Ibu dan Anak Banyak Jadi Korban, Begini Kondisi Banjir Sumatra dari IDAI

banjir sumatra
Sumber: BBC.com

Situasi darurat bencana yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, seperti banjir Sumatra Utara, Sumatra Barat, Aceh, hingga korban erupsi Semeru Jawa Timur, membuat kita turut prihatin atas musibah yang dialami saudara kita. 

Sebagai lembaga perlindungan kesehatan anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas musibah banjir yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat. 

“Kami sangat mengapresiasi para ketua dan seluruh anggota IDAI Cabang dan juga tim satgas bencana IDAI di wilayah terdampak bencana yang sigap berkolaborasi dengan BNPB, dinas kesehatan, TNI/Polri, dan relawan untuk memastikan bantuan kesehatan tepat sasaran. Padahal ada juga para dokter spesialis anak yang rumah dan keluarganya menjadi korban terdampak, namun mereka tetap tanpa lelah membantu masyarakat korban lainnya,” ungkap DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia dalam seminar media secara daring bersama IDAI Senin (1/12). 

IDAI Sorot Kelompok yang Rentan 

Semua bencana yang cukup besar ini tentunya memakan korban. Terlebih bagi kelompok anak-anak, lansia, kaum difabel, terutama ibu hamil, menjadi kelompok yang paling rentan di tengah bencana ini. Dr. Piprim menegaskan bahwa kelompok paling rentan harus lebih diperhatikan dalam situasi darurat seperti ini. “Kesehatan dan keselamatan mereka harus menjadi prioritas utama dalam proses evakuasi ke tempat yang aman,” ungkap Dr. Piprim. 

Dalam menanggapi bencana hidrometeorologi (banjir dan longsor) ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat juga telah bergerak cepat memberikan layanan kesehatan, dukungan psikososial, dan bantuan logistik yang terfokus pada perlindungan anak-anak dan kelompok yang rentan. 

Gambaran Dampak Bencana Banjir Sumatra 

Berdasarkan data terpadu dari ketiga cabang IDAI hingga 1 Desember 2025, berikut adalah gambaran situasi wilayah yang terdampak bencana banjir Sumatra November 2025: 

1. Korban Jiwa (Anak & Dewasa)

  • Sumatera Barat: 148 meninggal dunia dengan 4 diantaranya adalah anak-anak (123 teridentifikasi, 25 belum), 105 hilang, 8 dirawat.
  • Sumatera Utara: Data dari laporan menunjukkan puluhan korban meninggal dan ratusan terdampak di berbagai kabupaten seperti Sibolga, Tapanuli, Langkat, dan Binjai.
  • Aceh: Fokus pada gangguan akses dan layanan kesehatan di wilayah seperti Pidie Jaya, dengan korban jiwa yang dilaporkan oleh pihak berwenang setempat.

2. Wilayah Terdampak Parah & Terisolasi

  • Sumbar: Kota Padang, Solok, Padang Pariaman, Agam (khususnya Palembayan dan Lubuk Basung), serta Pasaman Barat.
  • Sumut: Sibolga, Tapanuli Tengah, Pandan, Sipirok, Binjai, Langkat, dan beberapa titik di Medan.
  • Aceh: Pidie Jaya, Aceh Utara-Lhokseumawe, serta beberapa kabupaten lainnya yang mengalami putusnya akses jalan dan jembatan.

3. Kondisi Umum Lapangan

  • Akses transportasi sangat terbatas (hanya bisa dilewati sepeda motor atau jalan kaki), jalan rusak, jembatan putus.
  • Listrik padam dan sinyal komunikasi terputus di banyak lokasi.
  • Kekurangan air bersih, makanan, pakaian layak pakai, dan obat-obatan.
  • Fasilitas kesehatan, seperti RSUD Pidie Jaya, mengalami keterbatasan operasional karena tenaga kesehatan tidak bisa masuk.

Bantuan yang Telah Dilakukan IDAI

banjir sumatra, kondisi banjir sumatra
Sumber: BBC.com

Beberapa bantuan dan respon dari pihak IDAI telah dilakukan, beberapa di antaranya: 

1. Layanan Kesehatan dan Bantuan Langsung

Tim dokter spesialis anak dari ketiga cabang IDAI (Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat) telah turun langsung ke lokasi bencana, berkolaborasi dengan BNPB, Dinas Kesehatan setempat, dan organisasi profesi lainnya.

2. Pelayanan Kesehatan Anak & Pengobatan Gratis

IDAI cabang menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis bagi anak-anak dan korban prioritas terdampak di beberapa wilayah, seperti:  

  • Sumatera Utara: 

Di Binjai (KM 41B), telah dilakukan pemeriksaan sebanyak 66 anak. Kasus terbanyak adalah mengalami ISPA, yaitu 37 kasus, diare 18 kasus, serta infeksi kulit seperti tinea & dermatitis. 

Sementara itu di Langkat (KM 55), telah diperiksa 125 anak. Kasus serupa didominasi ISPA 55 kasus dan infeksi kulit 58 kasus. Di Medan Barat, telah diperiksa 54 anak dengan mayoritas ISPA sebanyak 43 kasus.

  • Sumatera Barat:

Telah dilakukan skrining tumbuh kembang di Padang sebanyak 47 anak, ditemukan juga 1 kasus speech delay. Selain itu, IDAI cabang juga melayani pengobatan di Kota Padang dan Kota Pariaman.

  • Aceh:

Pihak IDAI telah mengirim Tim EMT (Emergency Medical Team) ke Pidie Jaya untuk memperkuat layanan RSUD setempat dan melakukan mobile clinic. Selain itu, IDAI juga telah memberikan layanan kesehatan di posko pengungsian, seperti di Mesjid Agung Bireuen.

Dukungan Psikososial dan Non-Kesehatan

Selain bantuan pelayanan kesehatan, pihak IDAI juga mengirim bantuan dukungan psikososial dan non-kesehatan, seperti membagikan air bersih, makanan siap santap, sembako, pakaian, selimut, dan perlengkapan kebersihan seperti sabun dan pembalut wanita.

Berkolaborasi dengan AIMI, IDAI juga membuat dan mendistribusikan MPASI serta makanan balita ke berbagai posko di Padang hingga ratusan porsi.

Selain itu, tidak lupa dengan bantuan psikososial, seperti kegiatan trauma healing untuk anak-anak di pengungsian, seperti di Kecamatan Nanggalo, Padang.

Pihak IDAI juga telah menyiapkan tim psikologi anak untuk mendukung kelanjutan proses belajar anak.

Kendala yang Dihadapi di Lapangan

Untuk menjangkau dan mengirimkan bantuan korban terdampak, tentu tidak semulus jalan tol ya, MamPap. Masih ada beberapa kendala yang dihadapi tim relawan yang perlu diatasi, beberapa di antaranya: 

  1. Kekurangan Obat-obatan. Terutama untuk ISPA, diare, dermatitis, antibiotik (sirup, drop, salep), serta alat bantu pemberian obat (sendok obat, air untuk melarutkan).
  2. Keterbatasan Logistik: Kebutuhan akan makanan pokok, makanan bayi, air minum, air bersih, susu formula, pakaian layak pakai, selimut, perlengkapan untuk kebersihan diri, dan bahan bakar untuk transportasi relawan.
  3. Akses yang Sulit: Banyak wilayah terisolir sehingga bantuan sulit terjangkau. Evakuasi dan distribusi bantuan masih mengandalkan sepeda motor atau jalan kaki.
  4. Kebutuhan Tenaga Kesehatan: Diperlukan lebih banyak dokter umum dan tenaga kesehatan (nakes) di posko-posko pengungsian.
  5. Ancaman Kesehatan Lingkungan: Potensi wabah penyakit seperti diare, ISPA, dan penyakit kulit masih tinggi akibat kondisi pengungsian yang padat dan sanitasi buruk.

Ketua Satgas Penanggulangan Bencana IDAI, Dr Kurniawan Taufiq Kadafi, M. Biomed, Sp.A, Subsp.E.T.I.A(K) menyampaikan, mereka terus memperkuat koordinasi untuk respons jangka menengah dengan memperluas jangkauan yakni mengirim lebih banyak tim relawan dan bantuan ke kabupaten/kota terdampak lainnya yang belum terjangkau, memperkuat posko komando (seperti Pos HEOC di Sumbar) untuk koordinasi data dan distribusi bantuan yang lebih efektif. 

Selain itu, juga bersiap untuk fase pemulihan dengan memprioritaskan kesehatan anak, penyediaan air bersih, pemantauan penyakit berbasis imunisasi (seperti campak), dan dukungan psikososial berkelanjutan.

Itulah beberapa gambaran kondisi terkini dampak dari bencana banjir Sumatra yang sangat memprihatinkan. Sebagai rasa kemanusiaan, Parentsquads juga menyampaikan turut prihatin kepada semua korban di wilayah yang terdampak banjir Sumatra. Semoga kondisi segera membaik, para saudara kita di daerah terdampak diberikan kesehatan dan keselamatan, serta bantuan dari semua masyarakat Indonesia melalui relawan dapat tersalurkan dengan baik.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× one = two