ASI merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi. Karena itu, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan sangat dianjurkan. Namun, perjalanan menyusui setiap ibu bisa berbeda. Ada kalanya ibu menghadapi tantangan, seperti produksi ASI yang belum optimal atau bayi belum bisa menyusu secara efektif.
Dalam situasi seperti ini, bukan berarti ibu harus langsung memberikan susu formula atau menghentikan pemberian ASI. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan apakah bayi sudah mendapatkan asupan yang cukup untuk mendukung pertumbuhannya.
Salah satu cara mengetahuinya adalah dengan memantau berat badan dan pertumbuhan bayi secara berkala. Sebab, kenaikan berat badan yang tidak sesuai harapan bisa menjadi salah satu tanda bahwa ada sesuatu yang perlu dievaluasi. Lantas, kapan bayi perlu susu formula?
Pastikan Kebutuhan ASI Bayi Terpenuhi
Bayi baru lahir umumnya mengalami sedikit penurunan berat badan pada hari-hari pertama kehidupannya. Namun, berat badan biasanya akan kembali ke berat lahir dalam satu hingga dua minggu, kemudian meningkat mengikuti kurva pertumbuhan.
Jika berat badan bayi tidak bertambah sesuai harapan, stagnan, atau justru menurun, orang tua perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya. Kondisi ini bisa berkaitan dengan berbagai hal, termasuk kecukupan ASI, pelekatan saat menyusu, maupun kemampuan bayi mengisap ASI secara efektif.
Hal ini pernah ditemukan oleh dokter spesialis anak, dr. Agnes Tri Harjaningrum, Sp.A., saat memeriksa seorang bayi laki-laki berusia satu bulan 21 hari. Bayi tersebut lahir dengan berat 3,1 kg, tetapi saat diperiksa berat badannya justru turun menjadi 2,75 kg.
Berdasarkan pengukuran menggunakan standar pertumbuhan WHO, bayi tersebut masuk kategori berat badan sangat kurang dan mengalami wasting yang mendekati kondisi gizi buruk.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kecukupan ASI perlu diperhatikan, bukan hanya dari seberapa sering bayi menyusu, tetapi juga dari hasil pertumbuhannya. Jika ditemukan masalah, dokter perlu mengevaluasi kondisi bayi sekaligus proses menyusuinya.
Pada masa bayi, nutrisi memiliki peran besar dalam mendukung pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak. Sekitar 40 persen kebutuhan energi harian bayi digunakan oleh otak. Karena itu, periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi masa penting untuk memastikan kebutuhan nutrisi si kecil terpenuhi.
Ketika bayi tidak mendapatkan asupan yang cukup, pertumbuhan dan perkembangannya bisa ikut terdampak.
Dalam kasus yang ditemuinya, dr. Agnes mengingatkan bahwa masalah pertumbuhan bayi perlu segera ditangani. “Kalau nggak tumbuh gini, otaknya nggak berkembang. Kasihan,” ungkapnya dalam video edukasi yang diunggah melalui akun Instagram @meet.dr_agnes.
Karena itu, ketika berat badan bayi tidak bertambah sesuai harapan, orang tua sebaiknya tidak hanya menunggu. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah ada masalah pada proses menyusui atau faktor lain yang memengaruhi pertumbuhannya.
Kapan Susu Formula Bisa Menjadi Pilihan?

Lantas, bagaimana jika setelah dievaluasi ternyata ASI ibu belum mencukupi kebutuhan bayi? Menurut dr. Agnes, ASI donor dapat menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Namun, jika ASI donor tidak tersedia dan bayi membutuhkan tambahan asupan, susu formula bisa diberikan sementara berdasarkan indikasi medis. “Jadi mau nggak mau sementara dibantu susu formula,” jelasnya.
Penting dipahami bahwa pemberian susu formula dalam kondisi tersebut bukan berarti ASI harus dihentikan. ASI tetap diupayakan dengan membantu ibu meningkatkan produksi dan memperbaiki proses menyusui, sesuai kondisi yang ditemukan.
Agnes juga menegaskan bahwa pemberian susu formula tidak selalu harus berlangsung seterusnya. “Tapi ini bukan seterusnya ya. Nanti kalau ASI ibu sudah banyak, berat badannya sudah naik, kita akan balik lagi ke ASI ya,” ujarnya.
Artinya, susu formula dapat menjadi bantuan sementara ketika bayi memang membutuhkan tambahan nutrisi. Keputusan pemberiannya perlu disesuaikan dengan kondisi bayi dan hasil pemeriksaan dokter, bukan semata-mata karena berat badan belum naik.
Untuk memastikan kebutuhan nutrisi bayi terpenuhi, orang tua perlu rutin memantau berat dan panjang badan si kecil. Pemeriksaan bisa dilakukan di posyandu, puskesmas, atau dokter anak. Jangan lupa mencatat hasil pengukuran pada kurva pertumbuhan di Buku KIA.
Selain memantau berat badan, ibu juga bisa berkonsultasi mengenai proses menyusui, termasuk pelekatan dan efektivitas bayi saat mengisap ASI.
Jika ditemukan kendala, dokter dapat membantu mengevaluasi penyebabnya dan menentukan langkah yang sesuai. Bila ASI belum mencukupi, ibu juga bisa mendapatkan pendampingan untuk mendukung produksi ASI, sekaligus mempertimbangkan kebutuhan tambahan asupan bagi bayi.
Pada akhirnya, tujuan utama pemberian nutrisi adalah memastikan bayi tumbuh dan berkembang dengan optimal. ASI tetap menjadi pilihan terbaik, dan ketika ada kondisi medis yang membuat bayi membutuhkan tambahan nutrisi, bantuan tersebut bukan berarti ibu gagal dalam menyusui. Yang terpenting, ibu dan bayi mendapatkan dukungan serta penanganan yang tepat.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then