Jangan Abaikan Benjolan di Leher, Ini Salah Satu Gejala Kanker Tiroid

kanker tiroid

Mendengar kata ‘kanker’ pasti langsung membuat hati mencelos. Selama ini, kanker kerap dianggap sebagai momok menakutkan yang identik dengan kondisi berat dan peluang sembuh yang kecil. Namun, anggapan ini ternyata tidak sepenuhnya berlaku untuk kanker tiroid, lho, Mam, Pap.

Di antara berbagai jenis kanker, kanker tiroid justru termasuk yang memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi. Hal ini ditegaskan oleh dr.Diani Kartini Sp.B, Subsp.Onk(K), Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Onkologi dari RS Pondok Indah-Pondok Indah.

Dalam acara temu media yang dilangsungkan beberapa waktu lalu ia menegaskan, “Pasien kanker tiroid bisa survive (bertahan hidup) sampai dengan 20 tahun, asalkan dikenali sejak awal,” ujar dr. Diani.

Di Indonesia sendiri kasus kanker tiroid menempati urutan ke-12 dari seluruh jenis kanker berdasarkan Globocan tahun 2020 dengan total 13.114 kasus baru per tahun. Berikut beberapa fakta penting mengenai kanker tiroid yang dipaparkan dr.Diani.

Read More

Apa Itu Kanker Tiroid?

Dijelaskan dr. Diani, kanker tiroid adalah kanker yang berasal dari sel yang terdapat pada kelenjar gondok atau kelenjar tiroid. Letak kelenjar tiroid ini berada di leher bagian depan, tepatnya di depan trakea (batang tenggorokan).

Secara anatomi, kelenjar tiroid memiliki bentuk yang unik seperti pita atau kupu-kupu karena memiliki dua sisi, yaitu lobus kanan dan lobus kiri. Jika kelenjar tiroid membesar secara keseluruhan, kondisinya sering kali dapat teraba dan terlihat jelas dari luar.

Sebaliknya, jika berupa benjolan atau nodul kecil di dalam kelenjar, sering kali tandanya sulit untuk dideteksi tanpa pemeriksaan medis.

Lebih lanjut, dr. Diani memamarparkan bahwa tingginya peluang kesembuhan kanker tiroid ini dipengaruhi oleh karakteristik jenis sel kankernya itu sendiri. Berbeda dengan kanker lain yang agresif, mayoritas kanker tiroid tumbuh dengan sangat lambat.

1. Jenis Sel Kanker yang Mayoritas Jinak

Dokter Diani menjelaskan bahwa sekitar 90 persen kasus kanker tiroid merupakan jenis Papiler dan Folikuler.

Tipe Papiler:  Jenis yang paling umum ditemukan dan dikenal memiliki prognosis (prediksi kesembuhan) terbaik dengan angka harapan hidup lebih dari 90% dalam lima tahun.

Tipe Anaplastik: Sebaliknya, jenis yang sangat agresif dan tumbuh cepat ini sangat jarang ditemukan, hanya sekitar 1–2 persen saja dari total kasus. Selain itu, ada juga jenis lain seperti tipe Meduler.

2. Faktor Usia dan Gender

Selain jenis kankernya, faktor usia dan jenis kelamin juga memegang peran penting. Untuk pasien yang masih berusia lebih muda (biasanya di bawah 50 tahun) memiliki peluang kesembuhan dan prognosis yang jauh lebih baik dibandingkan dengan pasien lansia.

Namun perlu digaris bawahi kalau kanker tiroid ini bisa dialami siapa pun juga, termasuk anak-anak. Bahkan dr. Diani juga pernah menulis penelitian yang terbit dalam sebuah jurnal mengenai kanker tiroid pada usia anak. “Saya pernah menemukan sekitar di bawah 10 ya untuk di usia anak,” tutur dokter yang praktik di RS Pondok Indah – Pondok Indah Jakarta ini.

Dr. dr. Diani juga mengatakan kalau perempuan ternyata lebih berisiko mengalami kanker tiroid dibandingkan laki-laki. Hal ini kemungkinan besar terkait dengan hormon estrogen yang berpengaruh terhadap sel-sel tiroid. Kanker ini paling banyak diidap oleh perempuan di usia produktif sekitar 30–50 tahun.

Faktor Risiko dan Penyebab Kanker Tiroid 

Meskipun penyebab pasti kanker tiroid belum diketahui secara pasti, ada beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker ini:

  1. Riwayat radiasi: Pernah menjalani penyinaran atau terapi radiasi di daerah leher.
  2. Faktor keturunan: Memiliki anggota keluarga dengan riwayat genetik kanker tiroid.
  3. Gaya hidup tidak sehat: Kebiasaan buruk seperti merokok dan mengonsumsi alkohol.

Gejala Kanker Tiroid yang Wajib Diwaspadai

kanker tiroid
Dr. Diani menjelaskan pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan segera apabila ditemukan benjolan pada leher

Mengenali gejala sedini mungkin adalah kunci utama untuk menyelamatkan orang-orang tercinta. Berikut beberapa tanda di area tubuh yang perlu diwaspadai:

1. Benjolan di Leher yang Bergerak Saat Menelan

Ini adalah tanda khas. Jika menelan ludah atau air, benjolan tersebut akan ikut bergerak naik-turun karena posisi anatomi tiroid yang menempel pada saluran napas. Namun perlu digarisbawahi bahwa benjolan di leher tidak selalu berarti kanker, bisa jadi tumor jinak.

2. Suara Serak yang Menetap

Ini bisa terjadi karena sel kanker mulai membesar dan menginfiltrasi atau menekan saraf pita suara yang berada di belakang kelenjar tiroid. “Saraf itu fungsinya untuk kita bersuara. Serak yang menjadi tanda keganasan ini menetap. Selain itu pertumbuhan kanker juga bisa menekan saluran napas sehingga nafas jadi sesak,” katanya.

3. Sesak Napas dan Batuk Terus-menerus

Pertumbuhan massa kanker yang membesar dapat menekan saluran napas (trakea).

4. Kesulitan Makan/Menelan

Pada beberapa orang, desakan kelenjar yang membesar juga bisa mengganggu jalur makanan, di mana ini sangat mengganggi ketika ingin menelan makanan.

5. Nyeri di Tulang Belakang

Jika kanker sudah memasuki stadium lanjut dan menyebar ke area tulang, gejala nyeri ini bisa muncul.

Mengenal Stadium dan Jalur Penyebarannya

Stadium kanker tiroid terbagi menjadi Stadium 1, 2, 3, dan 4. Penentuan stadium ini didasarkan pada ukuran benjolan, penyebaran ke kelenjar getah bening sekitarnya, serta ada tidaknya metastasis (penyebaran jauh).

Kanker tiroid dapat menyebar melalui dua jalur, yaitu jalur limfogen, di mana melalui kelenjar getah bening di sekitar leher. Serta jalur hematogen, di mana kanker menyebar melalui aliran darah. Penyebaran melalui darah ini paling sering menyasar organ paru-paru dan tulang belakang.

Langkah Pemeriksaan Medis untuk Memastikan Diagnosis

Jika Mam Pap menemukan gejala-gejala di atas pada anggota keluarga, jangan ditunda untuk memeriksakannya ke dokter spesialis bedah subspesialis bedah onkologi. Dokter akan melakukan tahapan pemeriksaan berikut:

1. Anamnesis (Wawancara Medis)
Dokter akan bertanya mendalam mengenai riwayat dan perkembangan benjolan, seperti “Sejac kapan benjolan ini muncul?” atau “Bagaimana pola pertumbuhannya?”

2. Pemeriksaan Fisik
Dokter akan meraba benjolan secara langsung untuk menilai ukuran, massa, konsistensi (keras/lunak), serta melihat apakah benjolan sudah melekat ke jaringan sekitarnya atau melibatkan kelenjar getah bening di sisi kanan dan kiri leher.

3. Pemeriksaan Penunjang
USG Tiroid atau CT Scan: Untuk melihat bentuk, ukuran, dan struktur benjolan secara detail.

Biopsi (FNAB – Fine Needle Aspiration Biopsy): Pengambilan sampel jaringan menggunakan jarum halus untuk diperiksa di laboratorium.

Pembedahan Diagnostik: Kadang kala, hasil biopsi dengan kriteria Bethesda belum bisa membedakan secara jelas apakah tumor tersebut jinak atau ganas. Jika terjadi kondisi abu-abu ini, dokter dapat menyarankan tindakan pembedahan langsung untuk menegakkan diagnosis pasti.

Ragam Pengobatan Kanker Tiroid

Saat ini, metode pengobatan kanker tiroid saat ini sudah semakin berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi yang kian canggih. Namun dikatakan dr.Diani bahwa pengobatan utama kanker tiroid adalah lewat operasi atau tindakan pembedahan. Pengobatan kanker tiroid ini tentu saja akan disesuaikan dengan kondisi stadium pasien.

Operasi (Tirodektomi): Ini adalah terapi utama. Dokter akan mengangkat sebagian (Partial) atau seluruh (Total) kelenjar tiroid yang sakit melalui operasi konvensional maupun teknik minimal invasif (sayatan minimal).

Terapi Nuklir (Ablasi Yodium Radioaktif): Prosedur radiasi internal yang diberikan setelah operasi untuk membersihkan sisa-sisa sel kanker tiroid yang mungkin masih tertinggal agar tidak menyebar.

Terapi Hormon Jangka Panjang: Jika pasien menjalani total tiroidektomi (kedua lobus diangkat), tubuh tidak bisa lagi memproduksi hormon tiroid secara alami. Pasien wajib mengonsumsi obat terapi hormon seumur hidup (contoh obatnya: Levotiroksin atau Levothyroxine). Selain menjaga metabolisme tubuh tetap stabil, terapi ini berfungsi mencegah kekambuhan lokal maupun penyebaran kanker lebih jauh.

Radiofrekuensi Ablasi (RFA): Teknologi terbaru yang umumnya diberikan pada kasus kanker tiroid stadium yang masih sangat dini, atau digunakan untuk mengecilkan jaringan tiroid abnormal.

Satu hal yang perlu diingat, pada beberapa kasus, kanker tiroid ini dapat muncul kembali (kambuh) setelah pengobatan selesai. Oleh karena itu, dr. Diani mengingatkan agar pasien harus selalu disiplin mengonsumsi obat hormon dan rajin melakukan kontrol rutin ke dokter. Dengan kontrol yang teratur, jika terjadi kekambuhan, dokter dapat mendeteksinya sejak awal dan langsung melakukan penanganan.

Secara umum, cara terbaik untuk meminimalkan risiko terkena kanker tiroid adalah dengan konsisten menjalankan pola hidup sehat, mulai dengan mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang, rutin berolahraga secara teratur, kelola dan menghindari stres serta menjauhi kebiasaan buruk seperti merokok dan mengonsumsi alkohol.

Yuk Ma, Pa, mulai sekarang lebih peka terhadap perubahan tubuh seluruh anggota keluarga di rumah. Jangan takut untuk memeriksakan diri ke dokter, karena deteksi dini merupakan langkah awal untuk kesembuhan kanker tiroid.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifty ÷ = twenty five