“Anak saya cuma mau makan makanan itu-itu saja.” Kalimat seperti ini mungkin sudah tidak asing bagi Mama yang punya anak usia 1–3 tahun. Di usia ini, si kecil memang bisa tiba-tiba menolak makanan yang sebelumnya disukai, hanya mau tekstur tertentu, atau bahkan menutup mulut ketika ditawari makanan.
Fase anak picky eater atau yang sering disebut Gerakan Tutup Mulut (GTM) memang cukup umum terjadi pada usia tersebut. Namun, bukan berarti kebutuhan nutrisi anak boleh ikut terabaikan.
Dokter Spesialis Anak, dr. Ria Yoanita, Sp.A, menjelaskan bahwa anak usia 1–3 tahun sedang berada dalam fase mengeksplorasi kemandiriannya. Salah satu bentuknya dapat terlihat dari preferensi terhadap makanan. “Umur segini memang sering terjadi picky eater karena sedang dalam fase mengeksplorasi kemandiriannya,” jelas dr. Ria.
Masalahnya, ketika pilihan makanan anak semakin terbatas, asupan beberapa nutrisi penting juga bisa ikut berkurang.
Anak Picky Eater Bisa Membuat Kebutuhan Nutrisi Tidak Terpenuhi
Anak yang hanya mau mengonsumsi beberapa jenis makanan berisiko mengalami nutrient gap, yaitu kesenjangan antara kebutuhan nutrisi dengan asupan yang didapatkan sehari-hari.
Beberapa zat gizi yang perlu menjadi perhatian antara lain zat besi, zinc, DHA, protein, serta vitamin dan mineral lainnya. Padahal, usia 1–3 tahun merupakan periode penting dalam perkembangan otak. Nutrisi yang cukup dibutuhkan untuk mendukung anak tetap aktif belajar, bermain, berkomunikasi, dan mengeksplorasi lingkungan.
Karena itu, ketika anak sedang susah makan, orang tua perlu melihat gambaran asupan secara keseluruhan, bukan hanya terpaku pada satu kali makan.
Ketika si kecil menolak makanan tertentu, bukan berarti ia tidak akan pernah menyukainya. Orang tua dapat mengenalkan kembali makanan tersebut secara bertahap dan tanpa memaksa.
Misalnya, jika anak hanya menyukai melon tetapi menolak alpukat, Mama bisa mencoba mencampurkan sedikit alpukat dengan makanan yang sudah familiar baginya. Tujuannya bukan membuat anak langsung menghabiskan makanan tersebut, tetapi membantu anak mengenal rasa dan tekstur baru.
Hal yang sama juga berlaku pada sumber protein. Jika anak menolak daging atau ayam suwir karena teksturnya sulit dikunyah, tekstur dapat disesuaikan dengan kemampuan anak. Daging bisa dicincang atau digiling, kemudian dibuat menjadi makanan yang lebih mudah dikonsumsi.
“Gigi yang belum lengkap memang membuat serat suwiran ayam itu susah dikunyah. Solusinya jangan disuwir, tapi digiling atau cincang halus,” kata dr. Ria.
Jadi, daripada memaksa anak menghabiskan makanan yang ditolak, lebih baik cari cara penyajian yang sesuai dengan kemampuan makan dan preferensinya.
Mencoba Strategi “Hidden Nutrients”
Salah satu strategi yang disebutkan dr. Ria untuk menghadapi picky eater adalah memanfaatkan hidden nutrients, yaitu menambahkan sumber nutrisi ke makanan yang memang sudah disukai anak.
Misalnya, menambahkan lemak sehat ke makanan, menggunakan telur atau ikan dalam olahan yang teksturnya lebih disukai anak, maupun membuat camilan dengan bahan bernutrisi seperti buah, yogurt, atau susu.
Namun, strategi ini tetap perlu dilakukan dengan memperhatikan pola makan yang seimbang. Jangan sampai satu bahan tambahan justru menggantikan variasi makanan yang seharusnya dikonsumsi anak.
Dalam kondisi ketika asupan makanan padat anak masih belum optimal, susu pertumbuhan yang telah difortifikasi dengan zat besi, DHA, omega-3, dan nutrisi lain juga disebut dapat menjadi salah satu pilihan untuk melengkapi kebutuhan nutrisi anak. Pemberiannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak dan tidak menggantikan makanan utama.
Selain memilih makanan, pola pemberian makan juga penting. Dr. Ria menyarankan orang tua menerapkan feeding rule dengan tiga prinsip utama, yaitu jadwal, lingkungan, dan prosedur.
Pertama, buat jadwal makan utama dan makanan selingan secara teratur. Waktu makan juga sebaiknya tidak berlangsung terlalu lama, dengan durasi maksimal sekitar 30 menit.
Kedua, ciptakan lingkungan makan yang menyenangkan dan minim distraksi. Matikan televisi, jauhkan gadget, dan hindari mainan ketika anak sedang makan.
Ketiga, berikan kesempatan kepada anak untuk makan sendiri. Orang tua dapat memberikan porsi kecil terlebih dahulu dan menawarkan kembali makanan secara netral ketika anak menolak. Hindari membujuk secara berlebihan atau memaksa.
Jika anak tetap menolak setelah beberapa waktu, proses makan dapat diakhiri dengan tenang dan dicoba kembali pada jadwal makan berikutnya.
Kapan Anak Picky Eater Perlu Diperhatikan Lebih Serius?
Picky eater memang dapat menjadi bagian dari fase perkembangan anak. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya.
Salah satu cara sederhana adalah rutin memantau kurva pertumbuhan di KMS atau kurva pertumbuhan WHO. Waspadai jika berat badan mengalami weight faltering, pertumbuhannya mendatar (flat growth), atau justru menurun (downward growth).
Selain itu, orang tua perlu memperhatikan tanda perkembangan yang tidak sesuai, misalnya anak minim kontak mata, tidak merespons ketika dipanggil, sulit memahami instruksi sederhana, tidak tertarik bermain pura-pura, atau mengalami regresi—yakni kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai.
“Kalau mama ragu jika tidak ada perbaikan signifikan setelah mama lakukan ini, maka mungkin baiknya konsultasi langsung ke dokter anak,” ujar dr. Ria.
Jadi, menghadapi anak picky eater bukan berarti Mama harus memenangkan “perang” di meja makan. Yang lebih penting adalah memastikan proses makan tetap positif sambil perlahan memperluas variasi makanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi si kecil.
Dengan nutrisi yang cukup, stimulasi yang sesuai, tidur yang baik, serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin, Mama bisa membantu si kecil tetap punya bekal yang optimal untuk belajar, bermain, dan mengeksplorasi dunia di sekitarnya.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then