Pandemi COVID-19 telah menciptakan masa kecil yang berbeda bagi banyak anak. Namun, saat sebagian anak menghabiskan masa kecilnya di rumah, Saira justru menemukan cinta pertamanya di dunia olahraga, yaitu sepatu roda. Bagaimana perjalanan anak perempuan bernama lengkap Naysila Saira Azzahra Irfani ini hingga menjadi salah satu atlet sepatu roda cilik kebanggaan Indonesia?
Awal Mula Cinta pada Sepatu Roda

Ketika usianya hampir enam tahun, Saira memulai perjalanannya setelah melihat anak-anak berlatih inline skate saat Car Free Day di kawasan SCBD. “Itu apa, Bunda?” tanyanya polos. Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Sang Ibu, Kania Anandita, pun menjelaskan, dan sejak saat itu, Saira langsung jatuh cinta pada sepatu roda. Ia bahkan meminta dibelikan saat ulang tahunnya yang ke-6. Tapi ibunya menetapkan satu syarat, yaitu kalau benar-benar suka harus belajar dengan serius.
Akhirnya, Saira pun bergabung ke klub Funskate Club Jakarta, dan sejak hari pertama unboxing sepatu rodanya, ia serius berlatih. “Saya bilang ke Saira, kalau kamu memang suka, kamu harus latihan serius sama pelatih klub. Gak bisa setengah-setengah.”
Dan benar saja, ketika hari ulang tahunnya tiba, Saira langsung bergabung dengan klub. Saira pun mulai latihan serius di bawah bimbingan pelatih.
Tak berhenti di satu cabang, dua tahun kemudian, Saira mulai berlatih short track ice skating di klub J-1ST, cabang olahraga yang masih jarang peminatnya di Indonesia. “Di situ belum banyak bibit atlet kecil,” kata Kania. “Makanya, kita coba mulai dari kecil.”
Short track adalah bentuk ice skating kecepatan tinggi di lintasan pendek, mirip dengan inline speed skating, hanya saja dilakukan di atas es. Kini, Saira menekuni dua cabang sekaligus: inline speed skating dan short track ice skating.
Dukungan Keluarga dan Manajemen Waktu

Latihan Saira tidak main-main, empat kali seminggu. Sabtu sore dan Minggu pagi bahkan jadi waktu latihan tetap. Ini tentu mengubah ritme kehidupan keluarga. Tapi orang tua Saira dengan bijak menyesuaikan. Kegiatan keluarga dilakukan di sekitar jadwal latihan, bahkan kadang diselipkan setelah latihan di lokasi sekitar.
Setiap perjalanan menuju latihan pun dimanfaatkan untuk tidur siang di mobil, mengingat padatnya aktivitas. Asupan protein dijaga ketat, jam tidur teratur, semua demi menjaga performa dan kesehatan Saira. “Tidur itu wajib. Biar capek latihan, tapi jangan sampai jadi sakit. Kesehatan tetap nomor satu,” kata sang ibu.
Seiring bertambah usia, tantangan tak hanya datang dari fisik tapi juga mental. Saat masih kecil, Saira tampil tanpa beban. Namun setelah menginjak usia 9 tahun, ia mulai mengenali siapa lawannya, siapa yang sering juara, dan tekanan mulai muncul.
Saat anak kalah lomba, Kania memilih memberi pelukan dan validasi lebih dulu, bukan evaluasi. “Bunda ngerti kamu sedih. Gak apa-apa nangis aja, sini peluk bunda. Kalau anak kalah, jangan kita yang pertama menekan karena anak sudah cukup terbebani.”
Setelah anak lebih tenang, barulah evaluasi dilakukan bersama, dengan pendekatan lembut dan membangun kepercayaan diri anak kembali.
Pendekatannya sederhana tapi mendalam: “Yang penting kamu main maksimal, Bunda sudah senang.” Evaluasi dilakukan belakangan, setelah emosinya reda. Ini adalah pelajaran penting dalam membesarkan atlet muda, bangun mental yang sehat, bukan beban berlebihan.
Deretan Prestasi yang Menginspirasi
Saira mulai mengikuti lomba setahun setelah mulai latihan. Pada 2023, ia meraih medali emas di Kejuaraan Pelajar DKI. Bahkan, ia dinobatkan sebagai MVP atau pemain terbaik. Pada 2024 dan 2025, Saira menambah cabang prestasinya lewat short track ice skating dan meraih emas di kejuaraan nasional untuk beberapa nomor: 222m, 333m, dan 500m.
Dalam waktu singkat, Saira mengukir banyak prestasi, antara lain:
- 2023: Medali emas di Kejuaraan Antar Pelajar DKI (kategori standar, 200m, 500m, dan 1800m relay), serta menyabet gelar MVP.
- 2024: Naik ke kategori speed skating dan mulai mengikuti kejuaraan lebih menantang. Sempat hanya tembus semifinal dan final, tapi terus berkembang.
- Lomba di Malaysia (Kajang): Membawa pulang tiga medali emas dan pengalaman podium internasional pertamanya, lengkap dengan mengibarkan bendera Merah Putih.
- Playpro Skate National Marathon 1 December 2024 (at Jakarta International ePrix Circuit (Formula-E), Ancol) . Pertama kalinya mengikuti lomba jarak jauh, finish di posisi ke-6 (Marathon 10.000 M) dan mendapatkan medali perunggu di Drag Race 200M.
- Short Track Ice Skating pada 2024 & 2025: Menyabet emas di Kejurnas untuk tiga nomor: 222m, 333m, dan 500m.
“Waktu dia bawa bendera Indonesia di podium di Malaysia, itu momen yang sangat membanggakan,” ungkap Kania.
Dampak Positif untuk Pendidikan dan Karakter
Menurut sang ibu, Saira menunjukkan perubahan positif sejak menekuni olahraga ini. “Saira lebih fokus dan tekun dalam belajar, bahkan kemampuan berhitungnya juga berkembang, karena sering diminta pelatihnya untuk mengukur waktu dan jarak.”
Kania juga mengungkapkan bahwa Saira juga jadi lebih disiplin dan sportif, ”Bagi kami, orang tua Saira, olahraga ini bukan hanya soal mengejar medali. Tapi investasi jangka panjang, baik secara karakter maupun peluang akademik.”
Investasi jangka panjang yang dimaksud sang ibu antara lain, Saira mendapat sertifikat lomba, yang bisa menjadi nilai plus untuk masuk sekolah atau kampus favorit. “Banyak atlet DKI yang berhasil masuk ke UI, UNJ, dan ITB melalui jalur prestasi,” ujar Kania.
Tak hanya untuk masuk universitas, manfaat lainnya juga bisa dirasakan dalam dunia kerja, pengalaman sebagai atlet dinilai positif karena menunjukkan kedisiplinan, daya tahan, dan mental kompetitif.
Harapan dan Pesan untuk Orang Tua
Harapan terbesar sang ibu sederhana, “Saira tetap rajin, tekun, dan sabar. Karena pada akhirnya, yang berhasil adalah mereka yang paling konsisten. Hingga akhirnya tercapai impian Saira menjadi Juara Olimpiade Dunia di bidanng Inline Speed and Short Track Speed Ice Skate.”
Kania juga menekankan pentingnya kesabaran untuk orang tua yang ingin anaknya berkembang di bidang olahraga. Banyak orang tua yang menyerah karena hasil belum terlihat. Padahal, di balik anak-anak yang berhasil, selalu ada proses panjang dan konsistensi yang tidak semua orang lihat. “Kuncinya sabar, jangan buru-buru pengen lihat hasil. Proses itu panjang. Lomba hanyalah bagian kecil. Menang atau kalah, semua bagian dari belajar.”










and then