Pernah nggak melihat anak lelaki Mam Pap ‘memainkan’ penisnya? Atau si kecil terlihat menikmati atau malah panik ketika melihat penisnya ‘bangun’? Jangan panik dulu ya, sebenarnya ini tandanya anak sedang memasuki Fase Falik (Phallic Stage), salah satu tahapan perkembangan psikoseksual anak.
Fase falik ini umumnya dialami oleh anak yang memasuki usia 3 sampai 5 tahun. Di usia ini, mereka mulai menyadari perbedaan gender, menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi tentang tubuh, dan mengeksplorasi alat kelamin mereka sendiri.
Rizqina P. Ardiwijaya, M.Psi, Psikolog Klinis Anak dan Remaja menandaskan bahwa fase falik merupakan salah satu tahapan psikoseksual anak yang kerap membuat orang tua khawatir. Sebab, pada fase ini anak-anak mulai fokus pada alat kelamin yang dimilikinya, sehingga mereka pun senang untuk mengeksplorasi alat kelamin sebagai zona sensitif seksual. Misalnya, dengan cara memegang atau menggesekkan alat kelaminnya.
“Fase ini juga anak sudah belajar aspek gender. Untuk anak perempuan, ia akan merasa, ‘Oh, aku punya vagina. Kalau kakak aku punya penis. Berarti ia laki-laki’. Jadi nggak usah khawatir kalau anak terlihat senang bereksplorasi di area alat kelaminnya, karena anak mendapat kesenangan lewat sana, mereka sangat penasaran dan ingin mencari tahu,” tukas Rizqina.
Tania, salah satu anggota Mamasquads, sempat berbagi pengalamannya saat sang putra memasuki fase ini. “Wah, waktu itu sempat bingung harus gimana. Soalnya saat anakku usia 4 tahun, dia tuh hampir setiap malam senang sekali main smackdown. Tapi, sambil main, kok dia sambil gesek-gesekin penisnya. Takut banget kalau itu tindakan yang nggak normal.”
Kepada Parentsquads, Tania mengaku bahkan sampai harus berkonsultasi dengan psikolog karena khawatir tindakan anaknya tersebut menjadi kebiasaan yang menyimpang. “Lucunya, waktu saya tegur untuk nggak pegang-pegang penisnya, anak saya malah bilang, ‘Ini rasanya geli, Ma. Mama kan nggak punya penis, jadi nggak tahu rasanya kayak gimana,’” lanjut Tania lagi.

Pentingnya Memahami Tahapan Psikoseksual Anak, Termasuk Fase Falik Anak
Diterangkan oleh Rizqina P. Ardiwijaya, M.Psi, pada dasarnya setiap individu akan mengalami berbagai perkembangan dalam hidupnya. Tidak hanya perkembangan fisik dan psikologis, anak juga akan melewati periode perkembangan psikoseksual yang dimulai sejak lahir hingga dewasa.
“Jadi sejak lahir hingga dewasa secara seksualitas juga akan berkembang,” jelas Rizqina.
Teori ini lahir dari Sigmund Freud, ahli saraf dan ilmuwan psikologi asal Austria yang dikenal sebagai Bapak Psikoanalisis. Menurutnya, kematangan psikoseksual yang akan dialami semua individu ini akan terjadi secara bertahap dengan melewati 5 fase, yaitu:
- Fase Oral (Usia 0-2 tahun)
- Fase Anal (Usia 2-3 tahun)
- Fase Falik (Usia 3-5 tahun)
- Fase Laten (Usia 6-11 tahun)
- Fase Genital (Usia 12 tahun ke atas)
Jangan Dimarahi! Begini Cara Anak yang Memasuki Fase Falik
Meskipun normal, terkadang tingkah si Kecil memang sukses bikin kita jantungan. Misalnya, tiba-tiba telanjang atau memegang-megang kelaminnya di depan orang lain atau saat ada tamu di rumah. Jika tidak ditangani dengan tepat, ada risiko psikologis jangka panjang yang bisa muncul.
Lalu, bagaimana langkah praktis mengatasinya tanpa membuat anak trauma?
1. Awasi, dan Jangan Dimarahi
Selama si Kecil melakukannya di ruang pribadi dan tidak mengganggu orang lain, sebenarnya tidak perlu dilarang keras apalagi sampai dimarahi. Jika dimarahi, memori anak bisa merekam bahwa memegang kelamin atau beraktivitas seksual adalah sebuah hal yang kotor dan terlarang. Menghakimi anak justru berpotensi merusak persepsi mereka tentang seksualitas di masa depannya.
Meski demikian, kita sebagai orang tua tentu tetap perlu memantau. Alasan kesehatan juga bisa digunakan sebagai edukasi, misalnya dengan mengatakan, “Bang, penisnya jangan terus dipegang seperti itu ya. Tangan Abang kan kotor, nanti bisa ada kuman yang masuk dan bikin sakit.” Ingat, di fase ini anak murni hanya sedang mengeksplorasi dirinya sendiri.
2. Alihkan ke Aktivitas Lain yang Menarik
Jika anak mulai terlalu sering menggesek-gesekkan alat kelaminnya, cara menanggulangi yang paling ampuh adalah dengan teknik pengalihan. Ajak anak bermain permainan lain yang jauh lebih seru, interaktif, dan menguras energinya sehingga fokusnya beralih dari area kelamin.
3. Kenalkan “Batasan Area Pribadi”
Gunakan momen ini untuk mulai memberikan edukasi seksual dasar. Jelaskan dengan bahasa yang sederhana bahwa ada area-area pribadi di tubuhnya yang sangat berharga. Area tersebut tidak boleh dilihat oleh sembarang orang, apalagi sampai disentuh atau dipegang.
Ditegaskan Rizqina, sama dengan tahapan perkembangan lainnya, fase falik ini tentu saja perlu dilewati dengan baik. Jika tidak, memang akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Jika ada rasa ketidakpuasan, bisa menimbulkan gejala regresi (kemunduran).
“Bahkan, ketidakpuasan ini juga bisa berdampak kurang baik bagi perkembangan kepribadian anak, seperti: merasa kurang aman, selalu meminta perhatian orang lain, atau egosentris,” papar Rizqina.
Nah, pada saat anak memasuk fase falik, jangan terlalu cemas secara berlebihan sampai memaarhi anak, yah. Seiring bertambahnya usia anak, fase falik ini juga akan dilewati. Pada saat anak masuk usia sekolah, dengan sendirinya anak mulai beralih ke fase laten (masa sekolah). Tetap dampingi si Kecil dengan kepala dingin, ya.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads










and then