Jelang akhir tahun, orang tua biasanya sudah mulai sibuk ‘hunting’ sekolah untuk anaknya. Obrolan pencarian sekolah dan mencari testomoni juga sudah mulai ramai diperbicangkan. Mulai mencari tahu biayanya, apa saja fasilitas yang disediakan sekolah, mempertimbangkan jarak rumah ke sekolah, termasuk membedah kurikulum yang diterapkan.
Namun, selain mencari informasi sekolah yang paling ideal dan sesuai dengan value keluarga, ada pondasi penting yang justru tidak boleh dilupakan. Mencari tahu dan memastikan tanda anak siap sekolah, apakah sudah terpenuhi atau belum?
Sering kali, tanda anak siap sekolah hanya dilihat dari usia atau kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Padahal, transisi ke jenjang Sekolah Dasar (SD) membutuhkan fondasi yang jauh lebih luas dari sekadar kepintaran akademik di atas kertas.
Hal inilah yang ditegaskan Diah Cahyaningrum, S.Psi., M.Psi., Psikolog dari Atelier of Minds, bahwa tanda anak siap sekoloh tidak hanya soal usia atau calistung, tetapi mencakup perkembangan kognitif, fisik, sosial, dan emosional anak.
“Kesiapan anak untuk bersekolah tidak hanya ditentukan oleh usia. Setiap tahapan memiliki tugas perkembangan masing masing, dan ketika anak dipaksa sebelum waktunya, hal ini dapat berdampak pada kesiapan mereka saat bersekolah,” jelas Diah.
Memaksa anak masuk ke dalam lingkungan formal tanpa kematangan di berbagai aspek perkembangan juga ternyata justru berisiko memicu stres dan rasa cemas saat belajar. Diah juga menambahkan, bahwa transisi sekolah merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan anak, keluarga, dan lingkungan sekolah.
Mengacu pada Ecological Model of School Readiness dari Urie Bronfenbrenner, kesiapan anak dipengaruhi oleh karakteristik anak, pola asuh keluarga, dan lingkungan sekolah. “Kesiapan sekolah bukan hanya tentang seberapa cepat anak menguasai calistung, tetapi terkait fondasi perkembangan yang membantu anak beradaptasi dan belajar secara berkesinambungan,” tegasnya.
Belajar berkesinambungan ini juga terkait dengan beragam stimulasi yang diberikan, termasuk di dalamnya stimulasi yang didapatkan anak lewat bermain. Tidak bisa dipungkiri, tidak sedikit orang tua yang menganggap dan membayangkan bahwa menyiapkan anak masuk SD berarti perlu memahami angka dan huruf terlebih dahulu. Kenyatannaya, stimulasi terbaik justru datang dari hal-hal sederhana bagi anak yaitu lewat bermain.

Hal inilah yang ditegaskan oleh Dwi Ayu Nur Komariyah, M.Sc.OT, Occupational Therapist Atelier of Minds, yang mengatakan bahwa aktivitas sehari-hari dan bermain dapat menjadi cara yang efektif untuk melatih berbagai kemampuan tersebut.
“Pendampingan praktis di rumah dapat dilakukan melalui pendekatan bermain (play based learning). Misalnya, mengajak anak bermain peran atau role play, bermain board game serta bermain puzzle untuk melatih kemampuan memecahkan masalah dan kelenturan berpikir.”
Bahkan dijelaskan Dwi, lewat permainan peran, anak belajar empati dan bahasa. Selain itu stimulasi dengan bermain juga bisa dilakukan dengan mengajak anak bermain board game, di sini bisa melatih anak anak untuk bisa meregulasi emosi saat harus sabar menunggu giliran. Semua dilakukan tanpa beban, membuat proses tumbuh kembang terasa menyenangkan.
Kapan Orang Tua Perlu Waspada?
Meski demikian, orang tua juga perlu peka melihat respons anak selama proses persiapan ini. Dwi Ayu mengingatkan agar orang tua memperhatikan tanda ketika anak mungkin membutuhkan dukungan tambahan. Beberapa di antaranya adalah:
- Anak mudah lelah atau lemas saat melakukan aktivitas di meja.
- Kesulitan mengikuti instruksi yang diberikan secara bertahap.
- Menunjukkan penolakan keras dan reaksi emosional yang berlebihan (tantrum meluap-luap) saat diajak belajar.
Jika kondisi-kondisi tersebut muncul secara konsisten, pendampingan profesional dapat membantu orang tua memahami kebutuhan anak yang sebenarnya serta menentukan langkah dukungan yang paling tepat.
8 Tanda Anak Siap Sekolah
Untuk memastikan anak dapat beradaptasi, berinteraksi, dan belajar dengan percaya diri, ada delapan fondasi perkembangan utama yang penting dipersiapkan sebelum anak memasuki dunia sekolah, apa saja? Berikut penjelasan Diah Cahyaningrum, S.Psi., M.Psi., Psikolog dan Dwi Ayu Nur Komariyah, M.Sc.OT,.
- Kemandirian: Mampu mengelola tugas sehari-hari, membuat pilihan, mengikuti rutinitas, dan mencoba hal baru sesuai usianya.
- Keterampilan Sosial: Mampu berinteraksi, berbagi, bekerja sama, mendengarkan, menunjukkan empati, dan menyelesaikan konflik sederhana.
- Pengelolaan Perilaku: Mampu mengikuti instruksi, menjaga fokus, menunggu giliran, dan menghadapi rasa frustrasi.
- Kemampuan Bahasa: Mampu memahami instruksi serta menyampaikan kebutuhan, pikiran, dan perasaan.
- Regulasi Diri: Mampu mengelola emosi, impuls, dan kondisi tubuh agar siap mengikuti aktivitas belajar.
- Fungsi Eksekutif: Mencakup kemampuan mengingat informasi, mengendalikan diri, berpikir fleksibel, merencanakan, dan menyelesaikan tugas.
- Sensorimotor dan Motorik Halus: Mendukung keseimbangan, kesadaran tubuh, koordinasi, serta kemampuan melakukan aktivitas seperti menulis, menggunting, dan mengancingkan baju.
- Persepsi Visual: Membantu anak mengenali bentuk, mengolah informasi visual, menyalin tulisan, dan memahami posisi serta ruang.
Kedelapan aspek ini saling berhubungan dan melengkapi. Ketika delepan tanda anak siap sekolah, maka anak tidak hanya sekadar bisa duduk di kelas, tetapi juga dapat menikmati proses belajarnya.
Pendampingan Menyeluruh Bersama Atelier of Minds
Melihat pentingnya kesiapan sekolah yang menyeluruh dan tidak instan, Atelier of Minds menghadirkan School Readiness Program, yang dirancang khusus untuk membantu anak membangun fondasi kuat sebelum memasuki jenjang SD.
Program ini mencakup penguatan akademik dan fungsi eksekutif, kemandirian, kemampuan sosial dan emosional, rutinitas harian, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan belajar.
Agar penanganan tepat sasaran, program diawali dengan baseline assessment untuk memahami kebutuhan unik setiap anak. Setelah itu, disusun rencana pembelajaran individual (individualized learning plan) serta pemantauan perkembangan secara berkala. Surat rekomendasi psikolog juga dapat diberikan apabila diperlukan oleh pihak sekolah penampung.
Sebagai student care dan enrichment center inklusif, Atelier of Minds menggabungkan perspektif psikologi, occupational therapist, pendidikan, dan experiential learning untuk mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.
Nyatanya, kesiapan sekolah bukan tentang membuat anak belajar lebih cepat atau berlomba-lomba paling pintar di kelas. Ini adalah tentang memastikan anak memiliki fondasi yang cukup untuk memasuki dunia baru dengan percaya diri, mandiri, dan siap belajar. Saat anak siap secara emosional dan fisik, sekolah bukan lagi beban yang menakutkan, melainkan petualangan belajar yang dinanti setiap hari.
Jadi, apa saja tanda anak siap sekolah yang sudah dilihat pada diri anak, Mam Pap?
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.









and then