Mitos Fakta HPV pada Anak Laki-Laki, Hati-Hati Infeksinya Sering Tidak Bergejala

HVP pada laki-laki

Tahukah Mama Papa kalau, infeksi HPV pada anak laki-laki juga bisa terjadi?

Saat mendengar kata HPV (Human Papillomavirus), apa yang ada di pikiran Mam Pap? Biasanya, langsung tertuju pada kanker serviks dan anak perempuan. Saat ini, banyak dari kita, para orang tua  yang sudah membentengi anak perempuan dengan vaksin. Namun, ada satu fakta besar yang sering terlewat, HPV nyatanya bukan hanya masalah perempuan. Jika Mama Papa memiliki anak laki-laki, mereka pun membutuhkan perlindungan yang sama.

Untuk memahami, HPV pada anak laki-laki, berikut ulasan fakta dan mitos yang dipaparkan Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.D.V.E, Subsp. Ven, di Kelas Jurnalis “Memahami HPV pada Anak Laki-Laki: Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Generasi Masa Depan” yang digagas MSD.

Mitos vs Fakta HPV pada Anak Laki-Laki 

Selama ini, narasi seputar HPV memang sangat melekat dengan kesehatan perempuan. Kebutuhan vaksin HPV untuk anak perempuan yang sudah memasuki usia 11 tahun pun sudah bergaung. Program vaksinasi untuk mencegah infeksi Human Papillomavirus (HPV)  yang menjadi penyebab utama kanker leher rahim (serviks), dan kanker vagina ini sudah masuk dalam program BIAS.

Read More

Tidak cuma anak perempuan, anak laki-laki pun nyatanya memerlukan vaksin HPV. Sebab, virus ini dapat menyebabkan infeksi kulit dan kelamin yang paling umum di seluruh dunia, tanpa memandang gender.

HPV pada Anak Laki-Laki

Mitos ke-1: Hanya Anak Perempuan yang Bisa Terkena HPV

Faktanya: Baik anak perempuan dan laki-laki memiliki risiko yang sama. Hal ini dipaparkan Dr. dr. Hanny Nilasari, selaku Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski), menegaskan bahwa anggapan ini sangat keliru.

“Hanya perempuan yang dapat terkena HPV, itu salah. Faktanya, satu dari tiga pria berusia di atas 15 tahun terinfeksi HPV. Ini menunjukkan bahwa beban globalnya sangat tinggi sekali,” jelas dr. Hanny dalam sesi Kelas Jurnalis yang diadakan MSD.

Pada laki-laki, infeksi HPV tidak bisa dianggap remeh. Jika pada perempuan ia memicu kanker serviks, pada laki-laki virus ini bisa menyebabkan kanker penis, kanker skrotum, hingga kanker anus, mulut, dan tenggorokan.

Mitos ke-2: Vaksin HPV Memicu Perilaku Seks Bebas pada Remaja

Faktanya: Ini adalah ketakutan yang sering menghantui para orang tua. Namun, vaksinasi sama sekali tidak ada hubungannya dengan moral atau perilaku seksual.

Vaksin HPV bekerja dengan cara membangun sistem imun untuk mengenali virus sebelum paparan terjadi. Ibarat memakai helm sebelum berkendara, vaksin ini adalah perlindungan, bukan “tiket” untuk mengebut.

“Vaksin HPV diberikan sebagai bagian dari imunisasi rutin dan tidak akan bisa memengaruhi perilaku seksual. Jangan dibalik-balik ya, karena vaksin ini justru memproteksi kita sejak dini dari paparan HPV,” tegas dr. Hanny.

Mitos ke-3: Virus HPV Hanya Dapat Ditularkan Melalui Hubungan Seksual.

Mitos lain terkait HPV, kata Hanny, anggapan bahwa infeksi virus tersebut hanya dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Faktanya, HPV bisa ditularkan melalui kontak dari kulit ke kulit, aktivitas seksual, termasuk ibu yang melahirkan anaknya secara normal yang memiliki HPV namun tidak pernah identifikasi.

Mitos ke-4 HPV pada Anak Laki-Laki: Vaksin HPV Hanya untuk Negara Barat

Faktanya, vakin ini tentu saja diperlukan untuk semua orang, tidak memandang gender. Termasuk asal negaranya atau kawasan tertentu saja.

“Beberapa negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Arab Saudi sudah menerapkan vaksin HPV netral gender, artinya diberikan pada laki-laki dan perempuan,” papar Dalam hal ini Dr. dr. Hanny Nilasari.

Mengapa vaksin ini begitu penting? Karena penularan adalah dua arah. Data menunjukkan bahwa perempuan cukup sering menginfeksi laki-laki, begitu juga sebaliknya. Dengan memberikan vaksin pada anak laki-laki, Ibu tidak hanya melindungi putra Ibu dari berbagai jenis kanker di masa depan, tetapi juga membantu memutus rantai penularan virus ini di masyarakat.

Hati-hati! HPV pada Laki-Laki Sering Tidak Bergejala

Salah satu tantangan terbesar bagi anak laki-laki, termasuk pada saat mereka sudah dewasa, adalah infeksi HPV sering kali tidak menunjukkan gejala sama sekali. Berbeda dengan perempuan yang memiliki program skrining rutin seperti Pap Smear, laki-laki tidak memiliki metode skrining khusus.

Akibatnya, banyak pria yang terlambat terdeteksi. Mereka mungkin hanya melihat benjolan kecil di area genital atau mulut dan menganggapnya sepele. Padahal, jika yang menginfeksi adalah tipe risiko tinggi seperti HPV tipe 16 dan 18, virus tersebut bisa menjadi persisten atau menetap lama di dalam tubuh.

Terkait dengan benjolan atau kutil di area genital laki-laki, Dr. dr. Hanny Nilasari mengingatkan jangan dianggap sepele dan dibiarkan. “Lakukan pemeriksaan sehingga bisa didiagnosa dengan tepat dan cepat,” tegasnya.

Dikatakan Dr. dr. Hanny Nilasari, lama-kelamaan, virus yang bertahan di permukaan kulit atau mukosa ini bisa memicu perubahan sel menjadi keganasan atau kanker. dr. Hanny mencatat bahwa sering kali pasien pria datang dalam kondisi yang sudah berat atau stadium lanjut karena kurangnya kesadaran untuk melakukan pencegahan sejak dini.

Penularan HVP memang sering kali tidak terduga. Mungkin masih ada yang ragu dan menyangkal, “Anak saya masih kecil, untuk apa vaksin sekarang?”. Penting untuk digarisbawahi, bahwa penularan HPV tidak melulu soal hubungan seksual penetratif.

Faktor imunitas juga memiliki peran yang penting. Seiring bertambahnya usia, imunitas tubuh menurun, membuat virus lebih mudah menyerang jika tidak ada perlindungan dari vaksin sejak dini.

Oleh karena itu, imunisasi HPV saat anak masih di usia sekolah dinilai paling efektif. Pada usia ini, respon imun anak sedang dalam kondisi prima untuk membentuk perlindungan jangka panjang.

HPV pada Anak Laki-Laki: Pencegahan adalah Investasi Terbaik

Mengobati penyakit akibat HPV bukan hanya soal biaya, tapi juga soal waktu, mental, dan kualitas hidup anak di masa depan. Proses pengobatan mulai dari diagnosis hingga terapi bisa memakan waktu yang sangat lama dan melelahkan.

“Prevention is better than cure. Pengobatan HPV bisa memakan waktu lama. Padahal, kita bisa mencegahnya sejak awal dengan vaksinasi,” pungkas dr. Hanny.

Memberikan vaksin HPV pada anak laki-laki adalah bentuk kasih sayang. Ini sebagai “perisai” yang akan melindungi mereka hingga puluhan tahun mendatang. Jangan biarkan mitos atau pun berita hoaks soal HVP menghalangi perlindungan bagi anak-anak, ya.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

54 ÷ = nine