Sepuluh menit pertama menyaksikan film “Pengepungan di Bukit Duri” sudah dibikin deg degan. Bukan karena hantu, tapi film ini memang lebih horor dari film horor. Jadi membayangkan betapa hancur lebur dan traumatisnya orang-orang yang mengalami kerusuhan dan penjarahan. Termasuk trauma-trauma lainnya yang bisa dirasakan anak remaja. Ya, di film ini, Joko Anwar bukan sekadar memberikan potongan peristiwa sejarah seperti peristiwa Mei 1998 saja, namun termasuk potret buram anak-anak remaja.
Rasanya kita cukup paham bahwa peristiwa 98 ini tak hanya bicara soal krisis ekonomi dan politik. Namun juga tentang ketakutan, kekacauan, kekerasan, dan luka sosial mendalam, terutama bagi warga Tionghoa Indonesia yang menjadi korban penjarahan, penganiayaan, hingga pelecehan. Peristiwa ini menyisakan banyak trauma kolektif yang masih sulit dibicarakan hingga hari ini. Mungkin, bagi sebagian orang menyaksikan film Pengepungan di Bukit Duri juga seperti mengorek luka lama yang traumatis.
Jika dilihat dari perspektif orang tua, menonton film ini bukan sekadar tentang melihat ke belakang, tetapi tentang mengasah empati, menyadari posisi kita dalam masyarakat, dan belajar bagaimana memperjuangkan ruang yang aman dan tentunya manusiawi untuk anak-anak kita kelak.
Di Pengepungan di Bukit Duri, memperlihatkan kondisi masa depan tahun 2027, di mana sebuah negara digambarkan dalam kondisi sosial yang kacau karena ketimpangan, diskriminasi, dan kekerasan masih merajalela. Terutama kekerasan yang dilakukan dan dialami oleh sekumpulan anak remaja.
Sepanjang nonton film ini, ada banyak pertanyaan yang muncul. Bagaimana bisa anak remaja bisa melakukan tidak kekerasan? Tidak hanya sekadar membully, tapi juga membunuh dengan cara keji? Bagaimana bisa anak remaja bisa melakukan tindak kriminal? Apa yang salah?
Nggak cuma munculin banyak pertanyaan, tapi juga ragam emosi melihat perilaku berbagai karakter anak remaja di sini. Ada rasa marah, takut, sekaligus sedih. Sebab, gambaran perilaku yang dilakukan anak-anak remaja ini sebenarnya korban perilaku orang dewasa. Biar bagaimana pun, seorang anak tidak pernah lahir jahat. Tapi lingkungan, trauma, dan diam kita bisa mengubahnya
Faktanya, kasus tindak kekerasan yang dilakukan oleh anak remaja memang bisa terjadi. Masih ingat peristiwa anak remaja yang membunuh keluarga di kawaasan Lebak Bulus tahun 2024 kemarin? Ada juga remaja yang tega membacok temannya sendiri, bahkan ada juga yang membunuh pacarnya?
Data yang diambil dari berkas DPR, menyebutkan banyaknya angka kekerasan yang dilakukan di lingkungan sekolah. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa pada tahun 2023 terdapat 2.355 kasus pelanggaran terhadap perlindungan anak. Dari jumlah tersebut, 861 kasus terjadi di lingkungan satuan pendidikan, termasuk kekerasan seksual, fisik, psikis, dan bullying.
Sedangkan menurut data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), jumlah kejadian kekerasan pada remaja di Indonesia mencapai 8.000 kasus pada tahun 2024. Bentuk kekerasan yang kerap dialami remaja meliputi perundungan, kekerasan seksual, dan kekerasan fisik. Kekerasan ini tidak hanya berkontribusi terhadap permasalahan global seperti kematian dini, cedera bahkan kecacatan, namun juga memiliki dampak serius terhadap fungsi psikologis dan sosial seseorang.
Pengepungan di Bukit Duri, Mengapa Anak Remaja Melakukan Tindak Kekerasan?
Ada banyak alasan yang bisa melatarbelakangi seorang remaja melakukan tidak kekerasan, seperti yang dijelaskan psikolog klinis anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, S. Psi, M. Psi. Di antaranya:
1. Pengaruh Lingkungan, Termasuk Teman Sebaya
Anak-anak yang bergaul dengan teman sebaya yang melakukan kenakalan memiliki risiko lebih tinggi untuk terlibat dalam perilaku serupa. Lingkungan sosial yang mendukung kekerasan dapat mempengaruhi perilaku anak.
2. Paparan Kekerasan di Media
Anak-anak yang terpapar kekerasan di media lebih cenderung mengalami peningkatan perasaan permusuhan dan penurunan respons emosional terhadap kekerasan, yang dapat menyebabkan perilaku kekerasan melalui proses peniruan.
3. Kondisi Keluarga yang Penuh dengan Konflik
Percayalah bahwa lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak, termausk mereka yang memasuki usia remaja. Anak rmeja yang tumbuh di tengah keluarga yang toxic, penuh dengan konflik yang tidak sehat dan tindak kekerasan bisa mempengaruhi perilaku anak dan meningkatkan risiko mereka terlibat dalam tindak kekerasan.
4. Adanya Gangguan Emosi dan Ketidakmampuan Meregulasi Diri
Ketidakmampuan mengelola emosi seperti marah atau frustrasi dapat mendorong anak melakukan tindakan agresif. Gangguan emosi sering berakar dari kurangnya perhatian emosional dalam keluarga.
5. Trauma dan Luka Batin
Pengalaman traumatis seperti pelecehan fisik atau emosional dapat meninggalkan luka batin yang mendalam pada anak. Trauma ini dapat meledak menjadi perilaku agresif jika anak tidak memiliki kemampuan untuk mengelola rasa sakit emosionalnya.
Film Pengepungan di Bukit Duri membuka ruang refleksi penting bagi banyak pihak. Para pendidik, masyarakat luas, khusunya orang tua untuk bisa belajar memahami bahwa kekerasan tidak muncul dalam ruang hampa. Anak yang hari ini menjadi pelaku kekerasan, mungkin adalah anak yang kemarin tidak sempat didengar dan dilihat. Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja tentu saja merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor baik internal dan eksternal.
Orang Tua Perlu Menyaksikan Pengepungan di Bukit Duri
Sebagai orang tua, menonton film Pengepungan di Bukit Duri bisa panggilan nurani untuk bisa memahami anak remaja, bahkan kita memikiki peran ‘melahirkan’ dan ‘membentuk’ anak remaja menjai sosok yang penuh kekerasakan dan bengis. Ini bisa menjadi peringatan akan trauma kolektif yang bisa diwariskan jika kita diam.
1. Trauma Anak Bukan Hal Kecil
Tindakan kekerasan yang dirasakan oleh anak bisa menimbulkan luka yang mendalam. Mereka bisa kehilangan rasa aman, identitas, dan kontrol atas hidup sendiri. Anak-anak yang mengalami ini bisa mengalami trauma yang membekas hingga dewasa: kecemasan berlebih, rasa tidak percaya pada sistem, bahkan gangguan perilaku.Tanpa penanganan, trauma seperti ini bisa berdampak pada cara anak membangun relasi, menghadapi konflik, bahkan bermimpi tentang masa depannya. Orang tua yang memahami hal ini akan lebih sadar bahwa memperjuangkan ruang aman bagi anak.
2. Peran Ayah yang Hilang
Tidak cuma ibu, peran ayah juga sama besarnya. Terutama untuk anak remaja laki-laki yang membutuhkan figur ayah untuk dijadikan contoh konkret agar bisa tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang matang secara emosional. Apa jadinya jika peran ayah itu hilang? Apa jadinya jika tindak kekerasan yang diterima anak justru bersumber dari sang ayah? Setidaknya kegagalan ayah menjalankan perannya di film Pengepungan di Bukit Diri banyak ditampilkan.
Ini tergambar jelas lewat scene dan dialog yang dilontarkan. Di mana beberapa karakter anak remaja pria mengatakan bahwa keberadaan mereka juga disebabkan ayahnya. Dialog mereka bisa menyiratkan bahwa ada kebencian dan kemarahan di sana. Padahal, seorang ayah semestinya bisa hadir, menyaksikan, memahami, dan mengakui rasa gagal dan kemaran yang dirsakan. Sehingga anak pun bisa memahami perasaan mereka valid.
3. Empati Tidak Bisa Diajarkan Lewat Teori Saja
Empati tumbuh dari pengalaman. Banyak dari kita ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang adil, empatik, dan berani bersuara. Tapi nilai-nilai ini tidak bisa diajarkan lewat teori yang diambil dari buku saja. Harus ada pengalaman emosional dan konteks sosial yang menyertainya, termasuk bagaimana cara komunikasi dengan remaja. Film ini adalah salah satu cara memperkenalkan mereka pada kenyataan—bahwa tidak semua orang mendapat keadilan yang sama, dan bahwa penting untuk peduli dengan orang lain.
4. Pentingnya Memilih Lingkungan Sosial dan Sekolah yang Peduli
Anak membutuhkan lingkungan sekolah dan pertemanan yang suportif dan tidak menghakimi. Orang tua perlu cermat memilihkan sekolah dan komunitas yang membangun, di mana nilai keberagaman, empati, dan keadilan ditanamkan. Anak yang tumbuh di lingkungan yang sehat secara sosial akan lebih mampu pulih dan berkembang menjadi pribadi yang kuat secara emosional.
5. Refleksi Diri: Apa yang Akan Kita Wariskan ke Anak-Anak Kita?
Apakah kita akan mewariskan rumah yang megah namun di atas ketidakpedulian? Atau warisan berupa nilai, keberanian, dan kepedulian terhadap sesama? Atau malah mewariskan sikap intolenransi atau luka yang tidak terlihat sehingga menjadi trauma yang sulit disembuhkan? Film ini mendorong kita untuk memilih: jadi saksi diam, atau bagian dari perubahan? Sikap seperti apa yang sudah kita contohnkan pada anak-anak?
Seperti film lainnya, di Pengepungan Bukit Duri, Joko Anwar juga mengajak kita bisa berpikir. Film ini setidaknya bisa menjadi kacamata baru untuk memahami anak remaja. Apalagi sebenarnya, cerita dalam film ini bisa terjadi di rumah mana pun.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads










and then