bisa membuat generasi muda tertarik.
Tidak bisa dipungkiri kalau memahami Al-Qur’an kini tak lagi sebatas di ruang kelas. Lewat narasi visual, nilai-nilai Al-Qur’an diterjemahkan secara nyata dan relevan dengan kehidupan modern. Wadah kreatif inilah yang dihadirkan kembali oleh Santri Film Festival (SANFFEST) 2026.
Untuk kali kedua, tahun ini Santri Film Festival (SANFFEST) 2026 kembali digelar. Tema yang dipilih “The Verses in Motion”, di mana anak-anak santri diajak untuk tidak sekadar memindahkan teks Al-Qur’an ke layar lebar, melainkan menggali esensi nilai di dalamnya dan mengolahnya menjadi karya sinema yang kreatif serta kontekstual.
Ajang ini bukan sekadar ajang kompetisi biasa, melainkan gerakan besar yang mendapat dukungan luas dari berbagai pihak strategis, mulai dari Kementerian Kebudayaan, LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), LLMB (Lembaga Laskar Melayu Bersatu), hingga Yayasan Indonesia Membaca Bangsa (YIMB) serta mitra terkait lainnya.

Ketua Komite SANFFEST, Neno Warisman (Bunda Neno), menekankan betapa pentingnya memberikan ruang bagi santri agar mampu menyuarakan gagasan mereka lewat media film. Menurutnya, pengalaman dan nilai hidup yang ditanamkan di pesantren sangat kaya untuk diolah menjadi karya seni visual.
“Santri didorong untuk melihat film bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium menyampaikan gagasan, pengalaman, dan nilai. SANFFEST ingin mendorong santri agar tidak berhenti menjadi penonton perkembangan industri kreatif. Mereka juga perlu memperoleh ruang untuk menjadi pencipta cerita dengan perspektif yang lahir dari pengalaman dan lingkungan mereka sendiri,” ungkap Bunda Neno saat konferensi pers.
Bunda Neno juga menambahkan bahwa dalam ajang ini, peserta tidak diminta untuk secara kaku memindahkan kisah kitab suci ke layar kaca secara harafiah. Sebaliknya, para santri ditantang untuk membaca nilai-nilai Al-Qur’an dan mengorelasikannya dengan persoalan sosial serta pengalaman nyata di sekitar mereka.
Tahun ini Santri Film Festival (SANFFEST) 2026 mencoba memberikan kesemapatan seluas-luasnya untuk para santri. Hal ini dibuktikan dengan adanya tiga kategori utama yang dapat diikuti oleh peserta. Project Manager SANFFEST, Fadhli Sapawie, menyampaikan kategori utama tahun ini adalah Santri Pelajar, Santri Umum, dan Inklusi. Kategori Inklusi secara khusus dihadirkan untuk merangkul peserta dari kalangan disabilitas serta mereka yang berada di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).

Sebagai jebolan pesantren, aktor dan sutradara muda Syakir Daulay yang hadir di sesi jumpa pers sempet mengenang perjalanan kariernya yang bermula dari grup drama teater, musik nasyid, hingga mengoperasikan kamera di Tahfiz TV pesantren. Syakir membuktikan bahwa lewat lembaga pesantren dirinya juga bisa berkarya.
Syakir mengatakan sempat sempat merasa jenuh dengan rutinitas harian di pesantren dan mencoba berbagai kegiatan seni untuk mengisi waktu. Akhirnya kesempatan syuting film datang, ketika ia masih duduk di tingkat akhir pesantren. Seorang sutradara saat itu tengah mencari anak yang mampu mengaji untuk bermain dalam film tentang penghafal Al-Qur’an.dan sampai saat ini masih aktif di dunia kreatif khususnya di industri perfilman.
“Di SANFFEST 2026 ini kita ingin menegaskan bahwa tidak ada film religi yang kaku. Semua film adalah refleksi dari nilai kehidupan. Prinsip Iqra tidak berhenti pada aktivitas membaca teks, tetapi kehidupan sehari-hari juga merupakan ruang untuk membaca,” ujar Syakir.
Santri Film Festival (SANFFEST) 2026 Dukung Dampingi Anak Jadi Kreator Berakhlak
Dukungan penuh dari pemerintah dan lembaga edukasi melalui SANFFEST 2026 ini tentu saja menjadi sinyal positif bagi para orang tua. Jika memang anak memiliki ketertarikan, berikut beberapa panduan yang bisa dilakkan untuk mengarahkan minat bakat anak:
Memberikan Akses & Kesempatan: Jika anak tertarik dengan dunia fotografi, penulisan cerita, atau videografi, salurkan minat tersebut. Dukungan moral dari orang tua sangat memengaruhi rasa percaya diri mereka.
Diskusi Kritis Soal Tontonan: Jangan lupa untuk meluangkan waktu di rumah untuk menyaksikan film bersama. Ajak anak mendiskusikan moral cerita dan bagaimana adegan tersebut diambil, sehingga anak bisa berpikir kritis bahkan memunculkan ide kreatif yang mereka miliki.
Dukung dengan Fasilitas Alat Sederhana: Tidak perlu langsung membelikan kamera mahal. Izinkan anak mengeksplorasi ide visual menggunakan ponsel yang ada di rumah, aplikasi editing gratisan, atau kamera bekas. Ini melatih kreativitas dan resiliensi anak tanpa harus membebankan finansial keluarga.
Dampingi dengan Literasi Digital dan Etika Media: Selain mengasah skill teknis, ingatkan anak tentang batasan syariat dan etika dalam berkarya—seperti menjaga aurat, menghindari ghibah/fitnah dalam alur cerita, serta bijak menyikapi komentar netizen di media sosial.
Kenalkan dengan Komunitas dan Mentor yang Tepat: Bantu anak menemukan ekosistem berkarya yang sehat. Ayah dan Bunda bisa mengikutkan anak ke workshop sinematografi pemula, klub media di sekolah/pesantren, atau mengenalkannya pada sosok kreator Muslim yang inspiratif.
Dorong Anak Berani Menghasilkan Karya : Ide dan bakat si Kecil tidak akan berkembang jika hanya berhenti di kepala. Ajak dan tantang anak untuk mulai mengeksekusi ide ceritanya menjadi karya nyata, walau masih sederhana. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan menyemangati mereka mengikutkan karyanya ke ajang seperti Santri Film Festival (SANFFEST) 2026. Mengikuti kompetisi bukan sekadar mengejar juara, melainkan wadah terbaik bagi anak untuk melatih kedisiplinan, keberanian mengekspresikan nilai Al-Qur’an, serta mendapatkan pengalaman bernilai dari para profesional
Apresiasi Proses, Bukan Hanya Hasil Akhir: Ketika anak menunjukkan draf skenario atau video pendek buatan mereka, berikan pujian pada usaha, ide, dan pesan positif yang dibawakan, bukan sekadar kualitas visualnya. Dukungan emosional ini membangun self-esteem yang kuat pada diri anak.
SANFFEST 2026 adalah bukti nyata bahwa dunia pesantren dan kemajuan teknologi sinema dapat berjalan beriringan. Mari Ayah dan Bunda, kita dukung anak-anak santri untuk berani berkarya, mengekspresikan pemahaman Al-Qur’an mereka, dan mewarnai layar kaca Indonesia hingga panggung internasional dengan nilai-nilai kebaikan!
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.




![[Gambar 5] Hydro Coco Hadirkan Semangat Selebrasi dan Kebersamaan Lewat Kampanye “Don’t Stop The Celebration”](https://parentsquads.com/wp-content/uploads/2026/06/Gambar-5-Hydro-Coco-Hadirkan-Semangat-Selebrasi-dan-Kebersamaan-Lewat-Kampanye-Dont-Stop-The-Celebration-200x112.jpg)




and then