11 Masalah Perilaku Anak yang Harus Diwaspadai Orang Tua dan Cara Menanganinya

masalah perilaku anak
Foto: Mheim3011/Getty Images

Setiap anak berbeda dan memiliki karakteristik perilaku yang unik. Namun, ketika perilaku anak bermasalah, orang tua perlu mencari tahu tentang kemungkinan masalah perilaku anak dan solusinya.

Memahami perilaku anak adalah kunci untuk mengasuh si kecil secara efektif. MamPap harus mengetahui tahap-tahap perkembangan yang umum untuk mengidentifikasi perilaku mana yang normal dan mana yang mungkin memerlukan perhatian. 

Simak ulasan tentang masalah perilaku pada anak, tanda dan gejalanya, serta kiat menanganinya secara efektif, dalam artikel berikut ini. 

Bagaimana Membedakan Perilaku Anak yang Normal dan Abnormal?

Pada dasarnya, tidak ada tolok ukur yang pasti untuk perilaku normal anak. Hal itu bergantung pada usia, kepribadian, pengaturan emosi, dan perkembangan anak serta lingkungan pengasuhannya.

Read More

Tanda Anak Berperilaku  Normal

Namun secara umum, perilaku anak dianggap normal jika sesuai secara sosial, perkembangan, dan budaya. Menurut American Academy of Pediatrics, kenormalan suatu perilaku juga ditentukan oleh latar belakang sosial budaya atau ekonomi anak, nilai-nilai keluarga, dan situasi di mana perilaku tersebut terjadi.

Jadi, dalam konteks tertentu, MamPap dapat menganggap perilaku anak normal meskipun tidak memenuhi harapan masyarakat atau budaya, asalkan sesuai dengan usia dan tidak berbahaya. Selain itu, perilaku tersebut dapat ditoleransi dalam situasi tertentu dan tidak menimbulkan bahaya apa pun. 

Tanda Anak Berperilaku Abnormal

Ada kalanya anak berperilaku buruk dan nakal yang membuat MamPap kerap ‘mengelus dada’. Sebenarnya, amukan, pertengkaran, dan teriakan anak sesekali bukanlah hal yang tidak normal. Namun, jika perilaku tersebut menjadi kejadian sehari-hari dan tidak dapat ditoleransi, hal tersebut perlu dikhawatirkan, dan anak mungkin memerlukan penanganan perilaku. 

Berikut beberapa tanda yang menunjukkan perilaku tidak normal pada anak, seperti dikutip dari laman Mom Junction.

  1. Anak tampak mengalami kesulitan mengelola emosinya. Mereka sering mengalami ledakan emosi, dan hal-hal kecil yang mengganggu anak.
  2. Tidak normal jika anak yang sudah berusia delapan tahun berperilaku impulsif dan menunjukkan perilaku destruktif, seperti memukul, melempar barang, berteriak, dan sebagainya. 
  3. Jika anak yang biasanya banyak bicara menjadi pendiam, membantah, dan tampak kasar tanpa alasan.
  4. Anak lebih sering berbohong, mencuri atau mengambil barang yang bukan miliknya, dan menjadi kebiasaan.
  5. Perilaku anak memengaruhi prestasi mereka di sekolah. Misalnya, anak Anda mungkin berkelahi, terlambat masuk kelas, atau bolos kelas.
  6. Pertengkaran dan perselisihan yang dialami anak berusia tujuh tahun dengan teman sebayanya menjadi masalah yang memengaruhi kehidupan sosialnya. Itu tidak normal.
  7. Tidak dapat fokus pada satu hal, gelisah, sangat malas, atau bingung.
  8. Terlibat dalam perilaku seksual yang tidak sesuai dengan usianya.
  9. Anak mulai mempertanyakan instruksi yang diberikan orang tuanya dan tidak menanggapi disiplin. Mereka mungkin menentang aturan hanya untuk menantang Anda.
  10. Tidaklah normal bagi anak-anak untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan hanya berpikir untuk menyakiti diri sendiri. Jadi, jika mereka menyakiti diri sendiri secara fisik dan memiliki kecenderungan bunuh diri, Anda harus khawatir.

Perlu diingat, bagian otak yang rasional belum berkembang pada anak-anak usia di bawah tiga tahun. Karena itu, perilaku anak di usia tersebut didorong oleh emosi mereka. Seiring bertambahnya usia, rasionalitas mereka akan meningkat, tetapi mereka masih membutuhkan dukungan dari orangtuanya dalam mengelola emosi, dan hal tersebut normal.

Namun, jika tindakan mereka menjadi sulit diatur, Anda harus memerhatikannya. Misalnya, jika anak-anak terlalu sering menjadi emosional, menyebabkan kerusakan, atau berperilaku kasar, hal itu mungkin menandakan adanya masalah perilaku anak.

11 Masalah Perilaku pada Anak yang Umum Terjadi

masalah perilaku anak, anak nakal
Foto: SilviaJansen/Getty Images Signature

Anak-anak biasanya melanggar aturan dan melawan norma untuk ‘menguji’ otoritas. Namun meskipun umum terjadi, beberapa masalah perilaku ini tetap membutuhkan perhatian dan ditangani dengan baik. 

1. Tidak Menghormati dan Membantah

Ketika anak Anda yang berusia tiga tahun membantah Anda, mungkin hal itu tampak lucu dan menggemaskan. Namun, ketika anak yang berusia tujuh tahun berteriak ‘tidak’ setiap kali Anda menyuruhnya melakukan sesuatu, hal itu dapat membuat Anda kesal. Jika tidak ditangani dengan tepat, membantah dapat menyebabkan pertengkaran antara orang tua dan anak.

Apa yang harus orang tua lakukan? 

  • Jika anak membantah, tetapi tetap mengikuti instruksi Anda, abaikan saja. Asalkan perilakunya tidak mengancam atau merusak.
  • Jika anak mengikuti instruksi, meskipun mereka membantah, hargailah karena mereka tetap melakukan apa yang Anda minta, meskipun mereka tidak mau. Anda kemudian dapat menjelaskan bahwa ia boleh saja marah, tetapi tidak berbicara kasar dan tidak sopan kepada orangtua.
  • Jika anak mengancam orang lain atau diri mereka sendiri, Anda perlu memerhatikan apa yang mereka katakan dan menanganinya dengan hati-hati.
  • Jangan menanggapi secara impulsif. Biarkan anak tenang dan kemudian beri tahu mereka dengan tenang tentang perilaku apa yang dapat diterima dan apa yang tidak.
  • Tetapkan batasan dan buat mereka sadar akan konsekuensinya. Namun, jangan mengancam. 
  • Mengajari anak-anak untuk merespons dengan cara yang lebih baik dapat membantu mereka mengembangkan kepercayaan diri yang lebih kuat, pengelolaan diri yang lebih baik, kesadaran diri yang lebih besar, serta keintiman dan kepercayaan keluarga. 

2. Berbicara Kasar

Anak-anak berteriak dan membentak saat mereka marah. Namun, jika mereka mulai mengumpat bahkan sebelum mereka berusia sepuluh tahun, Anda perlu khawatir. 

Mereka mungkin mulai berteriak atau menggunakan bahasa kasar untuk bertengkar dengan orang tuanya, atau sekadar mendapatkan apa yang mereka inginkan. Anak-anak juga seringkali kesulitan mengelola emosi seperti frustrasi atau marah, yang dapat menyebabkan mereka mengumpat. 

Apa yang harus dilakukan? 

  • Pastikan orang tua juga tidak menggunakan bahasa seperti itu di depan anak-anak. Ingat, anak sangat mudah meniru orang tuanya. 
  • Beri konsekuensi. Jelaskan konsekuensinya dengan jelas pada anak. Misalnya, jika anak Anda yang berusia sembilan tahun mengumpat atau berbicara kasar, mereka tidak boleh bermain gadget sama sekali selama seminggu. 
  • Jika anak yang berusia balita menggunakan bahasa kasar, segera tegur mereka. Beri tahu mereka bahwa itu adalah kata yang buruk, dan orang-orang tidak menyukai kata itu atau tidak ada anak-anak yang menggunakan kata itu.
  • Jika Anda tidak sengaja mengumpat atau menggunakan kata kasar di depan anak, segera minta maaf. Minta anak untuk mengingatkan Anda bahwa kata tersebut adalah kata yang buruk, jika Anda mengucapkannya di depan mereka.

3. Suka Berteriak

Balita, terutama yang berusia di bawah tiga tahun, tidak dapat mengekspresikan diri secara verbal. Sebaliknya, mereka cenderung menunjukkan kemarahan atau frustrasi mereka dengan berbagai cara, termasuk berteriak. 

Apa yang bisa dilakukan?

  • Jangan berteriak atau membalas teriakan mereka. Hal itu hanya menegaskan bahwa berteriak itu tidak apa-apa.
  • Ajari mereka untuk berbisik atau berbicara dengan tenang melalui permainan. 
  • Akui perasaan mereka dan bicaralah kepada mereka. Meskipun Anda mungkin tidak dapat berbicara dengan baik dengan anak berusia satu tahun, kata-kata dapat menenangkan anak, dan mereka mungkin akan berhenti berteriak.

4. Perilaku Agresif atau Kekerasan

Tak masalah jika melihat anak marah. Namun, jika kemarahan tersebut berubah menjadi kekerasan atau berubah menjadi perilaku agresif pada anak, itu adalah masalah. Gangguan suasana hati, psikosis, gangguan perilaku, trauma, impulsif, atau frustasi dapat menyebabkan agresi pada anak kecil. Terkadang, anak mungkin juga menggunakan kekerasan untuk membela diri.

Agresi pada anak juga bisa terjadi karena berbagai faktor. Bagaimana lingkungan di rumah atau bagaimana anak belajar bersikap kasar di sekolah. 

Apa yang harus dilakukan? 

  • Daripada meninggikan suara, turunkan nada suara Anda dan beri tahu mereka untuk tenang. Tunjukkan perasaan mereka dan berempati, tetapi tegaskan bahwa memukul, menendang, atau menggigit tidak diperbolehkan. Mama bisa katakan, “Ibu tahu kamu marah.” Namun, kita tidak boleh menggigit, memukul, atau menendang. Jangan memukul!”
  • Beri tahu mereka apa konsekuensinya jika mereka bersikap kasar. Jika Anda berhadapan dengan anak yang lebih kecil, beri tahu mereka apa yang dapat mereka lakukan sebagai gantinya. Berikan mereka alternatif. Misalnya, ajari mereka untuk menggunakan kata-kata dan frasa seperti “Aku marah,” atau “Aku tidak suka,” atau “Aku tidak senang dengan itu” saat mereka marah, alih-alih menggunakan kekerasan fisik.
  • Yang terpenting, jadilah panutan yang baik dan hindari memberi mereka hukuman fisik. Selain itu, berikan anak penghargaan atas perilaku positif dan tidak agresif.

5. Berbohong

Orang tua biasanya khawatir saat mereka memergoki anak berbohong. MamPap mungkin merasa dikhianati, terluka, dan bahkan bertanya-tanya apakah Anda dapat memercayai anak lagi. 

Apa yang bisa dilakukan?

  • Pikirkan dari sudut pandang anak Anda untuk memahami apa yang mendorong mereka untuk berbohong.
  • Anak-anak mungkin berbohong saat mereka takut. Hargai hal-hal positif daripada menghukum perilaku negatif karena mencegah keinginan anak Anda untuk berbohong.
  • Ajari mereka untuk jujur. Mulailah dengan mencontohkan. 
  • Berikan konsekuensi atas kebohongannya, daripada berdebat atau mendiskusikannya. Jadi, jika anak berbohong, mereka akan menghadapi konsekuensinya.

6. Perundungan

Perundungan atau bully adalah masalah serius yang dapat mengakibatkan kekerasan emosional dan fisik terhadap korban. Anak-anak cenderung menindas orang lain agar merasa berkuasa. ​​Ketika menghadapi perasaan menjadi sulit, anak-anak cenderung melakukan perundungan untuk memperbaiki keadaan. Jika Anda mendapati anak mem-bully orang lain, Anda harus segera bertindak.

Apa yang bisa dilakukan?

  • Ajarkan anak-anak sejak dini bahwa perundungan itu salah. Namun, yang lebih penting, jelaskan kepada mereka seperti apa perundungan itu dan berikan mereka contoh-contoh tentang apa yang dilakukan penindas. 
  • Waspadai tanda-tanda bully di rumah. Perhatikan apakah anak-anak yang lebih tua mencoba menindas yang lebih muda, dan segera perbaiki perilaku tersebut.

7. Manipulasi

Manipulasi itu sulit dan merupakan perilaku yang sangat melelahkan untuk ditangani. Anak yang manipulatif cenderung bertindak berlebihan, berbohong, atau menangis untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. 

Jika MamPap menyerah pada perilaku buruk anak-anak, anak Anda merasa dibenarkan. Misalnya, jika anak Anda mengamuk di depan umum karena ingin membeli permen dan Anda membelikannya, berarti mereka telah memanipulasi Anda. Sebagai orang dewasa, Anda harus dapat menghentikan pola tersebut dan berhenti terpengaruh oleh perilaku manipulatif anak. 

  • Bersikaplah tegas. Jelaskan bahwa Anda berkata ‘tidak’ berarti tidak. Anda dapat memberi mereka penjelasan singkat tentang alasan Anda. 
  • Cobalah untuk mendengarkan sisi argumen mereka selama anak tersebut bersikap hormat dan tidak kasar.

8. Ketidakpatuhan

Anak-anak mungkin menguji batasan dari waktu ke waktu dan menunjukkan ketidakpatuhan yang ekstrem sebagai cara untuk mengekspresikan kemandirian, individualitas, dan otonomi mereka. Penelitian menunjukkan bahwa ketidakpatuhan, agresi, eksternalisasi masalah, dan ketidakpatuhan di masa kanak-kanak merupakan pola yang relatif stabil yang memuncak pada masa remaja dan mereda menjelang akhir masa tersebut. 

Apa yang bisa dilakukan?

  • Jangan kehilangan kesabaran dan hindari bersikap agresif terhadap pemberontakan anak Anda.
  • Perhatikan apa yang memicu kekacauan dan perilaku mereka.
  • Bicaralah dengan anak Anda untuk memahami apa yang menyebabkan mereka tidak bahagia atau frustrasi.
  • Teladani rasa hormat di dalam rumah dan secara konsisten tunjukkan tanda-tanda ketenangan dan kerja sama terhadap anak dan keluarga.
  • Berikan hadiah kepada anak ketika mereka menunjukkan kepatuhan dan bisa diajak kerja sama.
  • Komunikasi adalah kuncinya. Jadi, pastikan Anda menyelesaikan konflik sesegera mungkin dengan tenang dan damai.
  • Carilah bantuan profesional jika usaha Anda tidak membuahkan hasil.

9. Kurang Motivasi dan Malas

Anak Anda tampaknya tidak tertarik untuk melakukan apa pun. Baik itu pekerjaan sekolah, latihan seni atau musik atau bahkan bermain, mereka menolak untuk berpartisipasi. Memotivasi anak-anak tidaklah mudah, terutama jika mereka malas dan cenderung mencari alasan untuk tidak melakukan apa pun. 

Apa yang bisa dilakukan?

  • Anda dapat menceritakan kisah tentang masa kecil Anda dan berbagi pengalaman untuk menginspirasi dan mendorong mereka mencoba sesuatu yang baru.
  • Jangan memaksa anak Anda untuk menekuni suatu hobi. Hal itu malah membuatnya makin menolak Anda. Sebaliknya, berikan mereka pilihan dan biarkan mereka memilih. Anak-anak lebih tertarik pada sesuatu yang mereka pilih.
  • Cobalah cari cara untuk memotivasi anak Anda. Motivasi diri lebih kuat daripada didorong oleh orang lain. Dorong anak yang lebih kecil untuk mengerjakan tugas harian dengan menyenangkan. Untuk anak yang lebih besar, mintalah mereka bertanggung jawab atas tugas-tugas seperti mencuci piring, atau menata meja. Tetapkan batasan.  

10. Masalah Perilaku di Sekolah 

“Aku benci sekolah!” Apakah itu sesuatu yang Anda dengar dari si kecil yang berusia lima tahun setiap pagi? Anak-anak dapat menolak pergi ke sekolah karena berbagai alasan, seperti perundungan, masalah akademis, penolakan terhadap otoritas dan aturan, atau kecemasan karena dipisahkan dari orang tua. 

Apa yang bisa dilakukan?

  • Mulailah dengan mencari akar masalahnya. Cari tahu mengapa si kecil tidak menyukai sekolah atau menolak mengerjakan pekerjaan rumahnya. Anda mungkin ingin membantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah jika mereka mengalami kesulitan.
  • Anak mungkin butuh waktu untuk bisa berprestasi secara akademis dan merasa nyaman dengan sekolah. Pahamilah bahwa semua butuh proses dan perubahan tidak akan terjadi dalam semalam.
  • Berikan hadiah sebagai penguatan positif untuk mendorong perilaku yang baik. Misalnya, Anda bisa bilang, “Kamu pantas mendapat es krim malam ini karena mengerjakan pekerjaan rumah tanpa diingatkan.”
  • Tanyakan apa yang mereka sukai di sekolah. Bantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah, dan buat pekerjaan rumah mereka lebih menarik.
  • Masalah perilaku tidak selalu mudah diatasi. Jika kasus yang Anda hadapi cukup rumit, jangan ragu untuk minta bantuan psikolog profesional.

11. Melempar Barang

Anak-anak berusia antara 18 bulan dan 3 tahun biasanya suka melempar barang untuk menunjukkan rasa frustrasi mereka. Mereka cenderung melempar makanan, mainan, atau apa pun yang bisa mereka dapatkan, hanya karena penasaran atau frustrasi.

Apa yang bisa dilakukan? 

  • Untuk menghindari kerusakan pada barang berharga, sediakan apa yang aman dilempar anak Anda, seperti bola, mainan yang memantul, atau mainan berbulu yang tidak akan rusak.
  • Cegah mereka melempar barang saat mereka marah atau agresif. Cobalah untuk mengabaikan saat mereka melempar barang karena marah. Jika mereka terus-menerus melempar barang yang dapat melukai anak lain, segera hentikan dan jelaskan bahwa Itu buruk dan bisa menyakiti orang  lain. Katakan dengan suara yang tenang.

Aktivitas untuk Anak-anak dengan Masalah Perilaku

Cara yang sangat efektif untuk mengatasi masalah perilaku pada anak-anak, terutama balita, adalah melalui aktivitas fisik. Ada beberapa aktivitas yang dapat Anda coba terapkan pada anak, yang bisa sangat membantu. 

  1. Olahraga atau aktivitas fisik. Ini mungkin merupakan cara terbaik untuk melepaskan stres. Ketika anak Anda bersemangat atau marah, ajak mereka bermain di luar dapat membantu melepaskan energi mereka. Jika energi anak tidak dilepaskan dengan baik, mereka cenderung melepaskannya dengan cara yang mereka ketahui, seperti mengamuk, berperilaku merusak, bertindak tidak senonoh, dan lainnya.
  2. Bermain peran adalah kegiatan yang sangat baik yang dapat mengajarkan anak-anak untuk mengendalikan dorongan hati. Kurangnya pengendalian diri pada anak-anak merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi perilaku mereka.
  3. Minta anak untuk membacakan buku atau apa yang sedang mereka tulis. Anda dapat mencoba ini sebagai teknik relaksasi sebelum tidur ketika mereka masih penuh energi dan membutuhkan kegiatan untuk menenangkan diri.
  4. Bercerita adalah kegiatan lain yang melibatkan imajinasi mereka dan memungkinkan mereka menggunakan energi dengan cara yang positif. 
  5. Bacakan buku tentang perilaku yang dapat mengajarkan anak-anak tentang perbuatan baik seperti kebaikan, berbagi, menunggu, dan mengucapkan hal-hal baik satu sama lain. 

Kapan Harus Mencari Bantuan? 

Jika perilaku abnormal berubah menjadi sesuatu yang tidak terkendali di rumah, atau jika anak Anda berulang kali melakukan kesalahan, inilah saatnya bagi MamPap untuk menemui dokter atau psikolog anak yang mungkin bisa membantu. Mungkin ada alasan yang lebih dalam mengapa anak Anda berperilaku dengan cara tertentu. 

Menurut National Institute of Mental Health, seorang anak mungkin memerlukan bantuan profesional ketika perilakunya mengancam keselamatannya sendiri dan keselamatan orang lain di sekitarnya. Mereka mungkin juga memerlukan bantuan ketika mereka terlibat dalam perilaku berisiko yang tidak sesuai dengan usianya, memiliki energi atau minat yang rendah terhadap aktivitas, menunjukkan perubahan drastis dalam nafsu makan atau pola tidur, memiliki kecenderungan bunuh diri atau antisosial, dan menunjukkan gejala psikotik seperti delusi atau halusinasi. 

Masalah perilaku anak adalah bagian dari tahap perkembangan yang dilalui sebagian anak. Meskipun cukup umum, hal ini bisa tidak terkendali dan menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan anak, jika tidak tertangani dengan baik. Penting untuk mendukung anak-anak dalam mengatasi masalah perilaku tersebut. Meskipun dapat menangani sebagian besar masalah ini dengan pola asuh positif dan terapi perilaku, jika merasa masalahnya tidak dapat dikendalikan, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional, ya. Semoga membantu.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifty one ÷ fifty one =