Ma, membersamai anak yang sudah masuk fase remaja memang penuh kejutan, ya? Salah satu sering bikin orang tua ikut was-was pada anak remaja perempuan merasakan nyeri haid.
Melihat anak kesakitan tentu bikin khawatir. Berbagai pertanyaan pun bisa muncul, “Apakah nyeri menstruasi ini masih normal? Apakah ini jadi gejala adanya gangguan medis? Apa yang salah? Apa yang harus saya lakukan untuk membantu mengatasi rasa nyeri menstruasi anak saya?”
Dalam sesi diskusi “My First Period, My First Confidence” yang digagas Beurer Indonesia, dr. Fita Maulina, Sp.OG mengatakan bahwa dalam istilah medis, nyeri haid yang dirasakan anak remaja perempuan Mama dikenal dengan sebagai dismenore.
Di awal diskusi, dr, Fita menjelaskan bahwa menstruasi sendiri merupakan kondisi luruhnya atau keluarnya darah dari dalam Rahim, karena tidak terjadinya pembuahan. Jadi yang luruh itu adalah dinding rahim, umumnya menstrusi ini pada saat memasuk usia 12 tahun atau 13 tahun. “Tetapi memang bisa bervariasi, ya. Ada yang lebih cepat ada juga yang lebih lambat. Ini dipengaruhi beberapa faktor seperti nutrisi, lingkungan, dan genetik.”
Nyeri Menstrusi Bisa Jadi Salah Satu Gangguan Menstruasi
Lebih lanjut dr. Fita mengatakan bahwa menstruasi dikatakan normal apabila siklus menstruasi terjadi antara 21 hari hingga 35 hari. Sementara untuk durasi lamanya, bisa sekitar 5 hari sampai 7 hari.
Bagaimana dengan ganguan menstruasi? dr. Fita menjelaskan ada beberapa tanda menstruasi dikatakan sudah tidak normal. Apa saja?
- Menstrusi terjadi dua kali dalam sebulan
- Sering ganti pembalut, dalam sehari bisa lebih dari 5 kali
- Menstruasi berlangung lebih dari 10 hari
- Nyeri menstruasi yang mengganggu
- Perut membesar
- Dalam sebulan tidak menstruasi
“Tanda adanya gangguan menstruasi ini cukup beragam, salah satunya durasi menstruasi yang panjang dan volumenya yang banyak hingga harus sering ganti pembalut. Misalnya harus ganti pembalut 30 menit sampai 1 jam sekali. Merasa nyeri menstruasi yang sudah sangat mengganggu, menstruasi memanjang kalau sampai 15 hari apalagi 20 hari karena ini berisiko membuat anemia.”
Rasa Nyeri Menstruasi, Mengapa Ini Terjadi?

Bayangkan rahim adalah sebuah otot kecil yang sangat kuat. Setiap bulan, rahim menyiapkan “tempat tidur” yang nyaman berupa lapisan dinding rahim untuk menyambut kemungkinan kehamilan. Ketika kehamilan tidak terjadi, rahim harus membuang lapisan ini. Untuk melakukan itu, tubuh melepaskan zat bernama prostaglandin. Zat ini bertugas memerintahkan otot rahim untuk berkontraksi atau meremas. Masalahnya, pada sebagian remaja, tubuh mereka memproduksi prostaglandin dalam jumlah yang cukup tinggi.
Hasilnya? Remasan yang terlalu kuat. Remasan ini sempat menghentikan aliran darah dan oksigen ke jaringan otot rahim untuk sementara, dan itulah yang mengirimkan sinyal nyeri ke otak. Nah, kadar prostaglandin yang tinggi inilah yang menjadi alasan utama mengapa nyeri haid di tahun-tahun pertama remaja seringkali terasa lebih intens dibandingkan saat mereka dewasa nanti.
Sayangnya, nyeri menstruasi yang dirasakan terkadang tidak hanya sebatas kram perut saja, nyeri menstruasi ini seringkali datang membawa serta ‘teman-temannyal. Misalnya, keluhan pada pencernaan, rasa kelelahan, pusing atau sakit kepala.
Sebagai orang tua, tugas kita bukan hanya memberikan obat apalagi Painkiller untuk membantu meredekan menstruasi tersebut. Terkait dengan pemberian pain killer, dr. Fita mengingatkan efek samping yang bisa muncul di kemudian hari.
“Kalau kita memberikan painkiller pada anak saat merasakan nyeri menstruasi, maka anak juga bisa menganggap kalau nyeri itu tidak normal. Padahal nyeri menstruasi itu bisa dianggap normal selama tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Artinya kalau anak tidak merasakan kram yang menggangu, jadi tidak bisa sekolah, beraktvitas normal, misalnya sampai tidak bisa bangun dari tidur, ini sebaiknya mulai dipertimbangkan untuk diperiksa ke dokter kandungan.
Dengan begitu bisa diketahui apakah ada permasalahan seperti kista, miom, adenomiosis, polip, atau PCOS atau yang lain. Baru setelah itu bisa diputuskan apakah perlu konsumsi obat. Obatnya ini juga tidak selalu yang mengandung hormonal. Painkiller juga tidak boleh selalu dikonsumsi setiap hari. Kenapa? Soalnya, nanti bisa berakibat membuat ambang nyeri anak semakin rendah. Kalau ternyata masalahnya hanya karena nyeri biasa, bukan suatu penyakit nanti dosis alhasil dosis anak malah bisa naik terus.”

Terkait pemeriksaan penyebab nyeri menstruasi, dimulai dari pemeriksaan fisik yang bisa dilihat dari kondisi mata yang bisa memperlihatkan kondisi anemia atau tidak, dr. Fita juga menekankan pemeriksaan secara genekologi yang dibutuhkan akan berbeda antara anak perempuan (yang masih gadis) atau perempuan yang sudah menikah. Di mana, pemeriksaan perempuan yang sudah menikah bisa dilakukan lewat vagina menggunakan spekulum atau yang lebih sering disebut cocor bebek.
Bantu Atasi Nyeri Menstruasi, Ini yang Bisa Dilakukan:
1. Validasi Perasaannya
Kalimat seperti “Dulu Mama juga begini, nanti juga hilang” mungkin maksudnya menenangkan, tapi bagi anak yang sedang kesakitan, itu terdengar seperti meremehkan. Cobalah ganti dengan: “Mama tahu ini sakit sekali. Ayo kita coba buat kamu merasa lebih nyaman.”
2. Pastikan Asupan Nutrisi Terpenuhi
Untuk membantu mengatasi atau meringankan gangguan menstruasi pada anak remaja ada beberapa hal yang bisa Mama dilakukan. Paling Utama adalah memastikan nutrisi anak lengkap dan tercukupi. “Selain memastikan nutrisinya juga bisa ditambahkan dengan Vitamin D. Banyak juga nih orang tua yang tanya berapa sih, dosis yang tepat? Nah untuk kebutuhan harian, mulai rutin memberikan dari yang rendah dulu aja, 400 karena itu yang harus dikonsumsi setiap hari. Dengan mengonsumsi Vitamin D bisa membantu kerja syaraf dan otot dan meningkatkan daya imunitas tubuh. Namun selain itu, didapati vitamin D dapat menghambat proliferasi sel berlebihan dan meningkatkan kemampuan tubuh dalam menghentikan proses berjalannya gangguan kromosomal pada potensi kanker,” papar dr. Fita.
3. Keajaiban Kehangatan untuk Bantu Atasi Nyeri Menstruasi
Ini adalah cara kuno yang tetap cukup efektif. Mama bisa memanfaatkan botol air hangat atau heating pad di area perut bawahnya. Panas membantu melebarkan pembuluh darah dan merelaksasi otot yang kaku. Studi menemukan bahwa kompres tepat pada perut yang kram dengan total 4 jam sehari akan meredakan rasa nyeri dan mengurangi nyeri menstruasi.
5. Manfaatkan Beurer Menstrual Relax
Salah satu upaya membantu mengurangi nyeri menstrusi, Mama bisa memanfaatkan Beurer Menstrual Relax (seri EM 50 dan EM 55), produk ini merupakan inovasi medis yang dirancang khusus untuk meredakan nyeri menstruasi, termasuk rasa tidak nyaman yang diakibatkan endometriosis tanpa ketergantungan pada obat-obatan.

Aria Verdin, selaku Managing Dirertur PT. Beurer Healthcar and Being Indonesia menjelaskan kalau lat ini bekerja dengan menggabungkan teknologi TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation) yang efektif memblokir sinyal nyeri ke otak dan fitur pemanas terintegrasi untuk merelaksasi otot rahim yang kram. Dengan pendekatan non-farmakologi ini, pengguna dapat mengatasi rasa nyeri menstruasi secara lebih alami namun tetap efektif melalui stimulasi saraf dan terapi panas yang menenangkan.
Dari segi kenyamanan, perangkat ini memiliki desain yang sangat fleksibel dan portabel sehingga dapat menempel dengan sempurna mengikuti lekuk perut maupun punggung. Pengguna memiliki kendali penuh untuk menyesuaikan tingkat intensitas panas dan stimulasi listrik sesuai dengan ambang nyeri yang dirasakan. Karena bentuknya yang praktis dan tidak mencolok saat dikenakan di balik pakaian, alat ini menjadi solusi ideal bagi mereka yang tetap ingin beraktivitas dengan nyaman tanpa terganggu oleh kram perut yang hebat.
4. Ajak Anak untuk Olahraga Rutin
Salah satu hal penting untuk dilakukan adalah memastikan anak untuk melakukan aktivitas fisik setiap hari. Ajak anak berjalan santai di sekitar rumah atau melakukan yoga ringan. Olahraga melepaskan endorfin, hormon “bahagia” alami tubuh yang berfungsi sebagai pereda nyeri. Pastikan juga dia tidak kekurangan cairan; dehidrasi bisa membuat kram otot terasa jauh lebih buruk. Intinya, lifestyle, nutrisi genetik bisa memengaruhi ganggaun hormone,” tukas dr. Fita.
5. Batasi Gula, Garam dan Makanan Siap Saji
Coba cek, berapa banyak asupan gula dan garam yang dikonsumsi setiap hari. Terlebih lagi makanan siap saji. “Makanan siap saji, termasuk makana yang tinggi gula dan garam, menjadi salah satu penyebab meningkatnya karsinogenik dalam tubuh, termasuk risiko penyakit metabolic dan menurunkan kemampuan tubuh dalam menyerap nutrisi dari makanan sehari-hari yang dikonsumsi.
Momen nyeri haid ini sebenarnya adalah kesempatan emas bagi kita sebagai orang tua untuk membangun kepercayaan dengan anak. Dengan menunjukkan bahwa kita peduli, tidak menghakimi, dan siap membantu, kita sedang mengajarinya cara mencintai dan merawat tubuhnya sendiri.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads









and then