Anak Perempuan Remaja Lebih Rentan Terkena Lupus, Kenali Gejala Awalnya Sebelum Terlambat

anak perempuan lebih rentan terkena lupus

Sering mengalami demam berkepanjangan, mudah lelah, nyeri sendi, hingga rambut rontok pada anak perempuan remaja kerap dianggap sebagai keluhan biasa. Padahal, gejala-gejala tersebut bisa menjadi tanda awal lupus, penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang hampir seluruh organ tubuh.

Sayangnya, banyak kasus lupus pada anak baru terdiagnosis ketika kondisinya sudah cukup berat. Akibatnya, risiko komplikasi menjadi lebih tinggi dan penanganannya pun lebih kompleks.

“Banyak sekali anak-anak yang datang ke dokter dalam kondisi yang sudah berat karena tidak terdeteksi sejak dini. Karena itu edukasi kepada masyarakat sangat penting agar lupus bisa dikenali lebih awal,” ujar DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Mengapa Anak Perempuan Lebih Rentan Terkena Lupus?

Lupus merupakan penyakit autoimun, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel-sel tubuh sendiri sehingga menimbulkan peradangan kronis.

Read More

Menurut Dr. Rd. Reni Ghrahani Dewi M., dr., M.Kes, Sp.A, Subsp.AI, lupus dapat terjadi pada siapa saja. Namun, sekitar 20 persen kasus lupus ditemukan pada anak, dan gejalanya cenderung lebih berat dibandingkan orang dewasa.

Yang perlu menjadi perhatian, lupus jauh lebih banyak terjadi pada anak perempuan, terutama saat memasuki masa remaja. Berbagai penelitian menunjukkan perbandingan kasus pada anak perempuan dan laki-laki mencapai sekitar 9 banding 1.

Mengapa demikian? Dr. Reni menjelaskan bahwa hormon estrogen memiliki peran besar dalam munculnya penyakit ini. “Faktor hormonal, khususnya estrogen, banyak berperan dalam penyakit lupus. Hormon estrogen dapat memperberat proses peradangan pada anak yang memiliki kerentanan terhadap lupus,” jelas Dr. Reni.

Selain faktor hormon, lupus juga dipengaruhi oleh faktor genetik serta pemicu dari lingkungan, seperti infeksi tertentu dan paparan sinar matahari berlebihan.

Gejala Lupus pada Anak Sering Disangka Penyakit Biasa

anak perempuan lebih rentan terkena lupus, lupus pada anak

Salah satu tantangan terbesar dalam menangani lupus adalah gejalanya yang sangat beragam dan menyerupai penyakit lain. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai orang tua antara lain:

  • Demam berulang tanpa penyebab yang jelas.
  • Anak tampak pucat atau mengalami anemia.
  • Mudah lelah meski tidak banyak beraktivitas.
  • Berat badan menurun.
  • Rambut rontok berlebihan.
  • Nyeri otot dan sendi, terutama saat bangun pagi (morning stiffness).
  • Ruam kemerahan di wajah berbentuk kupu-kupu.
  • Luka di mulut yang tidak terasa nyeri.
  • Sensitif terhadap sinar matahari.

Menurut Dr. Reni, orang tua juga perlu memperhatikan bila anak mulai enggan bermain atau beraktivitas karena merasa cepat lelah. “Pada anak kecil mungkin mereka tidak bisa mengeluh. Tetapi tandanya terlihat dari anak yang tidak mau bermain karena mudah lelah,” jelasnya.

Lupus Bisa Menyerang Hampir Semua Organ Tubuh

Lupus bukan hanya menyebabkan ruam pada kulit. Penyakit ini dapat menyerang berbagai organ penting, seperti:

  • Ginjal
  • Jantung
  • Paru-paru
  • Otak dan sistem saraf
  • Sendi
  • Sel darah
  • Hati
  • Saluran pencernaan

Pada anak, keterlibatan ginjal bahkan menjadi salah satu komplikasi yang paling sering ditemukan. Gejalanya bisa berupa tekanan darah tinggi, bengkak pada wajah dan kaki, hingga adanya protein atau darah dalam urine. Jika mengenai sistem saraf, lupus dapat menyebabkan sakit kepala hebat, kejang, gangguan konsentrasi, depresi, hingga halusinasi.

Sementara bila menyerang jantung atau paru-paru, anak dapat mengalami nyeri dada, sesak napas, serta penumpukan cairan di sekitar organ tersebut.

Bisakah Lupus Disembuhkan?

Pertanyaan ini paling sering diajukan oleh orang tua. Jawabannya, lupus belum dapat disembuhkan secara total. Namun penyakit ini dapat dikendalikan sehingga penderita dapat menjalani kehidupan yang aktif.

Target pengobatan adalah mencapai kondisi remisi, yaitu ketika gejala menghilang dan penggunaan obat dapat ditekan seminimal mungkin. Penanganan lupus meliputi:

  • Edukasi kepada anak dan keluarga.
  • Penerapan pola hidup sehat.
  • Nutrisi yang seimbang.
  • Aktivitas fisik ringan dan teratur.
  • Terapi rehabilitasi bila diperlukan.
  • Dukungan psikologis.
  • Obat antiinflamasi, kortikosteroid, obat antimalaria, hingga obat penekan sistem imun sesuai kondisi pasien.

Dr. Reni menekankan bahwa anak dengan lupus tetap perlu beraktivitas. “Olahraga tetap dianjurkan, tetapi bukan olahraga yang berat. Aktivitas yang teratur justru membantu mengurangi rasa lelah dan menjaga kualitas hidup anak,” ujarnya.

Pertanyaan Seputar Lupus

1. Mengapa lupus lebih banyak menyerang anak perempuan?

Karena hormon estrogen diduga berperan meningkatkan proses peradangan pada anak yang memiliki faktor risiko lupus.

2. Apakah lupus bisa dicegah?

Belum ada cara untuk mencegah lupus sepenuhnya karena dipengaruhi faktor genetik. Namun menghindari pemicu, seperti paparan sinar matahari berlebihan dan menjaga pola hidup sehat, dapat membantu mengurangi risiko kekambuhan pada anak yang memiliki kerentanan.

3. Apakah anak dengan lupus boleh berolahraga?

Boleh. Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang justru dianjurkan. Yang perlu dihindari adalah olahraga yang terlalu berat dan melelahkan.

4. Apakah ibu dengan lupus pasti menurunkan penyakit kepada bayinya?

Tidak. Bayi dari ibu dengan lupus belum tentu menderita lupus. Pada sebagian kecil kasus dapat terjadi lupus neonatal akibat antibodi ibu yang melewati plasenta, tetapi kondisi ini berbeda dengan lupus yang dialami orang dewasa maupun anak.

5. Apakah lupus bisa menyebabkan kematian?

Ya, jika tidak ditangani dengan baik. Lupus dapat menimbulkan komplikasi serius pada ginjal, jantung, otak, maupun organ lainnya. Namun diagnosis dini, pengobatan yang tepat, dan kepatuhan menjalani terapi dapat meningkatkan harapan hidup secara signifikan.

6. Benarkah Anak dengan Lupus Tidak Boleh Terkena Matahari?

Paparan sinar matahari memang dapat memperburuk lupus. Namun bukan berarti anak sama sekali tidak boleh keluar rumah. Menurut Dr. Reni, paparan sinar matahari tetap diperlukan dalam batas yang wajar. Yang perlu dihindari adalah paparan berlebihan karena dapat memicu kekambuhan maupun memperparah penyakit.

Pentingnya Deteksi Dini

Karena gejala lupus sering menyerupai penyakit lain, orang tua perlu lebih peka apabila anak—terutama remaja perempuan—mengalami demam berulang, mudah lelah, nyeri sendi, atau muncul ruam yang tidak kunjung membaik.

Semakin cepat lupus dikenali, semakin besar peluang anak mencapai remisi dan terhindar dari kerusakan organ permanen. Dengan pengobatan yang tepat, dukungan keluarga, serta kontrol rutin ke dokter, anak dengan lupus tetap dapat tumbuh, belajar, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan kualitas hidup yang baik.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− seven = 2