Remaja Mulai Punya Dunia Sendiri, Bagaimana Orang Tua Tetap Jadi Tempat Pulang?

cara menghadapi anak remaja

“Anak saya kok sekarang suka membantah?” “Bagaimana kalau anak saya terlalu memikirkan perasaan orang lain?” “Anak saya tidak punya banyak teman, apakah perlu khawatir?” “Kalau hubungan dengan anak sudah terlanjur jauh, masih bisa diperbaiki?” 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar familiar bagi banyak orang tua yang sedang mendampingi anak memasuki masa remaja.

Dalam Zoominar bertema “Less Control, More Connection” bersama psikolog dari Ruang Tumbuh, Ayank Irma, menjawab berbagai kegelisahan peserta tentang perubahan perilaku anak, pertemanan, hingga cara membangun kembali hubungan yang sempat renggang.

Cara Menghadapi Anak Remaja Menurut Psikolog

Berikut beberapa insight yang bisa menjadi bekal orang tua dalam cara menghadapi anak remaja. Beberapa pertanyaan ini sering dilontarkan orang tua dari anak remaja bisa jadi pelajaran untuk orang tua lainnya.  

Read More

1. “Anak Saya Sekarang Suka Membantah. Apakah Kami Kurang Terkoneksi?”

Salah satu peserta, Mama Ami, bercerita tentang anaknya yang berusia 10 tahun. Dalam setahun terakhir, anaknya semakin sering memiliki pendapat yang berbeda dan cenderung berseberangan dengan opini sang ibu. Padahal, sejak kecil, ia merasa sudah memberikan ruang bagi anak untuk berpendapat. Apakah ini tanda hubungan mereka mulai renggang?

Menurut Ayank, belum tentu. Perubahan tersebut dapat menjadi bagian dari proses perkembangan anak menuju fase pra-remaja. Anak yang sebelumnya lebih banyak mengikuti orang tua mulai menyadari bahwa dirinya memiliki pendapat sendiri. “Dia sudah punya kesadaran untuk berpendapat,” jelas Ayank.

Bahkan, perbedaan pendapat dapat menjadi bagian dari proses anak belajar berpikir secara mandiri. Yang kemudian menjadi penting adalah bagaimana orang tua merespons.

Ketika anak menyampaikan pendapat dengan emosi tinggi, orang tua tidak harus langsung masuk ke mode mengoreksi. Ayank menyarankan agar orang tua dapat mengatur situasi terlebih dahulu dan mengajak anak berdiskusi ketika suasana sudah lebih tenang.

“Kalau mau berdiskusi, ayo. Aku akan dengarkan,” menjadi salah satu pendekatan yang dapat digunakan orang tua. Dengan demikian, anak belajar bahwa memiliki pendapat berbeda tidak otomatis membuatnya ditolak oleh orang tua.

2. “Anak Saya Sering Minta Maaf, Bahkan untuk Kesalahan yang Bukan Dia Lakukan”

Pertanyaan berikutnya datang dari orang tua yang memiliki anak perempuan berusia 13 tahun. Sang anak sering meminta maaf, bahkan ketika ia sebenarnya tidak melakukan kesalahan. Ia juga cenderung terlalu memikirkan perasaan orang lain dan sulit mengatakan “tidak”.

Menurut Ayank, kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan kebutuhan anak untuk mempertahankan rasa aman dalam hubungan sosial. Karena itu, tujuannya bukan sekadar membuat anak berhenti berkata “maaf”, tetapi membantu anak belajar mengenali kebutuhan dan batas dirinya.

Anak perlu belajar bahwa mengatakan, aku tidak mau, aku tidak nyaman atau aku tidak setuju. Dengan begini bukan berarti dirinya menjadi anak yang jahat atau kehilangan teman. Kemampuan mengatakan “tidak” merupakan keterampilan yang perlu dilatih melalui pengalaman.

Orang tua dapat mulai dari situasi sehari-hari. Ketika anak menolak sesuatu, jangan langsung menganggapnya tidak sopan. Berikan ruang agar ia bisa menjelaskan alasannya. Dengan begitu, anak belajar bahwa mempertahankan batas diri juga merupakan bagian dari hubungan yang sehat.

3. “Anak Saya Sulit Mendapatkan Teman. Haruskah Saya Khawatir?”

Peserta lain menceritakan anaknya yang berusia 13 tahun. Anak tersebut cukup sulit memulai komunikasi dengan teman dan terlihat nyaman ketika sendirian. Orang tua khawatir kondisi tersebut akan membuatnya kesulitan berinteraksi di kemudian hari.

Ayank mengingatkan bahwa tidak semua anak yang nyaman sendirian berarti mengalami masalah sosial. Yang perlu dilihat adalah apakah anak benar-benar memiliki kebutuhan sosial yang tidak terpenuhi atau memang memiliki karakter yang nyaman dengan lingkaran pertemanan kecil.

Untuk remaja, memiliki satu atau dua teman dekat yang membuat mereka nyaman sudah dapat menjadi hubungan sosial yang berarti. Namun, jika anak sama sekali tidak memiliki teman dan mengalami kesulitan dalam berinteraksi, orang tua dapat membantu dengan cara yang tidak memaksa. Salah satunya adalah mencari aktivitas atau komunitas yang sesuai dengan minat anak.

Misalnya, jika anak menyukai menggambar, orang tua dapat memperkenalkannya pada komunitas seni. Jika ia menyukai olahraga, bisa mencoba kegiatan olahraga bersama. Dengan berada di lingkungan yang memiliki minat serupa, anak memiliki kesempatan untuk belajar berinteraksi secara lebih natural.

“Komunitas eksploratif” dapat menjadi ruang bagi anak untuk sekaligus mengeksplorasi minat dan belajar keterampilan sosial. Jadi, daripada mengatakan, “Kamu harus punya banyak teman,” orang tua bisa mulai dari, “Kira-kira kegiatan apa yang kamu suka? Mau coba bareng?”

4. “Kalau Hubungan Sudah Terlanjur Jauh, Apakah Masih Bisa Berkomunikasi dengan Anak?”

Ini menjadi salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang tua. Seorang peserta memiliki dua anak perempuan berusia 15 dan 13 tahun. Di saat sang ibu juga sedang menghadapi perubahan emosional dalam dirinya, ia merasa hubungan dengan anak-anak sudah semakin jauh.

Apakah hubungan yang sudah renggang masih bisa diperbaiki? “Gak ada kata gak bisa, gak ada kata terlambat sebenarnya,” ujar Ayank.

Langkah pertama adalah berani mengakui bahwa sebagai orang tua, kita mungkin pernah melakukan kesalahan. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan membuka ruang bagi hubungan yang lebih sehat. Orang tua dapat meminta maaf kepada anak, lalu mengajak mereka bicara dari hati ke hati. Tanyakan apa yang membuat mereka merasa lebih nyaman dalam hubungan tersebut.

Apa yang membuat mereka merasa didengarkan? Apa yang membuat mereka merasa dekat? Apa yang selama ini membuat mereka justru menjauh?

Setelah itu, jangan berhenti pada satu percakapan. Reconnection membutuhkan konsistensi. Perbanyak momen sederhana bersama anak. Menemani makan, duduk bersama, mengobrol santai, atau menemani aktivitas yang mereka sukai bisa menjadi cara untuk perlahan membangun kembali rasa percaya.

Bahkan, kehadiran fisik orang tua tanpa banyak nasihat pun dapat menjadi sinyal bahwa orang tua sedang berusaha kembali hadir dalam kehidupan anak.

Membangun Hubungan Agar Anak Merasa Aman

cara menghadapi anak remaja, komunikasi dengan remaja

Dari berbagai pertanyaan peserta, satu benang merah terlihat jelas: remaja tidak selalu membutuhkan lebih banyak kontrol. Mereka membutuhkan hubungan yang membuat mereka merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.

Ayank juga menekankan bahwa keterikatan emosional antara orang tua dan anak tetap dibutuhkan sepanjang masa. Hanya saja, bentuknya berubah mengikuti perkembangan anak.

Karena itu, untuk membangun hubungan aman dengan anak bukan berarti orang tua menyerahkan semua keputusan kepada anak. Orang tua tetap boleh memiliki aturan. Tetap boleh menetapkan batas. Tetap boleh mengatakan tidak.

Namun, semuanya dilakukan dengan komunikasi dan koneksi sebagai dasar. Kurangi kebiasaan memerintah, perbanyak mengajak berdiskusi. Kurangi menghakimi, perbanyak mendengarkan. Kurangi buru-buru memberi solusi, perbanyak memahami perasaan anak.

Dan ketika konflik terjadi, jangan dibiarkan menumpuk. Konflik dengan remaja adalah bagian dari proses hubungan, tetapi perlu diselesaikan agar tidak berubah menjadi jarak yang semakin lebar.

Remaja Tetap Butuh Orang Tua, Hanya Saja dengan Cara yang Berbeda

Memasuki masa remaja bukan berarti anak tidak lagi membutuhkan orang tua. Justru, di tengah perubahan emosi, tekanan sosial, pencarian identitas, pertemanan, dan tuntutan lingkungan, kehadiran orang tua tetap penting.

Bedanya, anak mungkin tidak lagi membutuhkan orang tua yang selalu berdiri di depan untuk mengarahkan setiap langkah. Mereka membutuhkan seseorang yang bersedia berdiri di sampingnya. Seseorang yang bisa berkata, “Aku mungkin tidak selalu setuju dengan pilihanmu, tapi aku mau mendengarkan.”

Seseorang yang membuat rumah terasa seperti tempat untuk pulang, bukan tempat untuk takut dihakimi. Sebab, koneksi tidak dibangun lewat satu percakapan besar. Ia tumbuh dari banyak momen kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Dan mungkin, inilah inti cara menghadapi anak remaja dari kurangi mengontrol anak tapi perdalam komunikasi. MamPapa bukan berhenti menjadi orang tua, tetapi belajar menjadi orang tua dengan cara yang sesuai dengan anak yang sedang bertumbuh.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ seventy eight = 87