“Jangan berikan tebengan ke teman lawan jenis, nanti jadi bibit selingkuh.”
“Saya nggak akan kasih izin suami kalau ada teman perempuannya yang mau nebeng pulang dari kantor.”
Kalimat seperti ini mungkin sudah cukup familiar didengar, ya, terutama di media sosial. Tidak sedikit yang meyakini bahwa memberi tebengan untuk lawan jenis bisa jadi awal perselingkuhan. Banyak yang beralasan, semakin sering bertemu dan menghabiskan waktu berdua, semakin besar peluang munculnya rasa nyaman hingga akhirnya timbul benih-benih perasaan. Tapi, apa iya?
Mengapa Berikan Tebengan pada Lawan Jenis Memicu Perselingkuhan?
Munculnya rasa khawatir ini memang bisa dirasakan oleh siapa pun juga. Tidak hanya para istri, laki-laki sebagai suami pun bisa was-was kalau melihat istrinya kerap kali melakukan perjalanan bersama dengan lawan jenis.
Dalam psikologi sosial dikenal konsep proximity effect, yaitu kecenderungan seseorang lebih mudah merasa akrab dengan orang yang sering ditemui atau menghabiskan waktu bersama. Kedekatan dengan lawan jenis di kantor, atau perjalanan pulang bersama di dalam mobil, misalnya, bisa menjadi ruang untuk mengobrol lebih santai dibandingkan suasana kantor. Dari obrolan ringan tentang pekerjaan, percakapan bisa berkembang menjadi cerita tentang keluarga, masalah pribadi, hingga saling memberi dukungan emosional.
Inilah yang pada akhirnya membuat sebagian orang beranggapan bahwa kebiasaan memberi tebengan kepada lawan jenis berpotensi membuka pintu menuju perselingkuhan. Namun, perlu digarisbawahi lebih dulu bahwa definisi perselingkuhan bisa berbeda antara pasangan.
Dalam hal ini, Psikolog Klinis Dewasa dan Pernikahan Nadya Pramesrani menjelaskan bahwa perselingkuhan memang tidak selalu dimulai dari hubungan fisik. Bagi sebagian pasangan, kedekatan emosional yang melampaui batas, perhatian berlebih, hingga hubungan yang disembunyikan dari pasangan juga dapat dianggap sebagai bentuk perselingkuhan.
Artinya, aktivitas memberi tebengan itu sendiri sebenarnya bukanlah masalah utama. Sebab ada hal yang justru perlu lebih diperhatikan, yaitu apakah interaksi tersebut mulai berkembang menjadi hubungan yang melebihi batas komitmen dalam pernikahan. Artinya, pergeseran batasannya yang perlu diwaspadai.
Kedekatan yang Terbangun Pelan-Pelan

Perselingkuhan tentu saja bisa dipicu banyak hal, salah satunya faktor kedekatan dengan teman lawan jenis yang berawal dari kebiasaan saling berbagi cerita, terutama mengenai persoalan rumah tangga. Awalnya mungkin hanya saling mendengarkan. Lalu menjadi tempat curhat.
Di tahap inilah bisa memunculkan ‘ruang’ atau rasa lebih merasa lebih dimengerti dibandingkan pasangan sendiri. Dalam psikologi hubungan, kondisi ini dikenal sebagai emotional affair atau perselingkuhan emosional. Hubungan tersebut belum tentu melibatkan kontak fisik, tetapi ikatan emosionalnya mulai bergeser kepada orang lain.
Jika kebiasaan memberi tebengan menjadi momen yang terus-menerus digunakan untuk membangun kedekatan semacam ini, risikonya tentu bisa meningkat. Namun, bukan berarti setiap orang yang memberi tebengan pasti akan berselingkuh.
Sebuah perjalanan pulang bersama bisa memiliki makna yang sangat berbeda. Bisa jadi hanya bentuk saling membantu rekan kerja yang rumahnya searah. Namun bisa pula menjadi awal dari hubungan yang semakin intim jika tidak disertai batasan yang jelas. Karena itu, yang membedakan bukan aktivitasnya, melainkan bagaimana seseorang menjaga komitmennya.
Ada beberapa hal yang perlu dipertegas dan dijawab lebih dulu.
- Apakah pasangan mengetahui bahwa Anda memberi tebengan?
- Apakah hal itu dilakukan secara terbuka, bukan diam-diam?
- Apakah percakapannya tetap dalam batas profesional?
- Apakah Anda mulai lebih nyaman berbagi cerita dengan orang tersebut dibandingkan pasangan?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang lebih penting dibandingkan sekadar, “Nebeng atau tidak?”. Di sisi lain, menjaga batasan bukan berarti harus mencurigai semua interaksi dengan lawan jenis.
Hubungan yang sehat membutuhkan keseimbangan antara kepercayaan dan tanggung jawab. Kepercayaan tidak berarti bebas melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan perasaan pasangan. Sebaliknya, menjaga perasaan pasangan juga bukan berarti harus memutus semua hubungan profesional dengan lawan jenis. Untuk itu, yang dibutuhkan adalah komunikasi dan kesepakatan bersama.
Jika salah satu pasangan merasa tidak nyaman dengan kebiasaan memberi tebengan kepada lawan jenis, sebaiknya hal tersebut dibicarakan tanpa saling menyalahkan. Bisa jadi solusi terbaik adalah mengurangi intensitasnya, mengajak rekan lain ikut bersama, atau memastikan pasangan mengetahui kondisi tersebut.
Jadi, apakah benar berikan tebengan pada lawan jenis memicu perselingkuhan?
Jawabannya, tidak selalu. Namun jika kerap dilakukan tentu bisa menjadi salah satu faktor yang membuka peluang jika disertai dengan hilangnya batasan dan berkembangnya kedekatan emosional.
Pada akhirnya, yang menentukan seseorang bisa berselingkuh bukan berapa kali seseorang duduk dalam satu mobil dengan lawan jenis, melainkan bagaimana ia menjaga komitmen, kejujuran, dan batasan dalam hubungannya.
Sebab, perselingkuhan tidak lahir dari satu perjalanan pulang bersama. Perselingkuhan lebih sering tumbuh dari serangkaian pilihan kecil yang membuat seseorang perlahan memberikan ruang emosional kepada orang lain, sementara ruang itu seharusnya tetap dijaga untuk pasangannya.
Dalam sebuah pernikahan, hal yang lebih berbahaya adalah ketika kejujuran satu sama lain mulai hilang, batasan mulai kabur, dan kedekatan emosional perlahan berpindah dari pasangan kepada orang lain.
“Tapi perlu kita ingat juga kalau tidak berbohong saja belum tentu cukup. Menyembunyikan informasi yang seharusnya diketahui pasangan juga bisa mengikis kepercayaan dan memicu masalah dalam hubungan.”
Hubungan yang kuat bukan dibangun dengan saling mengawasi setiap langkah pasangan, tetapi dengan komunikasi yang terbuka, komitmen yang dijaga, dan kepercayaan yang terus dipelihara setiap hari.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads










and then