6 Hoaks Vaksin HPV, Cek untuk Lindungi Anak Perempuan dan Lelaki Tersayang!

hoaks vaksin HPV

Tahukah Mama Papa jika di Indonesia setiap jam ada dua perempuan meninggal karena kanker leher rahim? Fakta ini tentu saja mengkhawatirkan, dan bisa menjadi alarm dan mengingatkan pentingnya vaksin HPV.  Jangan sampai masih percaya dan termakan hoaks vaksin HPV yang justru menyesatkan.

Dalam sesi Kelas Jurnalis, Melawan Misinformasi kanker Leher Rahim di Era AI yang diselenggarakan oleh MSD Indonesia dengan dukungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Staf Khusus Menteri Kesehatan RI, Drg. Monica R. Nirmala, MPH, memaparkan bahwa kanker leher rahim masih menjadi ancaman serius bagi perempuan Indonesia.

Ia pun memaparkan bahwa di Indonesia, setiap tahunnya mencatat sekitar 36.000 kasus baru dan 21.000 kematian. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya beban kanker serviks di tanah air, terlebih sebagian besar kasus ditemukan dalam kondisi yang sudah terlambat. “Padahal sebenarnya kita bisa mencegahnya lewat imunisasi HPV,” ujarnya dengan tegas.

Ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa masyarakat tidak melakukan vaksin HVP, salah satunya akibat misinformasi atau hoaks vaksin HPV yang banyak beredar di sosial media. Padahal, efikasi satu dosis vaksin HPV mampu melindungi 80 persen sampai 90 persen perempuan dari virus HPV.

Read More

Hal ini tegaskan oleh Dokter spesialis anak bidang tumbuh kembang anak dan pediatri sosial dari Universitas Indonesia Prof. Soedjatmiko, Sp.A. Ia pun menegaskan penularan virus Human Papilloma atau HPV bukan semata dari faktor hubungan seksual tapi juga karena faktor lingkungan.

Bahkan paparan virus juga bisa ditemukan di toilet jongkok ada 53 persen, di wastafel 14,2 persen di pegangan pintu ada, di puskesmas ada, di rumah sakit obgyn ada, di rumah sakit umum ada, dan konsentrasi virusnya cukup tinggi. “Artinya gampang bisa menular,” tegas Soedjatmiko.

hoaks vaksin HPV

Prof Soedjatmiko mengatakan Human Papillomavirus atau virus HPV sangat rentan terjadi pada anak perempuan di bawah 15 tahun. Vaksinasi HPV pada anak perempuan usia 11 tahun atau kelas 5 SD menjadi prioritas pemerintah saat ini untuk mengeliminasi virus HPV penyebab kanker leher rahim. Untuk itulah anak perempuan penting untuk diberikan vaksin atau imunisasi HPV.

“Untuk anak perempuan tidak perlu menunggu sampai menstruasi lebih dulu, saat ini cukup diberikan 1 kali aat anak usia 5 SD, atau 6 SD, tapi jika terlambat dan tidak mendapatkan vaksin gratis dari pemerentah jangan lupa lakukan vaksin secara mandiri di usia 15 tahun.”

Virus HPV Tidak Terasa Selama 15-20 Tahun

Fakta mengejutkan lain yang harus diketahui adalah dalam dunia medis, sudah lama diketahui bahwa infeksi HPV dapat terjadi bertahun-tahun sebelum seseorang akhirnya didiagnosis mengalami lesi pra-kanker atau kanker serviks. Rentang waktunya memang panjang, dan prosesnya bertahap sampai akhirnya terdiagnosa kanker leher rahim.

Prof. Soedjatmiko menegaskan bahwa HPV sering kali tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat berkembang menjadi kanker setelah 15–20 tahun berada dalam tubuh tanpa disadari karena tidak terasa selama bertahun-tahun, bahkan bisa tidak menunjukkan gejala sama sekali selama 15 hingga 20 tahun.

Hal ini karena virus dapat masuk ke dalam tubuh dan tetap dalam kondisi dorman (tidak aktif) selama periode tersebut. Namun, bagi beberapa orang, virus ini dapat berkembang menjadi masalah kesehatan serius seperti kutil kelamin atau bahkan kanker, terutama kanker serviks, yang gejalanya mungkin baru muncul setelah bertahun-tahun.

Virus HVP ini juga sebenarnya bisa hilang dengan sendirinya. Pada kebanyakan kasus, sistem kekebalan tubuh dapat memberantas virus HPV dalam waktu satu hingga dua tahun. Jika virusnya hilang dengan sendirinya, sehingga seseorang yang pernah terinveksi tidak menyadarinya.

Vaksin HPV Perlu Diberikan pada Anak Laki-laki

Selain menjadi penyebab 71% kanker serviks, nyatanya HPV juga memicu berbagai penyakit lain seperti kanker vagina, vulva, penis, orofaring, hingga 90% kasus kutil kelamin. Oleh karena itu vaksin HVP ini juga perlu diberikan pada anak laki-laki.

Menurut Prof. Soedjatmiko Prof. Soedjatmiko juga menekankan bahwa virus HPV bisa menular ke laki-laki, meski angka infeksinya memang lebih sedikit dibandingkan perempuan. Pencegahan melalui vaksinasi dan edukasi sejak dini menjadi kunci untuk melindungi generasi muda dari risiko penyakit serius ini.

“Virus pada leher rahim perempuan bisa menularkan pada laki-laki, tapi angka studinya memang pada laki-laki lebih sedikit dibandingkan perempuan. Pencegahan melalui vaksinasi dan edukasi sejak dini menjadi kunci untuk melindungi generasi muda dari risiko penyakit serius ini.”

Hoaks Vaksin HPV yang Bikin Orang Tua Khawatir

Tidak bisa dipungkiri, bahwa di era media sosial, informasi bisa menyebar cepat termasuk informasi yang salah. Salah satu yang paling sering menimbulkan kepanikan di kalangan orang tua adalah hoaks tentang vaksin HPV. Padahal, vaksin HPV merupakan salah satu langkah penting untuk melindungi anak perempuan dan laki-laki) dari penyakit berbahaya akibat Human Papillomavirus, termasuk kanker serviks. Berdasarkan data Komdigi, tahun 2024 ada 1.900 konten hoax vaksin HPV, dengan 163 di antaranya terkait isu kesehatan, utamanya mengenai vaksinasi dan obat herbal.

Untuk membantu Mam Pap mendapatkan gambaran yang benar, Parentsquads merangkum hoaks vaksin HPV yang masih banyak dipercaya. Berikut penjelasan lengkap dari Prof. DR. Dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), MSi, Guru Besar FKUI dan Dokter Spesialis Anak Konsultan, yang aktif dalam bidang imunisasi anak dan remaja.

1.  Hoaks vaksin HPV Menyebabkan Kemandulan

Ini adalah hoaks yang paling sering beredar. Banyak narasi menakutkan yang mengaitkan vaksin HPV dengan kemandulan atau gangguan kesuburan jangka panjang. Hal uni tentu saja menyebabkan kekhawartiran para orang tua untuk memberikan vaksin buah hatinya.

Padahal faktanya Vaksin HPV tidak bekerja di organ reproduksi, melainkan menstimulasi sistem imun agar mengenali virus HPV. Prof. Soedjatmiko menegaskan bahwa gangguan kesuburan umumnya disebabkan oleh infeksi, penyakit bawaan, atau faktor lain, bukan oleh vaksin.

2. Hoaks vaksin HPV Membuat Rahim Kering atau Rusak

Istilah “rahim kering” sering dipakai dalam unggahan viral, padahal ini tidak dikenal dalam dunia medis. Faktanya tidak ada bukti ilmiah mengenai hal ini, tidak ada satu pun penelitian yang menunjukkan bahwa vaksin HPV memengaruhi struktur rahim, sel telur, atau hormon perempuan. Menurut Prof. Soedjatmiko istilah seperti ‘rahim kering’ itu bukan istilah medis, dan tidak ada hubungannya dengan vaksin HPV. Narasi seperti ini murni yang dibuat untuk menakut-nakuti orang tua.

3. Vaksin HPV Sebabkan Gangguan Menstruasi atau Menopause Dini

Beberapa video viral menuduh vaksin HPV menyebabkan haid tidak teratur atau bahkan menopause dini. Faktanya tentu saja tidak demikian, karena fluktuasi menstruasi pada remaja adalah hal normal, terutama pada anak yang baru memasuki pubertas. Polanya bisa dipengaruhi karena stres, kurang tidur, perubahan aktivitas fisik, perubahan berat badan bukan oleh vaksin.

4. Hoaks vaksin HPV: Hanya untuk Pempuan yang Sudah Aktif Seksual

Beberapa orang tua mengira vaksin ini baru boleh diberikan jika anak sudah menikah atau berhubungan seksual. Faktanya justru sebaliknya. Vaksin HPV paling efektif diberikan sebelum terpapar virus, yang paling ideal adalah saat anak memasuki usia 9–14 tahun. Pemberian vaksin HVP bukan tentang perilaku seksual tetapi ini tentang pencegahan sejak dini.

5. Pemberian Vaksin HPV Perlu Melakukan Papsmear Salah Satu Hoaks Vaksin HPV

Salah satu hoaks vaksin HPV yang banyak beredar adalah untuk mendapatkan vaksin HPV harus melakukan papsmear, sehingga tidak aman diberikan pada anak atau remaja. Padahal, jika diberikan ada anak-anak tentu saha tidak diperlukan papsmear dulu sebelum pemberian vaksin HPV. Pemeriksaan papsmear sebelum vaksin HPV hanya perlu dilakukan oleh perempuan yang pernah menikah atau sudah berhubungan seks.

6. Hoaks Vaksin HPV: Berbahaya karena Efek Sampingnya Berat dan Mematikan

Ada konten yang mengklaim vaksin HPV menyebabkan kelumpuhan atau kematian. Faktanya justru efek samping serius sangat jarang. Efek samping yang umum biasanya ringan dan hilang sendiri, misalnya kemerahan di tempat suntikan, demam ringan.

“Apa tidak kasian dan tidak sedih jika orang terdekat seperti ibunya atau keluarga ada yang meninggal karena kanker leher rahim? KIPI dari vaksin ini justri tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan akibatnya yang bisa menyebabkan kematian. Belum lagi jika kita mebahas soal biayanya,” tegas Prof Soedjatmiko.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine + one =