Jangan Abaikan Kekurangan Zat Besi pada Bayi, Ini Dampaknya

kekurangan zat besi pada bayi

Zat besi merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Namun, kekurangan zat besi pada bayi masih menjadi masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Kondisi ini bukan hanya berisiko menyebabkan anemia, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan otak anak.

Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A, Subsp.H.Onk.(K), dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hematologi Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa kebutuhan zat besi pada bayi tergolong tinggi karena berkaitan dengan pesatnya pertumbuhan pada awal kehidupan. “Usia seribu hari pertama kehidupan ini harusnya tidak ada bayi yang menderita anemia, khususnya defisiensi besi,” jelas Prof. Murti dalam paparannya.

Mengapa Zat Besi Penting pada Awal Kehidupan?

Zat besi berperan dalam pembentukan sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh. Selain itu, zat besi juga dibutuhkan untuk berbagai proses metabolisme, fungsi otot, daya tahan tubuh, dan perkembangan otak.

Pada 1.000 hari pertama kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan otak berlangsung sangat pesat. Karena itu, kebutuhan zat besi pada periode ini perlu diperhatikan agar proses tumbuh kembang anak dapat berlangsung optimal.

Read More

Menurut Prof. Murti, kekurangan zat besi yang terjadi pada usia bayi dapat menimbulkan dampak jangka panjang, khususnya terhadap perkembangan otak. Bahkan, normalnya kembali kadar hemoglobin dan cadangan zat besi setelah pengobatan tidak selalu berarti seluruh dampak yang telah terjadi dapat dipulihkan.

Hal ini menjadi alasan penting bagi orang tua untuk tidak menyepelekan risiko kekurangan zat besi, meskipun anak terlihat aktif dan tidak menunjukkan keluhan yang jelas.

Salah satu tantangan dalam mengenali defisiensi besi adalah gejalanya yang tidak selalu terlihat pada tahap awal. Sebelum berkembang menjadi anemia, tubuh dapat mengalami kekurangan cadangan zat besi, sementara kadar hemoglobin masih normal.

Pada tahap ini, anak mungkin masih terlihat sehat dan aktif. Padahal, cadangan zat besinya sudah berkurang dan perlu mendapat perhatian. “Pada tahap awal itu adalah hanya ferritin,” terang Prof. Murti, merujuk pada pemeriksaan yang dapat menunjukkan penurunan cadangan zat besi.

Ketika kekurangan zat besi berlanjut, pasokan zat besi untuk pembentukan sel darah merah dapat semakin berkurang hingga akhirnya menyebabkan anemia defisiensi besi.

Gejala anemia pada anak dapat berupa pucat, lemas, mudah rewel, dan gangguan konsentrasi. Namun, gejala tersebut tidak selalu mudah dikenali. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya mengandalkan penampilan atau tingkat aktivitas anak untuk menilai kecukupan zat besinya.

Perhatikan Asupan Zat Besi saat MPASI

kekurangan zat besi pada bayi, bayi makan

Saat bayi mulai mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI) pada usia enam bulan, orang tua perlu memperhatikan kecukupan zat besi dari makanan sehari-hari. Prof. Murti menjelaskan bahwa cadangan zat besi yang diperoleh bayi sejak dalam kandungan akan berkurang seiring bertambahnya usia. Pada saat yang sama, kebutuhan zat besi tetap tinggi untuk mendukung pertumbuhan.

Salah satu sumber zat besi yang dapat diberikan melalui MPASI adalah protein hewani, seperti daging merah dan hati. Orang tua dapat menyesuaikan pilihan makanan dengan usia, kemampuan makan, dan kebutuhan anak.

Selain memperhatikan asupan, riwayat kelahiran dan pola makan anak juga perlu menjadi perhatian. Bayi yang lahir prematur atau memiliki berat lahir rendah termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih terkait risiko kekurangan zat besi.

Kapan anak perlu diperiksa? Karena gejalanya bisa samar, pemeriksaan perlu dipertimbangkan apabila terdapat faktor risiko atau kecurigaan kekurangan zat besi. Dokter dapat melakukan penilaian berdasarkan riwayat kesehatan, pola makan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium sesuai kebutuhan.

Orang tua juga tidak disarankan memberikan suplemen zat besi secara rutin tanpa mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan anak. Pemberian suplementasi perlu mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan, terutama karena penanganan harus disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing anak.

Kecukupan zat besi bukan sekadar persoalan mencegah anemia. Ini merupakan bagian dari upaya mendukung tumbuh kembang anak sejak awal kehidupan. Dengan memperhatikan asupan nutrisi, mengenali faktor risiko, dan berkonsultasi dengan dokter bila diperlukan, orang tua dapat membantu memastikan kebutuhan zat besi si kecil terpenuhi.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine × one =