Bukan Mengejar Karier, Ini Alasan Mama 2 Anak Ini Balik Kuliah S2

kuliah sambil mengurus anak

Ada saat-saat dalam hidup ketika Mama merasakan dorongan kuat untuk kembali belajar. Bukan karena sekadar ingin mengejar jabatan, bukan pula demi gengsi akademik. Melainkan karena ada “strong why” atau alasan terkuat yang tumbuh dari dalam seperti keinginan untuk memperluas diri, memelihara mimpi yang sempat ditunda, dan menghadirkan versi terbaik seorang ibu bagi keluarganya.

Kembali ke bangku kuliah bukanlah petualangan yang mudah, apalagi ketika Mama sudah mengenakan dua topi sekaligus, yaitu seorang ibu dan pelajar. Namun, bagi Karinta Utami yang memilih menapaki jalan ini, ia menghadapi tantangan: membagi waktu antara tugas rumah tangga, tangis anak, dan tugas kuliah. Bagaimana Mama dua anak ini menjalani kuliah sambil mengurus anak?

Alasan Memutuskan untuk Kuliah Lagi 

kuliah sambil mengurus anak, ibu kuliah lagi
(instagram.com/Karintautami)

Mama Karinta, seorang lulusan Sarjana Teknik ITB, ia dikenal aktif di berbagai ruang pemberdayaan perempuan dan keluarga seperti Komunitas Hijabers Tasikmalaya, Ibu Profesional Tasikmalaya, dan Tasik Read Aloud. Aktivitasnya di komunitas bukan hanya hobi, tetapi juga cara ia memperluas energi baik kepada banyak perempuan dan ibu muda di sekitarnya.

Setelah lulus sarjana dari ITB, Mama Karinta sempat bekerja di bidang industri energi di Lampung. Namun hidup membawanya pada babak baru: pernikahan, pindah kota, dan kehadiran dua anak yang mengajarinya bentuk cinta paling holistik. Di tengah kesibukan sebagai ibu, ia menyadari bahwa hasrat belajarnya masih menyala.

Berawal dari kegelisahan dalam mencari sekolah untuk anak-anaknya, Mama Karinta kemudian menempuh jalur S2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar di UPI Tasikmalaya. Gap year selama 11 tahun untuk pendidikan formal, lalu kemudian lintas jurusan dari teknik ke ilmu pendidikan tak lantas menyurutkan langkahnya.

Mama Karinta memilih lintas jurusan untuk mendidik anak-anaknya. “Saya memilih jurusan ini bukan untuk menjalani profesi sebagai Guru SD, impian saya sebetulnya adalah membangun sebuah institusi non formal pendidikan yang bisa diakses dari rumah.” Katanya saat kami berbincang secara daring.

Alih-alih memadamkan mimpinya, Mama Karinta justru memilih untuk memeliharanya. Ia memahami bahwa belajar adalah perjalanan panjang, bukan fase yang berhenti ketika ia menikah atau punya anak. Bahwa dengan memperkaya diri, ia pun memperkaya rumahnya: cara berpikirnya, ruang diskusinya, dan kualitas hadirnya, sambil memeluk peran sebagai ibu dengan lebih sadar dan bermakna.

Perjalanan S2 sebagai Ibu, Kuliah Sambil Mengurus Anak

kuliah sambil mengurus anak, karinta utami
Karinta memilih lintas jurusan untuk mendidik anak-anaknya. (instagram.com/Karintautami)

Ada hari saat Mama Karinta mengikuti kelas daring sambil menggendong, menyuapi, bahkan menemani si kecil mandi. Momen-momen multitasking itulah yang justru menguatkan tekadnya. Strong why yang ia pegang erat membuatnya tetap tegak, meski jadwal tak selalu ramah.

Saat harus hadir kuliah luring, prioritasnya tetap sama, yaitu memastikan kebutuhan anak terpenuhi. Ia menyusun jadwal makan, tidur, dan pengasuhan dengan detil yang matang, lalu mengomunikasikannya kepada keluarga di rumah dan suami agar semua berjalan selaras.

“Kalau soal tantangan, justru bagian terberat itu muncul saat mengerjakan tesis. Bukan karena peran sebagai ibu, tetapi karena latar belakang saya berbeda. Saya seorang IRT, sementara sebagian besar teman seangkatan adalah guru atau kepala sekolah, sehingga fokus tesis mereka otomatis terkait profesi.

Saya harus mencari topik yang tetap relevan dengan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, tetapi juga sesuai passion dan concern pribadi. Bahkan sempat diminta mengganti judul saat seminar proposal, sampai rasanya ingin menyerah. Akhirnya saya menemukan titik tengah, yaitu memilih topik tentang literasi keluarga pada anak usia SD, bidang yang memang dekat dengan ketertarikan saya di dunia read aloud.”

Di sela aktivitas itu, ia menemukan bahwa belajar membuat pikirannya kembali segar. Ia menemukan teman-teman baru, ruang diskusi baru, dan cara pandang baru terhadap dunia pendidikan dan pengasuhan serta tetap aktif menggerakkan komunitas yang selama ini tumbuh bersamanya.

Tips untuk Ibu yang Ingin Kuliah Lagi

Berikut adalah 3 hal utama yang harus diperhatikan dan dipersiapkan sebelum Mama kuliah lagi dari Mama Karinta:

1. Mengenal diri

Kenali diri dimulai dengan mencari tahu soal passion dan potensi diri, serta temukan strong why yang akan menjadi jangkar ketika Mama ingin sekolah lagi.

2. Menganalisis waktu dan sumber daya

  • Tentukan prioritas dalam hidup untuk bisa alokasi waktu.
  • Perhatikan kondisi finansial (berapa budget yang disepakati).
  • Analisis kondisi diri (cermati kondisi atau energi mana saja yang menjadi kekuatan dan kelemahan Mama).
  • Tuliskan segala konsekuensi yang mungkin hadir. Misalnya, apa yang harus dilakukan bila anak sakit saat harus menjalani ujian.

3. Memiliki support system yang baik

Alasan terbesar Mama Karinta memutuskan untuk kuliah lagi karena mendapatkan dukungan penuh—baik secara finansial maupun emosional—termasuk izin dari suami, berangkat dari satu prinsip: anak tetap menjadi prioritas. Karena itu, sepanjang perjalanan kuliahnya, anak-anak selalu menjadi poros setiap pilihan.

“Waktu itu kami LDR; suami bekerja di Sumatera Selatan dengan pola dua minggu di area, dua minggu pulang. Meski begitu, support-nya sangat terasa. Ia membantu banyak hal teknis, mulai dari mengajarkan cara sitasi, meminjamkan akun untuk aplikasi Mendeley, sampai jadi teman brainstorming tesis. Saya bahkan sering Zoom dengannya hanya untuk minta diajarin.=,” ujar Mama Karinta

Selain suami, orang tua dan bantuan di rumah juga sangat berperan. Saat Mama Karinta kuliah daring, kadang mereka turut membantu menemani anak-anak bermain, sehingga ia bisa fokus belajar. Dukungan keluarga sejak awal ini yang membuat proses kuliahnya jauh lebih ringan dan memungkinkan.

Support system biasanya terdiri dari: keluarga, izin suami dan prioritas anak. Hal itu bisa dibentuk dan diusahakan, bukan hanya ditunggu. Dan perlu diingat, ketika Mama kuliah lagi, yang berjuang bukan hanya Mama, tetapi satu keluarga.

 

Ketika seorang Mama memutuskan untuk kuliah lagi, ia sebenarnya sedang menulis ulang narasi hidupnya: bahwa perempuan tidak berhenti bertumbuh setelah menjadi ibu. Bahwa mimpi tidak memiliki batas usia. Dan bahwa belajar adalah cara seorang ibu menjaga dirinya tetap hidup, relevan, dan berdaya.

Karinta Utami membuktikan hal itu. Ia memperlihatkan bahwa seorang ibu dapat berdampingan dengan buku, anak, komunitas, dan cita-cita — tanpa harus memilih salah satunya. Karena sejatinya, ketika ibu tumbuh, keluarga pun ikut tumbuh.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + two =