Salah satu pelajaran penting yang bisa mulai diajarkan sejak kecil pada anak adalah tentang zakat. Namun, masih banyak yang bingung perbedaan zakat fitrah dan zakat mal (maal). Yuk, pahami bersama supaya bisa menunaikannya dengan benar sekaligus mengajarkannya kepada anak.
Perbedaan Zakat Fitrah dan Zakat Mal
Dikutip dari laman Badan Amil Zakat Nasional atau Baznas, ada beberapa perbedaan antara zakat fitrah dan zakat mal. Apa saja?
Sebelum membahas perbedaannya, kenali terlebih dahulu masing-masing jenis zakat tersebut ya, MamPap.
Zakat fitrah sendiri merupakan zakat yang wajib dikeluarkan umat muslim menjelang Idul Fitri atau pada bulan suci Ramadan. Ketentuan besaran zakat fitrah yaitu setara dengan 3,5 liter atau 2,7 kilogram bahan makanan pokok.
Di Indonesia, zakat fitrah biasa dibayar dengan beras, disesuaikan dengan makanan pokok yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Zakat fitrah juga bisa digantikan dengan uang yang memiliki nilai sama dengan harga bahan makanan pokok.
Sedangkan zakat mal merupakan harta yang wajib dikeluarkan seorang muslim sesuai dengan yang dimilikinya.
Waktu untuk mengeluarkan zakat maal tidak dibatasi. Zakat maal meliputi simpanan kekayaan seperti uang, emas, penghasilan profesi, aset perdagangan dan lain sebagainya.
Perbedaan Keduanya
| Aspek | Zakat Fitrah | Zakat Mal |
| Waktu | Akhir Ramadan | Setelah 1 tahun kepemilikan |
| Bentuk | Makanan pokok/uang | Harta/kekayaan |
| Siapa yang wajib | Semua muslim | Hanya yang mencapai nisab |
| Tujuan | Menyucikan diri & bantu fakir | Membersihkan harta |
Apa Bedanya Zakat dengan Sedekah?
Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu untuk memberikan sebagian dari harta mereka kepada golongan yang berhak menerimanya, seperti fakir miskin, amil zakat, dan sebagainya.
Zakat juga memiliki aturan yang jelas dalam Islam, termasuk hitungannya, dan jenis-jenis harta yang dikenakan zakat.
Sedangkan, sedekah merupakan sumbangan sukarela dalam agama Islam, berbeda dengan zakat. Sedekah juga tidak diatur atau tidak memiliki kewajiban yang spesifik.
Sedekah juga dapat diberikan dalam bentuk apa pun, kepada siapa pun yang membutuhkan.
Cara Menghitung Zakat Mal
Ada beberapa ketentuan dan cara dalam menghitung zakat mal, yaitu:
- Mengidentifikasi harta yang wajib dizakatkan, termasuk uang tunai, tabungan, investasi, emas, dan lainnya. Catat semua aset yang Anda miliki.
- Menentukan batas nisab atau batas minimum harta yang harus dimiliki sebelum seornag muslim terkena kewajiban membayar zakat mal. Nisab ini bervariasi, tergantung pada nilai emas dan perak saat ini.
- Menghitung nilai harta bersih setelah menguranginya dengan semua utang dan kewajiban finansial lainnya. Nilai harta bersih ini yang wajib dizakatkan.
- Menghitung zakat dengan rumus. Biasanya, zakat mal dikenakan 2,5 persen dari nilai harta bersih. Artinya, seorang muslim akan membayar 2,5 persen dari total harta bersih sebagai zakat mal setiap tahunnya. Jadi, cara menghitung zakat mal dengan rumus:
Zakat mal = (Nilai Bersih Harta x 2,5 persen). Zakat mal dihitung dan dibayarkan setiap tahun berdasarkan nilai harta pada saat itu. Pastikan untuk melakukan perhitungan ini secara rutin.
Setelah menghitung jumlah zakat mal dan mengetahui kewajibannya, maka MamPap bisa segera membayarkannya atau menyalurkan kepada yang berhak menerimanya.
8 Golongan Penerima Zakat
Menurut Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dikatakan bahwa 8 golongan yang berhak menerima zakat juga disebutkan dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 60:
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah Ayat 60)
Seperti yang dijelaskan, 8 golongan tersebut meliputi:
- Fakir, seseorang yang tidak memiliki sumber penghasilan apapun yang disebabkan oleh masalah berat, seperti sakit.
- Miskin, yaitu seseorang yang memiliki sumber penghasilan, namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
- Amil, yaitu orang yang menyalurkan zakat.
- Mualaf, yaitu orang yang baru memeluk agama Islam untuk merasakan solidaritas.
- Riqab atau biasa disebut sebagai hamba sahaya.
- Gharim atau gharimin, yaitu orang yang memiliki utang dan kesulitan melunasinya.
- Fiisabilillah, yaitu pejuang agama Islam.
- Ibnu sabil, yaitu orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan jauh.
Cara Ajarkan Anak Tentang Konsep Zakat dan Manfaatnya untuk Anak
Zakat merupakan salah satu rukun Islam. Karena itu, perlu dipahami sejak dini oleh anak-anak. Dengan menggunakan pendekatan yang tepat, si kecil bisa diajarkan tentang nilai berbagi dan mengembangkan sikap peduli terhadap orang lain.
Berikut beberapa cara yang bisa MamPap terapkan untuk mengajarkan konsep zakat kepada si kecil:
- Ajak anak saat membayar zakat. Biarkan anak melihat prosesnya, misalnya saat menyiapkan beras atau mentransfer dan menyerahkan zakat.
- Gunakan celengan untuk “berbagi”. Pisahkan celengan tabungan untuk anak jajan dan berbagi.
- Ceritakan melalui kisah, seperti cerita sederhana yang menggambarkan tindakan berbagi.
- Latih anak berbagi mainan atau makanan, mulai dari hal kecil supaya anak terbiasa. MamPap bisa mengajak mereka berbagi mainan, buku, atau makanan dengan teman atau tetangga yang membutuhkan.
- Manfaatkan berbagai media edukasi untuk mengenalkan zakat pada anak-anak. Pilih materi yang sesuai dengan usia anak dan mudah dipahami si kecil.
Setelah mengetahui beda zakat fitrah dan zakat mal, kita jadi bisa menunaikan zakat dengan cara yang tepat. Zakat bukan hanya soal kewajiban agama, tapi juga cara kita mendidik hati anak agar tumbuh penuh empati.
Content Writer Parentsquads










and then