Anak sudah memasuki masa liburan semester, sudah mulai pusing cari kegiatan apa belum, nih, MamPap?Membersamai anak liburan memang banyak tantangannya, ya. Terlebih lagi untuk kegiatan anak neurodivergent, baik itu ASD (autisme), ADHD, disleksia, maupun gangguan pemrosesan sensorik, musim liburan nyatanya juga bisa mendatangkan kecemasan tersendiri bagi kita.
Data dari Special Kids Expo (SPEKIX) dan BPS menunjukkan ada jutaan anak di Indonesia yang menyandang autisme dan ADHD. Artinya, tantangan yang Bunda rasakan saat ini juga dihadapi oleh jutaan orang tua lainnya. Di satu sisi kita ingin anak refreshing, tapi di sisi lain, hilangnya struktur sekolah dan paparan lingkungan baru yang serba mendadak sangat rentan membuat anak cemas, kewalahan secara sensorik, hingga memicu meltdown.
Menanggapi fenomena ini, Ries Sansani, Terapis Okupasi dan Lead Coach di Atelier of Minds, memberikan sudut pandang yang menenangkan untuk kita semua. Ia menyampaikan, “Libur sekolah bukan musuh anak neurodivergent. Yang menjadi tantangan adalah ketidaksiapan transisi. Ketika orang tua tahu bagaimana menciptakan struktur yang fleksibel dan lingkungan yang aman secara sensorik, liburan bisa menjadi waktu yang benar-benar bermakna untuk perkembangan anak.”
Kegiatan Anak Neurodivergent Saat Liburan
Nah, agar liburan kali ini menjadi ruang tumbuh yang aman dan minim stres bagi si kecil, yuk kita terapkan 6 tips praktis berikut ini:
1. Visualisasikan Jadwal Liburan (Bahasa Keamanan Otak Anak)
Jangan biarkan hari-hari libur anak kosong tanpa arah ya, MamPap. Sebelum liburan dimulai, ajak si kecil duduk bersama untuk membuat “Kalender Visual”. Gunakan gambar, warna, stiker, atau emoji untuk memberi tahu mereka apa aktivitas liburan yang akan dilakukan hari ini dan esok harinya.
Mengapa ini penting? Ries Sansani menjelaskan kalau visualisasi jadwal bukan sekadar alat bantu, ini adalah bahasa keamanan bagi otak anak neurodivergent. Ketika anak tahu apa yang akan terjadi, otak tidak perlu bekerja keras untuk ‘waspada’, sehingga energi bisa dialihkan untuk belajar dan bermain.”
2. Pertahankan Rutinitas Utama

Fleksibel dalam melakukan aktivitas liburan itu tentu saja boleh, tapi pastikan agar kita tetap konsisten menjaga tiga hal ini setiap hari. Mulai dari waktu bangun, waktu makan, dan waktu tidur. Memertahankan ritme ini, bahkan saat sedang liburan dan berpergian tetap perlu dilakukan, ini jadi kunci utama agar kestabilan emosi dan energi anak tidak goyah.
3. Siapkan “Peta Situasi” Sebelum Menuju Tempat Baru
Ingat, bagi neurodivergent kejutan mendadak bisa memicu kecemasan. Jika MamPap punya rencana mengajak si kecil ke mall baru, berkunjung ke rumah saudara, atau tempat wisata yang ramai, jangan lupa untuk memberitahukan dan mengambarkannya terlebih dahulu.
Misalnya dengan mengatakan, “Setelah makan siang, kita akan pergi ke rumah Tante. Di sana ada sepupu-sepupu dan kita akan nyanyi dan main musik bareng. Mari kita bicarakan apa yang mungkin bisa membantumu merasa nyaman di sana.” Cara ini membantu otak anak fokus untuk beradaptasi, bukan bereaksi panik.
4. Sediakan “Zona Regulasi” atau Sudut Tenang di Rumah
Ketika stimulasi di sekitar sudah terlalu bising atau ramai (sensory overload), anak butuh tempat untuk memulihkan diri. Siapkan satu sudut tenang di rumah yang dilengkapi dengan weighted blanket (selimut berbobot), pencahayaan yang lembut, atau noise-cancelling headphone.
5. Prioritaskan Gerak Fisik dan Eksplorasi Sensorik

Liburan panjang bukan berarti anak harus menghabiskan waktu di depan layar gadget. Berdasarkan meta-analisis terhadap 24 studi ilmiah terapi okupasi, terapi integrasi sensorik terbukti sangat efektif untuk anak dengan kebutuhan khusus. Bunda bisa mengajak si kecil bermain tanah liat (clay), memasak bareng, berenang, atau berkebun. Kuncinya sederhana: biarkan anak yang memimpin permainan, dan kita ikuti ritme mereka.
6. Pertimbangkan Program Pendampingan Inklusif Terstruktur
Agar momentum perkembangan yang sudah dibangun di sekolah tidak hilang begitu saja selama libur panjang, mendaftarkan anak ke program pengayaan inklusif bisa jadi pilihan bijak.
Salah satunya adalah program Summer Camp dari Atelier of Minds, sebuah inclusive student care and enrichment center di Jakarta Selatan. Program ini dirancang khusus untuk mendampingi berbagai profil belajar anak dalam ekosistem yang aman.
Ries Sansani menegaskan, “Kami tidak hanya ‘menjaga’ anak selama liburan. Kami merancang setiap hari dengan intensionalitas terapeutik, setiap aktivitas memiliki tujuan perkembangan yang spesifik, namun dikemas dalam pengalaman yang terasa seperti bermain dan eksplorasi bagi anak. Liburan yang bermakna adalah liburan yang membuat anak kembali ke sekolah dengan lebih siap, bukan lebih lelah,”
Pada akhirnya, liburan yang sukses bagi anak-anak neurodivergent bukanlah seberapa jauh atau mewahnya tempat yang kita kunjungi, melainkan seberapa aman dan tenangnya emosi mereka saat menjalaninya. Selamat mencoba tipsnya dan selamat menikmati momen kebersamaan momen liburan, ya, MamPap!
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.









and then