Bukan Kekurangan! Ini Cara Menggali Bakat Terpendam Anak dengan Neurodiversitas Termasuk Autisme

anak dengan autisme

Tidak bisa dipungkiri, ya, selama ini banyak yang memandang atau terjebak dengan anggapan kalau anak dengan autisme merupakan ‘gangguan’  yang harus disembuhkan atau diperbaiki. Fokus utama biasanya langsung tertuju bagaimana caranya membuat anak autisme berperilaku layaknya anak-anak pada umumnya yang dianggap normal.

Namun, paradigma modern kini bergeser ke arah Neuro-afirming, sebuah pendekatan yang memandang autisme bukan sebagai kerusakan, melainkan sebagai variasi cara kerja otak yang unik atau neurodiversitas.

Perubahan cara pandang ini tentu saja sangat penting. Dengan demikian, alih-alih mencoba untuk ‘memperbaiki’ anak, tugas kita sebagai orang tua dan masyarakat tentu saja bisa memahami kebutuhan mereka agar potensi besar yang tersembunyi bisa tergali secara optimal.

Hal inilah yang menjadi sorotan pemting dalam sesi Diskusi Media “Memahami Neurodiversity dan Peran Orang Tua dalam Mendukung Anak” yang diselenggarakan oleh Atelier of Minds di Kawasan Pondok Indah.

Pentingnya Memahami ‘Bahasa’ Anak dengan Autisme Melalui Okupasi Terapi

Perlu dipahami lebih dulu, pendekatan neuro-afirming mulai dinilai sebagai solusi yang lebih sehat bagi perkembangan anak dengan autisms. Pendekatan ini tidak memaksa anak untuk menyesuaikan diri, melainkan mendukung mereka berkembang sesuai cara kerja otak masing-masing.

Pendekatan inilah yang diterapkan Atelier of Minds. After-school care dan enrichment center inklusif yang terletak di Kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan ini menilai bahwa rasa aman bagi anak neurodivergent harus dilihat dari perspektif kesehatan yang lebih luas, termasuk bagaimana lingkungan memengaruhi regulasi emosi, stres, hingga perkembangan sosial anak.

Dalam proses memahami anak, peran terapi bukan lagi untuk memaksa anak menjadi “normal”, melainkan untuk membantu mereka meregulasi diri dan berinteraksi dengan dunia sesuai kapasitas mereka. Ries Sansani, seorang Occupational Therapist sekaligus Lead Coach di Atelier of Minds, menekankan pentingnya bagi orang tua untuk melihat melampaui perilaku permukaan. Menurutnya, pemahaman mendalam terhadap kondisi anak menjadi kunci utama sebelum kita bicara soal menemukan potensi anak.

“Penting bagi kita untuk memahami bahwa perilaku anak adalah bentuk komunikasi. Tugas kita di Atelier of Minds adalah membantu anak meregulasi sistem sensorik dan emosional mereka terlebih dahulu. Ketika anak merasa aman dan dipahami, barulah pintu menuju kreativitas dan bakat mereka akan terbuka lebar,” ungkap Ries Sansani.

Ia menekankan, bagi anak neurodivergent, sekolah tidak otomatis menjadi tempat aman hanya karena tidak ada perundungan secara fisik. Rasa aman muncul ketika anak dapat menjadi dirinya sendiri tanpa takut disalahpahami. Dalam perspektif Occupational Therapy, regulasi emosi anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan mendukung kebutuhan sensori mereka.

“Ketika anak dipaksa ‘menyesuaikan diri’ melalui pendekatan disiplin yang kaku tanpa memahami kebutuhan sensori dan regulasinya, hal tersebut justru dapat meningkatkan stres dan disregulasi. Kebutuhan sensori yang terpenuhi dapat membentuk regulasi diri yang baik serta mengembangkan Functional Emotional Development Capacity, yaitu kapasitas perkembangan emosional yang memungkinkan anak merasa aman dan percaya ketika membangun hubungan dengan orang lain, serta secara bertahap mengembangkan kontrol emosi dan perilaku yang lebih adaptif,” tambah Ries.

Atelier of Minds: Ekosistem Aman yang Mendukung Tumbuh Kembang Anak Neurodivergent

anak dengan autisme

Berbeda dengan knilik psikologi, Atelier of Minds hadir sebagai ruang nyata atau “studio” bagi anak-anak neurodivergent untuk mengeksplorasi minat mereka. Lembaga ini menjadi pionir dalam mendorong pendidikan inklusif di Indonesia yang benar-benar memanusiakan keunikan individu. Selain itu, semua anak dengan autism tentu saja memiliki cara belajar yang unik dan sangat personal sesuai dengan kebutuhan anak. Atelier of Minds juga mengedepankan konsep yang sangat homey.

Atelier of Minds hadir untuk membantu anak-anak neurodivergent menemukan bakatnya. Tujuannya adalah memberikan ruang aman di mana mereka bisa berkarya tanpa takut dihakimi karena perbedaan cara mereka memproses dunia. Ini juga sejalan dengan terbitnya Permendikdasmen No. 6/2026 tentang “Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman”, yang membuat pendekatan terhadap kesejahteraan dan kebutuhan anak semakin berkembang.

Melalui kolaborasi antara pelatih ahli dan lingkungan yang suportif, anak-anak didorong untuk mengasah ketajaman fokus dan bakat artistik atau teknis mereka, yang sering kali jauh melampaui rata-rata.

Fokus pada Kekuatan, Bukan Kekurangan

Atelier of Minds berkolaborasi dengan Agape Psychology, klinik psikologi berbasis di Singapura yang telah berpengalaman lebih dari satu dekade dalam praktik pendidikan iJeremy Ang, Principal Clinical Psychologist dari Agape Psychology Singapura, memberikan pandangan klinis yang mengedepankan penerimaan terhadap profil neurodivergent anak.

Jeremy Ang, Clinical Director Agape Psychology, pendekatan yang hanya berfokus pada “memperbaiki defisit” sering kali justru mengabaikan kelebihan unik yang dimiliki anak autisme. Itulah mengapa pendekatan neuro-afirming sangat dibutuhkan karena tidak hanya berdampak pada kenyamanan belajar, tetapi juga kesehatan mental anak dalam jangka panjang.

“Neurodiversitas adalah perbedaan, bukan kekurangan. Ketika kita mengubah cara pandang dari ‘memperbaiki anak’ menjadi ‘memahami anak’, kita membuka potensi terbaik mereka. Autisme  bukanlah sebuah kondisi yang harus dihilangkan, melainkan profil kognitif yang berbeda,” paparnya.

Di Agape Psychology, kami mendorong orang tua untuk beralih dari model medis yang fokus pada ‘apa yang salah’ ke model sosial yang fokus pada ‘apa yang bisa didukung’. Dengan memahami profil kekuatan anak, kita bisa membangun rasa percaya diri mereka yang sempat hilang karena tekanan lingkungan.

Sementara, Donny Eryastha selaku Co-Founder Atelier of Minds, menegaskan bahwa Atelier of Minds dibangun dari keyakinan sederhana, bahwa setiap anak dengan autisme berhak mendapatkan lingkungan yang tepat untuk berkembang. Bukan sekadar membuka fasilitas baru, tetapi mendorong perubahan pendekatan pendidikan di Indonesia yang lebih inklusif dan berempati di Indonesia.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixty five + = 73