Bukan Hanya Soal Pola Asuh, Mood Buruk pada Anak Juga Dipengaruhi Kesehatan Saluran Cerna

kesehatan saluran cerna anak

MamPap, pernah tidak melihat si Kecil sering tantrum, mood-nya terlihat naik turun? Kondisi anak tantrum ini memang bisa bikin pusing, ya. Bahkan terkadang membuat kita sebagai orang tua menyalahkan diri sendiri. “Ah, mungkin salahku yang belum becus menerapkan pola asuh yang tepat,” atau perasaan seperti, “Mungkinkah anak saya memang belum bisa mengenali dan meregulasi emosinya?”

Adalah wajar ketika kita merasa bersalah dan mulai meninjau pola asuh yang kita lakukan, tapi penting untuk dipahami bahwa  tantrum dan perubahan mood yang diperlihatkan anak ternyata berhubungan erat dengan kesehatan saluran cerna anak.

kesehatan saluran cerna anak

Hal ini ditegaskan oleh DR. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A (K) di dalam acara Jumpa Pers “LACTOGROW – PlayWorld yang dilangsungkan belum lama ini di Jakarta. “Kadang ada, loh, anak yang sering terlihat nggak mood, termasuk saat bermain. Jadi saat main, temannya didorong, anaknya gampang kesal. Nah, kadang problem prilaku ini yang disalahkan adalah pola asuh orang tuanya. Padahal banyak yang tidak diketahui orang kalau mood dan perilaku anak itu juga dipengaruhi oleh kondisi kesehatan saluran cerna anak.”

Mungkin tidak sedikit yang bertanya-tanya, apa hubungannnya perilaku dengan kesehatan saluran cerna anak. Dalam hal ini, dokter spesialis anak Konsulen Gastroenterologi – Hepatologi di RS. Bunda ini menjelaskan bahwa dalam dunia medis istilah yang dikenal dengan sebutan gut-brain axis.  Gut-brain axis ini merupakan sistem komunikasi dua arah antara otak dan saluran cerna (usus) yang melibatkan sistem saraf pusat, sistem saraf enterik (yang berada di usus), hormon, sistem kekebalan tubuh, dan mikrobiota usus (bakteri baik di usus).

“Itulah mengapa usus disebut juga sebagai otak kedua, kenapa? Kerena bakteri-bakteri yang ada di usus itu memengaruhi otak yang di kepala. Pada saat perut kembung, perut jadi nggak happy, bisa bikin anak jadi tantrum, sering marah dan ngambek. Ketika hal ini terjadi anak akan sulit melakukan ativitasnya, termasuk saat bermain,” ujarnya.

Gut-Brain Axis: Jalur Komunikasi Antara Usus dan Otak

Lebih lanjut  DR. dr. Ariani menjelaskan bahwa gut-brain axis adalah sistem komunikasi dua arah antara saluran cerna dan otak yang melibatkan sistem saraf, hormon, dan sistem kekebalan tubuh. Melalui jalur ini, kondisi usus dapat memengaruhi fungsi otak, termasuk emosi dan perilaku. 

Ia mengatakan bahwa salah satu komponen penting dalam gut-brain axis adalah mikrobiota usus, yaitu triliunan mikroorganisme yang hidup di saluran cerna. Mikrobiota ini berperan dalam produksi neurotransmiter seperti serotonin dan GABA, yang memengaruhi suasana hati dan perilaku.

“Di dalam pencernaan itu kan ada bakteri baik yang jumlahnya sangat banyak, nah, kita sangat tergantung dengan bakteri tersebut. Jadi, yang memengaruhi apakah usus kita sehat atau tidak yang nantinya juga memengauhi perilaku adalah kesehatan saluran cerna. Saat anak makan sesuatu, nutrisi itu tentu akan masuk ke saluran pencernaan, ini dilakukan dan dibantu oleh bakteri di dalam saluran cerna. Apa jadinya saat kita makan sembarangan? Akibatnya saluran cerna tidak sehat dan bakteri baiknya berkurang, ini yang bisa terjadi pada anak.”

Menurut DR. dr. Ariani, saluran cerna yang  baik yaitu pada saat  saluran cerna mengadung bakteri baik yang cukup sehingga bakteri baik bisa membantu proses metobolisme dengan maksimal. 

Terjadi Gangguan Kesehatan Saluran Cerna Anak, Apa yang Perlu Dilakukan?

Sebuah studi yang dipublikasikan di Scientific Reports menemukan bahwa komposisi mikrobiota usus pada bayi dapat memengaruhi perkembangan perilaku mereka di kemudian hari. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketidakseimbangan mikrobiota usus (dysbiosis) dapat dikaitkan dengan gangguan perilaku dan emosi pada anak.

Faktanya, anak-anak khususnya di Indonesia memang  sangat rentan mengalami gangguan pencernaan, terutama diare. Data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 menunjukkan bahwa prevalensi diare pada balita mencapai 9,8%. 

Hal ini tentu saja perlu diwaspadai, sebab gangguan pencernaan yang diabaikan tidak hanya memengaruhi perilaku anak saja namun dapat berisiko mengganggu dan menghambat tumbuh kembang anak secara optimal. 

Kesehatan Saluran Cerna Anak
Dr. dr. Ariani Dewi Widodo Sp.A(K) (Dokter Spesialis Anak Ahli Gastro Hepatologi) menjelaskan menjaga kesehatan saluran pencernaan Si Kecil, salah satunya, dengan asupan probiotik seperti Lactobacillus reuteri

Untuk itulah DR. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A (K) mengingatkan apabila terjadi gangguan percernaan ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Apa saja?

  1. Berikan nutrisi yang yang mengandung probiotik agar kembali seimbang. karena harusnya probiotik itu 85 persen dari bakteri yang ada di dalam usus, 
  2. Lalu kita kasih pangan probiotik supaya probiotiknya ini tumbuh dengan baik, namanya prebiotik, prebiotik itu macam-macam jenisnya yang jelas dia serat pangan, contohnya salah satunya inulin,
  3. Jangan lupa untuk memberikan anak bahan makanan sehat. Hindari makanan yang tidak sehat seperti makanan dengan kandungan gula yang tinggi terutama sukrosa. Gula berlebih tidak hanya berdampak buruk bagi pencernaan, tetapi juga bisa meningkatkan risiko diabetes pada anak.

“Jadi kalau bisa berikan susu yang sangat rendah atau tanpa sukrosa. Sukrosa ini indeks glikemiknya itu tinggi sehingga itu yang menyebabkan gula darah akan gampang spiking ke atas, makanya kalau kita berikan jenis yang lain yang lebih aman contohnya laktosa, mungkin dia tidak terlalu menaikkan gula darah se ekstrim kalau kita memberikan sukrosa,” ujar DR. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A (K) 

Meskipun probiotik dibutuhkan untuk membantu saluran cerna anak, namun  DR. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A (K) juga menekankan bahwa tidak semua probiotik bagus dan sama, “Jadi harus hati-hati juga dalam memilih probiotik,” tukasnya. 

Sumber Probiotik yang Bisa Dikonsumsi Anak

kesehatan saluran cerna anak

Berikut adalah daftar sumber probiotik yang baik dan bermanfaat untuk kesehatan saluran cerna anak.

1. Yoghurt 

Sejak anak memasuki fase MPASI, yogurth bisa mulai dikenalkan. Namun, tentu saja dengan beberapa aturan yang perlu diperhatikan, misalnya hindari yogurth yang mengandung perasa, madu, terlebih lagi gula. 

Kandungan bakteri hidup seperti Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus, kadang juga Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium dapat membantu pencernaan laktosa, meningkatkan kesehatan usus, dan memperkuat daya tahan tubuh.

2. Produk Susu dengan Probiotik

Salah satu produk susu pertumbuhan yang dapat dikonsumsi adalah Lactogrow. Kandungan Lactobacillus reuteri DSM 17938, terbukti aman untuk bayi dan anak-anak. Sehingga bermanfaat menjaga keseimbangan mikrobiota usus, membantu mengurangi kolik, dan mendukung daya tahan tubuh anak. Selain itu, Lactogrow juga mengandung DHA yang mendukung perkembangan otak, serta 18 vitamin dan mineral penting untuk pertumbuhan anak .

3. Tempe 

Salah satu sumber probiotik yang dapat dikonsumsi adalah produk fermentasi lokal Indonesia seperti tempe. Selain kaya probiotik alami, tempe juga mengandung protein dan serat tinggi yang mendukung pencernaan.

Untuk itu, apabila MamPap melihat adanya gangguan kesehatan saluran cerna anak, jangan ragu untuk memberikan sumber makanan yang tepat, ya. Jika ingin memberikan suplemen tambahan, jangan lupa untuk melakukan konsultasi lebih dulu ke dokter anak. Semoga informasi ini dapat bermanfaat!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixty nine ÷ = twenty three