Kabar pencarian ruang perawatan intensif neonatal atau Neonatal Intensive Care Unit (NICU) untuk bayi berusia 24 hari ramai diperbincangkan di Threads. Dalam unggahan yang beredar, bayi diberi telur mentah oleh neneknya. Kejadian ini menjadi pengingat bagi orang tua dan pengasuh mengenai pentingnya memahami aturan pemberian makanan pada bayi, terutama yang masih berusia di bawah enam bulan.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), melalui pernyataan resmi IDAI menjelaskan bahwa pemberian makanan pada bayi harus memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan.
IDAI menegaskan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan merupakan rekomendasi utama. Sementara itu, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) perlu dilakukan pada waktu yang tepat dan disesuaikan dengan kesiapan bayi.
Selain itu, telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak karena berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna.
Bayi di Bawah 6 Bulan Tidak Memerlukan Makanan Tambahan
ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi. IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, kemudian melanjutkan pemberian ASI bersama MPASI hingga anak berusia dua tahun atau lebih.
Apabila pemberian ASI tidak memungkinkan atau terdapat indikasi medis tertentu, susu formula bayi dapat diberikan berdasarkan penilaian dan anjuran tenaga kesehatan.
Selama belum memasuki usia MPASI, bayi tidak memerlukan makanan atau minuman tambahan lainnya. Ini termasuk air putih, jus, kaldu, maupun bahan makanan yang diencerkan.
Dengan demikian, pemberian makanan kepada bayi tidak boleh hanya didasarkan pada kebiasaan keluarga atau anggapan bahwa makanan tertentu memiliki kandungan gizi yang baik. Usia dan kebutuhan bayi harus menjadi pertimbangan utama.
Kapan Bayi Boleh Mulai MPASI?
Menurut rekomendasi IDAI, MPASI secara umum mulai diberikan ketika bayi berusia enam bulan. Pada usia tersebut, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melampaui jumlah yang dapat dipenuhi oleh ASI saja.
Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak usia empat bulan atau 17 minggu. Namun, hal ini bukan rekomendasi rutin dan harus didasarkan pada penilaian dokter dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, serta kesiapan perkembangan bayi.
Pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan.
Ada beberapa tanda kesiapan perkembangan yang perlu diperhatikan sebelum bayi mulai menerima MPASI, yaitu:
- Mampu mempertahankan posisi kepala dan leher dengan stabil.
- Mampu duduk dengan bantuan dan mempertahankan posisi tubuh yang memadai.
- Menunjukkan koordinasi gerakan mulut dan kemampuan menelan makanan dengan tekstur yang sesuai.
- Menunjukkan ketertarikan terhadap makanan dan mulai mampu menerima makanan dari sendok.
Kesiapan bayi harus dinilai secara keseluruhan, bukan hanya berdasarkan satu tanda. Pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia dan kemampuan menelan dapat meningkatkan risiko tersedak, aspirasi, serta gangguan pemberian makan.
Pada bayi yang masih berusia 24 hari, pemberian makanan seperti telur, bubur, atau makanan lainnya jelas belum sesuai dengan tahapan pemberian makan yang direkomendasikan IDAI.
Bahaya Telur Mentah untuk Bayi, Waspada Salmonella
IDAI menegaskan bahwa telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena risiko keamanan pangan.
Telur mentah atau setengah matang dapat mengandung bakteri Salmonella, penyebab infeksi saluran cerna yang dikenal sebagai salmonelosis.
Infeksi ini dapat menimbulkan berbagai gejala, seperti:
- Diare.
- Demam.
- Nyeri perut.
- Muntah.
- Dehidrasi.
Pada bayi dan anak kecil, infeksi Salmonella dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.
Selain berisiko menyebabkan infeksi, telur mentah juga tidak memberikan keuntungan gizi yang membenarkan risiko pemberiannya kepada bayi. Karena itu, keamanan makanan harus selalu menjadi prioritas.
Orang tua dan pengasuh perlu memahami bahwa bahan makanan yang bergizi belum tentu aman diberikan dalam kondisi mentah atau pada usia yang belum sesuai.
Telur Matang Bisa Menjadi Sumber Protein MPASI
Telur sebenarnya merupakan salah satu sumber protein berkualitas tinggi yang mengandung berbagai zat gizi penting untuk mendukung pertumbuhan anak. Namun, cara pengolahan dan waktu pemberiannya perlu diperhatikan.
Telur dapat diperkenalkan sebagai salah satu bahan MPASI ketika bayi telah mencapai usia dan kesiapan untuk menerima makanan pendamping ASI. Telur harus dimasak hingga matang sempurna, dengan bagian putih dan kuning telur matang, serta disajikan dalam tekstur yang sesuai dengan kemampuan makan bayi.
Proses pemasakan yang tepat membantu meningkatkan keamanan pangan dan daya cerna protein telur.
IDAI juga menjelaskan bahwa pemberian telur tidak perlu ditunda hingga anak berusia satu tahun semata-mata untuk mencegah alergi, kecuali terdapat pertimbangan medis khusus.
Untuk hidangan berbahan telur yang tidak dimasak sempurna, IDAI merekomendasikan penggunaan telur yang telah dipasteurisasi sesuai standar keamanan pangan. Meski demikian, telur mentah atau setengah matang tetap bukan pilihan yang dianjurkan untuk bayi dan anak.
6 Imbauan IDAI untuk Orang Tua dan Pengasuh
Untuk memastikan pemberian makanan yang aman dan sesuai kebutuhan bayi, IDAI menyampaikan sejumlah rekomendasi bagi orang tua, pengasuh, dan masyarakat.
- Utamakan ASI eksklusif selama enam bulan pertama.
Apabila ASI tidak dapat diberikan atau terdapat indikasi medis tertentu, penggunaan susu formula bayi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.
- Mulai MPASI pada usia yang tepat.
Usia enam bulan merupakan waktu yang dianjurkan secara umum. MPASI sejak usia empat bulan hanya dapat dipertimbangkan dalam kondisi tertentu berdasarkan penilaian dokter dan kesiapan perkembangan bayi.
- Jangan memberikan makanan sebelum waktunya.
MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan. Hindari memberikan bubur, telur mentah, telur setengah matang, maupun makanan lain yang tidak sesuai dengan usia bayi.
- Pastikan telur dimasak hingga matang.
Hindari pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak. Pastikan bagian putih dan kuning telur matang sempurna.
- Jaga kebersihan dan keamanan pangan.
Cuci tangan serta peralatan makan sebelum digunakan, cegah kontaminasi silang, simpan telur dengan benar, dan hindari penggunaan telur yang retak atau rusak.
- Konsultasikan pemberian makan bayi kepada dokter.
Jika orang tua memiliki pertanyaan mengenai kecukupan ASI, waktu memulai MPASI, kesiapan bayi, atau pilihan makanan yang aman, konsultasikan dengan dokter agar pemberian nutrisi sesuai dengan kebutuhan anak.
Keselamatan Bayi Harus Menjadi Prioritas
Berita bayi diberi telur mentah yang ramai diperbincangkan di Threads ini menjadi pengingat bahwa pemberian makanan kepada bayi tidak bisa dilakukan sembarangan. Niat memberikan makanan bergizi perlu disertai pemahaman mengenai kebutuhan nutrisi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan.
IDAI menegaskan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan tetap menjadi rekomendasi utama. Pemberian MPASI lebih awal hanya dapat dipertimbangkan dalam kondisi tertentu berdasarkan penilaian medis, bukan sebagai anjuran umum.
Orang tua, kakek-nenek, pengasuh, dan seluruh anggota keluarga perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai makanan yang aman untuk bayi. Hindari memberikan makanan berdasarkan kebiasaan atau informasi yang belum jelas kebenarannya.
Pada akhirnya, setiap keputusan mengenai pemberian makanan harus mengutamakan keselamatan dan kesehatan anak. Jika masih ragu, konsultasikan dengan dokter agar kebutuhan nutrisi si kecil terpenuhi secara tepat dan aman.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.











and then