Campak adalah salah satu penyakit paling menular dan bisa menimbulkan masalah serius pada anak. Vaksin campak adalah cara paling efektif untuk mencegah campak. Namun, masih banyak orang tua yang khawatir dengan efek samping vaksin campak pada anak.
Benarkah vaksin campak bisa menimbulkan kecacatan? Adakah efek samping vaksin campak yang harus diwaspadai? Bagaimana dosis pemberiannya? Simak jawaban dari para ahlinya dalam artikel berikut, MamPap.
Campak Lebih Menular dari Wabah Covid
Penyakit campak pada anak sudah lama dikenal di Indonesia dan seringkali disepelekan. Bagi sebagian orang, gejala campak dinilai masih tergolong ringan. Padahal pada anak-anak dengan kondisi khusus, campak bisa menjadi berat dan menimbulkan komplikasi hingga kematian.
Pada kondisi yang berat, masalah yang lebih serius seperti pembengkakan otak, infeksi dada, atau kematian dapat terjadi.
Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menyebutkan, penyakit campak bahkan jauh lebih menular dari wabah Covid-19. “Kita kemarin Covid saja sudah takut. Nah, campak ini 4 atau 5 kali lipat lebih menular daripada Covid. Oleh karena itu, cakupan imunisasi pada kasus ini harus lebih tinggi harus di atas 95% supaya ada dampak Herd Immunity atau kekebalan komunitas,” ungkap dr. Piprim dalam seminar media IDAI KLB Campak.
Cegah Campak dengan Vaksin
Dampak campak yang cukup berisiko menjadikan tindakan pencegahan menjadi penting. Vaksin campak sangat efektif untuk mencegah campak.
Di Indonesia sendiri, pemerintah sudah menyediakan vaksin untuk mencegah penyakit ini, yaitu vaksin MR atau Vaksin Campak Rubella yang sekaligus dapat mencegah penyakit campak dan rubella atau Campak Jerman.
Dosis Vaksin MR Harus Diulang
Prof DR Dr Hartono Gunardi, SpA, Subs TKPS(K), Ketua Satgas Imunisasi IDAI menjelaskan, vaksin MR ini bisa diberikan sejak usia anak 9 bulan. Kemudian diulang dosis keduanya pada usia 18 bulan. Lalu pada anak tingkat Sekolah Dasar kelas 1 atau usia 7 tahun juga akan diberikan vaksin MR dosis ke 3.
“Mengapa harus diulang? Pada vaksin pertama, seorang anak akan mendapatkan antibodi, dan antibodi ini akan meningkat dan berangsur menurun seiring berjalannya waktu. Setelah mendapatkan vaksin dosis ke-2, maka antibodi yang ditimbulkan akan jauh lebih cepat dan lebih tinggi dibandingkan dosis pertama. Jadi, alasannya kenapa harus diulang hingga dosis 2 dan 3 agar anak bisa mendapatkan antibodi dalam jangka lebih panjang,” ungkap Prof. Hartono dalam seminar media yang sama.
Ia juga menambahkan, anak yang mendapatkan 1 dosis MR akan mendapat perlindungan dari penularan penyakit sebesar 85%, sedangkan jika mendapatkan 2-3 dosis, bisa mendapatkan perlindungan penularan penyakit sebesar 95-97%. Vaksin MR ini juga bisa diberikan bersamaan dengan vaksin lain.
“Pada anak-anak yang belum imunisasi atau imunisasinya tidak lengkap, bisa dikejar,” tambah Prof. Hartono.
Kapan Anak Boleh Mendapatkan Vaksin Campak?

Anak bisa mendapat vaksin campak saat sedang sehat. Tapi, kalau kondisi tubuh anak sedang kurang fit, vaksin tetap bisa diberikan asalkan kondisinya ringan, seperti:
- Pilek
- Batuk pilek tanpa demam.
- Demam ringan
- Diare ringan
- Alergi makanan
- Gizi kurang
Kapan Anak Tidak Boleh Mendapatkan Vaksin Campak?
Prof. Hartono mengatakan, ada beberapa kondisi pada anak yang tidak diperbolehkan mendapatkan vaksin campak, di antaranya:
- Anak yang daya tahan tubuhnya sedang menurun, atau anak yang sedang mendapatkan pengobatan kortikosteroid dosis tinggi atau anak yang mengalami masalah ginjal.
- Anak yang mendapatkan pengobatan imunosupresant.
- Anak dalam kondisi sakit atau demam tinggi.
- Anak yang mengalami sakit berat atau keganasan, seperti leukimia, gagal jantung, sesak napas, anemia berat, dan lain sebagainya.
Efek Samping Vaksin Campak
Prof. Hartono menegaskan, efek samping campak umumnya masih tergolong ringan dan bisa sembuh sendiri. Berikut beberapa efek samping campak:
- Demam 7-12 hari setelah penyuntikkan. Namun ia menegaskan, efek samping ini tidak dirasakan semua anak, tetapi hanya 5-15 % yang merasakannya. Demam ini juga bersifat ringan.
- Ruam dan bercak merah yang timbul setelah 2 minggu pertama. Namun, hanya 2% anak yang mengalami ini.
- Nyeri sendi yang dialami 0-3% anak.
Benarkah Vaksin Campak Bisa Menimbulkan Kecacatan?
Di tengah berkembangnya teknologi kesehatan, ternyata masih banyak orang tua yang khawatir dengan efek samping vaksinasi. Salah satu yang sempat ramai diberitakan adalah vaksin campak disebut bisa menimbulkan kecacatan. Benarkah hal tersebut?
Menanggapi hal ini, Prof. Hartono meluruskan bahwa kabar tersebut memang sempat beredar di tahun 1990-an tentang efek vaksin pada anak.
“Pernah memang dulu tahun 1990-an beredar bahwa vaksin MMR (campak, gondongan, dan Rubella), itu bisa menyebabkan anak autisme. Tapi, itu adalah penelitian hoaks. Penelitian itu hanya meliputi 12 anak yang diundang ke pesta ulang tahun peneliti tersebut. Dan itu penelitiannya sudah ditarik, dan dokter yang meneliti itu sudah di-banned juga tidak boleh praktik. Itu sempat menghebohkan. Jadi, di seluruh dunia sudah merekomendasikan vaksinasi ini untuk mencegah wabah,” jelasnya.
Prof DR Dr Edi Hartoyo, SpA, Subs IPT(K), Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI juga menambahkan, “Vaksin campak itu virus yang dilemahkan. Jadi, dia tidak memiliki kemampuan untuk menyebabkan infeksi yang berat. Justru, ia bisa merangsang sistem imun kekebalan. Karena itu, risiko untuk terjadinya aktivasi (virus) sangat kecil, karena virusnya sudah dilemahkan. Jadi, pendapat bisa menyebabkan kecacatan tidak benar. Kalau hanya demam biasa (efek samping), itu pun sedikit kejadiannya, itu bisa saja,” katanya.
KLB Campak di Sumenep
Kasus KLB campak yang terjadi di Kabupaten Sumenep Jawa Timur mengingatkan kita untuk mulai waspada dan melakukan tindakan pencegahan, salah satunya melengkapi vaksinasi anak.
Diketahui selama Januari hingga Agustus 2025, kasus campak di Sumenep sudah mencapai lebih dari 2000 kasus. Pengaruh cuaca dan angka imunisasi yang rendah karena kekhawatiran dan anggapan keliru masyarakat terhadap efek samping vaksin campak bisa menjadi beberapa faktor masifnya penyebaran penyakit ini.
Dokter Piprim menilai, kejadian KLB tersebut mencerminkan adanya kesenjangan cakupan imunisasi di Indonesia. “Kalau cakupannya turun sampai 60 persen saja, KLB sudah bisa terjadi di mana-mana,” ungkapnya.
Hingga saat ini, Kemenkes menetapkan 46 KLB campak pada 42 kabupaten/kota di 14 provinsi.
Demikian penjelasan tentang efek samping vaksin campak yang sering disalahartikan oleh masyarakat. Sebagai orang tua, MamPap harus lebih bijak dan pintar memilih serta menerima informasi yang valid dan tidak valid. Semoga keluarga kita selalu diberikan kesehatan ya, MamPap.
Content Writer Parentsquads










and then