Dokter: Perasaan Overthinking Mama, Bisa Jadi Alarm yang Selamatkan Anak

Ma, pernah nggak merasa tiba-tiba gelisah tanpa alasan yang jelas saat anak sedang tidur atau bermain? Rasanya seperti ada yang mengganjal, meski secara logika semua terlihat baik-baik saja.

Bagi banyak orang tua, khususnya seorang ibu, momen ini sering berakhir dengan satu label yang sama, overthinking. Padahal, bagaimana jika itu bukan sekadar pikiran berlebihan, melainkan sinyal penting yang sering kita abaikan?

Di Antara Logika dan Insting

Di era media sosial, informasi parenting datang dari berbagai arah. Ada tips, mitos, hingga pengalaman orang lain bercampur jadi satu. Informasi ini datang dari para ekspert atau tenaga professional, namun tidak sedikit yang datang dari orang yang tidak memiliki capability. Akibatnya, ibu sering merasa bingung dan serba salah.

Ada kalanya ingin santai, tetapi takut melewatkan sesuatu. Sebaliknya, saat terlalu waspada, justru dianggap berlebihan.
Misalnya, ketika tiba-tiba merasa tidak tenang saat si kecil tidur. Setelah dicek, ternyata anak mulai rewel, tidurnya tidak pulas, atau muncul ruam kemerahan di kulitnya.

Situasi seperti ini sering memicu konflik batin:
“Ini serius nggak sih?”
“Apalah akunya yang terlalu overthinking?”

Dan di titik inilah banyak ibu memilih menenangkan diri, alih-alih menindaklanjuti. Dalam hal ini, dr. Ian Suteja selaku dokter spesialis anak mengatakan apa yang sering disebut overthinking itu justru memiliki makna penting dalam dunia medis.
“Ingat ya, dokter anak terbaik itu adalah ya bundanya sendiri,” ujarnya di salah satu konten edukasi yang diungahnya di TikTok pribadinya @iansuteja.


Pernyataan ini menegaskan bahwa ibu adalah pihak pertama yang paling peka terhadap perubahan sekecil apa pun pada anak. Bahkan sebelum gejala terlihat jelas secara klinis, sering kali ibu sudah lebih dulu “merasakan” ada yang berbeda.

Insting ini bukan sesuatu yang muncul tanpa dasar. Ia terbentuk dari kedekatan, pengamatan harian, dan koneksi emosional yang kuat antara ibu dan anak. Masalahnya, banyak gejala awal memang tampak samar. Tidak selalu dramatis, tidak selalu jelas.

Berikut beberapa tandanya:

  • Ruam ringan yang muncul tiba-tiba
    Anak lebih sering rewel
  • Gangguan pencernaan seperti muntah atau diare
  • Batuk pilek yang datang berulang

Sering kali, karena terlihat ringan, gejala ini sering dianggap “nanti juga hilang sendiri.” Padahal, bisa jadi itu adalah petunjuk awal kondisi tertentu termasuk alergi atau gangguan kesehatan lain yang perlu perhatian lebih lanjut.

Mengubah Rasa Khawatir Jadi Langkah Nyata

Kekhawatiran bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Justru, ia perlu diarahkan. Langkah penting yang sering terlewat adalah validasi. Artinya, mengubah perasaan yang masih berupa dugaan menjadi informasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Seperti yang disampaikan dr. Ian, “Penting bagi Bunda untuk tidak hanya mengandalkan asumsi, tapi juga melakukan langkah validasi.”

Validasi ini bisa dilakukan dengan cara sederhana, yaitu:

  • Mengamati pola gejala
  • Mencatat perubahan yang terjadi
  • Menggunakan alat bantu deteksi dini
  • Berkonsultasi dengan dokter anak

Dengan begitu, kekhawatiran tidak lagi terasa seperti beban emosional, tapi berubah menjadi data yang membantu proses diagnosis lebih cepat dan tepat.

Karena Tidak Semua “Overthinking” Itu Salah

Menjadi ibu memang sering dihadapkan pada keraguan. Tapi satu hal yang perlu diingat: tidak semua rasa khawatir adalah hal yang buruk.

Kadang, justru dari situlah perhatian dimulai. Kini, dengan hadirnya berbagai alat deteksi dini digital yang mengikuti panduan medis resmi, ibu juga punya cara yang lebih praktis untuk memastikan, bukan sekadar menduga.

Jadi saat muncul perasaan tidak tenang tentang kondisi si kecil, tidak perlu buru-buru menepisnya. Bisa jadi, itu bukan overthinking. Melainkan bentuk perlindungan paling awal yang hanya dimiliki oleh seorang ibu.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× seven = seventy