Screen time saat ini sudah seperti ‘budaya’, hadir secara umum di setiap aktivitas sehari-hari, tidak terbatas pada orang dewasa, tapi juga anak-anak. Jika tidak dibatasi dan awasi, screen time berlebih bisa berdampak negatif. Ini solusi kurangi screen time anak dari Loluna untuk anak Indonesia.
Screen Time yang Aman untuk Anak
Mayo Clinic Health System mengatakan, rata-rata waktu yang dihabiskan seseorang di depan layar antara 7-10 jam. Untuk anak-anak dan remaja, American Academy of Pediatrics merekomendasikan batas screen time yang dapat diterima adalah sebagai berikut:
- Anak di bawah 2 tahun → Tidak ada screen time. Di usia ini, si kecil jauh lebih baik berinteraksi dan bermain dengan orangtua, saudara kandung, atau anak-anak dan orang dewasa lainnya.
- Anak usia 2-12 tahun → 1 jam saja per hari. Anak usia 2 tahun akan lebih baik jika menggunakan screen time-nya dengan aneka program musik, gerakan, dan cerita.
- Remaja dan dewasa → 2 jam per hari
Secara spesifik, American Academy of Child and Adolescent Psychiatry menjelaskan, orangtua dapat membatasi atau kurangi screen time pada anak dengan aturan ini:
- Anak usia 2-5 tahun, batasi screen time yang tidak berkaitan dengan pendidikan antara 1 jam di hari kerja dan 3 jam di akhir pekan.
- Anak usia 6 tahun ke atas, screen time dilakukan bersamaan saat melakukan kebiasaan sehat, seperti olahraga.
- Matikan gadget saat bepergian dan makan –baik itu sendiri atau bersama keluarga.
- Lengkapi gadget anak dengan aplikasi Parental Control.
- Jangan gunakan gadget sebagai ‘empeng’ atau ‘pengasuh’ untuk mengatasi tantrum atau menemani anak.
- Screen time terakhir haruslah 30-60 menit sebelum tidur.
Dampak Screen Time Terlalu Lama
Sama halnya dengan orang dewasa, lamanya screen time juga dapat memberikan dampak negatif yang sama pada anak-anak, loh. Seperti obesitas, jadwal tidur yang terganggu, juga bagaimana anak membangun relasi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Bahkan beberapa penelitian menyebutkan, seperti pada laman Mayo Clinic yang lain, bahwa terlalu banyak screen time dan paparan rutin terhadap program berkualitas buruk dikaitkan dengan:
- Masalah perilaku
- Keterlambatan perkembangan bahasa dan keterampilan sosial
- Kekerasan
- Kurangnya fokus atau konsentrasi
- Waktu belajar yang lebih sedikit
- Peningkatan kecemasan dan depresi
Tips Kurangi Screen Time Anak
Mayo Clinic memberikan 6 tips agar ibu bisa membantu si kecil kurangi screen time, terutama saat anak sedang tidak bersekolah:
-
- Tetapkan tujuan anak menggunakan gadget, dan jelaskan tujuan tersebut pada anak agar ia juga memiliki tanggung jawab yang sesuai ekspektasi Anda saat menggunakan gadget.
- Tetapkan batasan berapa lama anak bisa menghabiskan waktunya di depan layar – termasuk menonton TV, dan disiplinlah mengenai batasan waktu ini.
- Dampingi anak selama screen time. Ini bagian dari pengawasan Anda sebagai orangtua, sekaligus Anda mencari tahu minat anak dari tayangan-tayangan yang ditontonnya.
- Simpan perangkat di luar waktu screen jauh dari jangkauan anak agar tidak menarik perhatiannya.
- Buat zona bebas ponsel di rumah, seperti ruang makan misalnya. Lumayan bisa meminimalisir screen time, terutama di jam makan.
- Bermain di luar! Bermain di luar tentunya akan jauh lebih asik kalau tanpa gadget. Ajak anak bermain di halaman atau taman dekat rumah. Minta ia membawa bola, karet, atau raketnya. Bermain di luar ruangan membantu meningkatkan hormon endorfin si kecil. Dengan begitu perasaan bahagia di otak anak juga akan meningkat, suasana hatinya akan membaik, dan itu semua akan serta-merta meningkatkan kesehatan fisik anak juga.
Loluna Renovasi Taman sebagai Solusi Anak Kurangi Screen Time
Banyak orangtua yang menjadikan kurangnya atau terbatasnya ruang bermain anak sebagai alasan untuk tidak membatasi screen time anak. Ya, faktanya memang begitu, 9 dari 10 kota di Indonesia dikategorikan tidak ramah anak karena taman dan ruang bermain terbuka anak yang sangat kurang. Kalaupun ada, umumnya 70 persen fasilitas di dalamnya tidak layak pakai.
“Bagi orangtua, mengajak anak bermain di luar rumah adalah cara efektif mengurangi screen time sekaligus mendukung tumbuh kembangnya. Tapi bagaimana kalau fasilitasnya tidak ada atau tidak layak? Di sinilah kami ingin membantu. Akses terhadap ruang bermain adalah #HakSemuaAnak, bukan kemewahan,” kata Bianca Belnadia, Co-Founder Loluna.
Alih-alih menyalahkan pihak lain, pendiri para Loluna Baby Skincare, yakni Bianca Belnadia, Faldo Arsanda, dan Gary Nelson, mengambil langkah besar dengan merenovasi taman bermain di beberapa wilayah di Indonesia sebagai solusi kurangi screen time pada anak. Di mana dana renovasi tersebut diambil dari sebagian profit yang didapat dari penjualan produk-produknya.
Sebagai awal, Loluna memilih TK Islam Al Abror, Ciracas, Jakarta Timur. Sekolah ini ternyata sudah berdiri 45 tahun, dan selama itu pula taman bermainnya tidak pernah mengalami peremajaan atau renovasi.
“Kami memilih sekolah yang dekat dengan pemukiman warga dan terbuka dari pagi hingga sore. Sekolah ini tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga pusat kegiatan masyarakat, termasuk pembelajaran Alquran, dan dimanfaatkan pula oleh warga non-siswa untuk bermain. Dengan dukungan pihak sekolah untuk perawatan fasilitas, kami berharap taman ini tetap layak dan aman digunakan selama bertahun-tahun,” kata Anggit Hernowo, Co-Founder & COO Benihbaik.com, platform filantropi (penggagas Andy F. Noya) yang digandeng Loluna untuk memastikan program ini berkelanjutan
Kini taman bermain TK Islam Al Abror sudah jauh lebih menarik, aman, edukatif, juga inklusif. Dan iya, taman ini tidak hanya bisa dinikmati siswa-siswi TK Islam Al Abror, tapi juga seluruh anak-anak yang tinggal di dekat sekolah tersebut.
“Anak-anak adalah warga kota yang berhak berjalan, bermain, dan belajar di lingkungan yang aman, edukatif, dan inklusif. Melalui kolaborasi lintas pihak, kita menghadirkan taman bermain yang memberi kesempatan sama bagi semua anak. Ini langkah kecil yang berarti untuk mengurangi kesenjangan sosial,” ujar Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan.
Veronica sangat mendukung kegiatan ini. Menurutnya, apa yang dilakukan Loluna sejalan dengan salah satu Agenda Global 2030 Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dalam hal Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) –terkhusus seperti yang tertuang pada nomor 4 (Quality Education) dan 10 (Reduced Inequalities).
Kalau MamPap, apa yang Anda lakukan untuk kurangi screen time anak?
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then