Nafsu Makan Anak Menurun? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

nafsu makan anak menurun
I hate a vegetables! I'm not eating this!

Melihat nafsu makan anak menurun tentu bikin was-was ya, MamPap. Kondisi ini tentu saja tidak bisa kita dianggap sepele. Sebab, jika dibiarkan terus menerus bisa mengakibatkan anak mengalami gangguan makan, kondisi ini tentu saja menghambat tumbuh kembang. Tidak hanya pertumbuhan fisik tetapi juga perkembangan otak dan kesehatan mental.

Pada saat nafsu makan anak menurun, bisa menjadi salah satu tanda terjadinya gangguan makan. Tidak hanya kehilangan kehilangan nafsu makan, anak juga cenderung jadi hanya mau makanan tertentu (picky eater), atau makan dalam jumlah yang sangat sedikit.

Ikatan Dokter Anak Indonesia menyebutkan kalau masalah ini paling umum terjadi pada usia 1 hingga 3 tahun, tetapi bisa berlanjut hingga usia sekolah jika tidak diatasi sedini mungkin. Selain picky eater, ganggguan makan pada anak yang kerap ditemui selective eater. Apa bedanya?

Picky eater dapat diartikan kondisi anak yang mau mengonsumsi berbagai jenis makanan baik yang sudah maupun yang belum dikenalnya tetapi akan menolak mengonsumsi dalam jumlah yang cukup. Sementara selective eater, anak akan menolak segala jenis makanan dalam kelompok makanan tertentu. Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan bahwa picky eater masih merupakan fase normal dalam perkembangan seorang anak, lain halnya dengan selective eater yang mengakibatkan anak berisiko mengalami defisiensi makro atau mikronutrien tertentu.

Read More

Meski demikian, kondisi gangguan makan pada anak tentu saja perlu diatasi. Biar bagaimana pun, makan menjadi salah satu kebutuhan dasar yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.

Dampak Serius Nafsu Makan Anak Menurun

gangguan makan pada anak

Nafsu makan anak yang menurun jika hanya terjadi sesekali saja merupakan hal yang wajar, terutama saat anak sedang sakit, tumbuh gigi, atau mengalami perubahan rutinitas. Namun, jika kondisi ini berlangsung lama atau terjadi secara terus-menerus, bisa berdampak serius dan mengarah pada gangguan makan yang lebih kompleks.

Berikut adalah dampak serius dari nafsu makan anak yang menurun secara berkepanjangan, serta penjelasan apakah kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan makan pada anak.

Ya, perlu digarisbawahi bahwa kondisi nafsu makan anak menurun yang terjadi secara terus-menerus dan tidak ditangani dengan tepat dapat berkembang menjadi gangguan makan pada anak. Mulai dari picky eater, selective eating seperti yang sudah dijelaskan di atas. Termasuk Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID), di mana anak secara konsisten menghindari makanan tertentu atau memiliki asupan yang sangat terbatas tanpa alasan medis yang jelas.

Kondisi ini tentu saja dapat beriko terjadi hal-hal di bawah ini:

1. Pertumbuhan fisik anak tidak optimal: Anak mengalami keterlambatan pertumbuhan, termasuk risiko tinggi mengalami stunting.

2. Perkembangan otak anak yang tidak optimal : Kekurangan gizi memengaruhi perkembangan kognitif, kemampuan belajar, dan fokus anak.

3. Terjadinya gangguan sistem kekebalan tubuh: Anak lebih rentan terkena infeksi karena lemahnya daya tahan tubuh.

Sampai saat ini masalah stunting masih menjadi salah satu konsekuensi paling serius, khususnya di Indonesia sendiri. Menurut World Health Organization (WHO), stunting merupakan akibat dari kekurangan gizi kronis yang terjadi dalam jangka panjang, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan anak. Anak yang mengalami stunting tidak hanya memiliki postur tubuh lebih pendek dari rata-rata usianya, tetapi juga cenderung mengalami penurunan fungsi kognitif dan kesulitan dalam pencapaian akademis.

Tak hanya itu, gangguan perilaku dan emosional juga sering ditemukan pada anak-anak dengan pola makan yang buruk. Mereka lebih mudah marah, cemas, dan mengalami gangguan tidur. Sebuah studi yang dimuat dalam Jurnal Pediatrics (2022) menunjukkan bahwa pola makan yang tidak sehat sejak dini dapat meningkatkan risiko depresi dan gangguan perilaku di kemudian hari.

Gangguan Makan pada Anak, Kapan Harus Waspada?

Orang tua perlu lebih waspada jika anak menunjukkan gejala berikut:

  1. Nafsu makan menurun selama lebih dari 7 hari
  2. Berat badan stagnan atau bahkan turun
  3. Menolak makan tanpa alasan yang jelas,
  4. Anak tampak lesu, tidak fokus, atau tidak aktif seperti biasanya

Cara Mengatasi Gangguan Makan pada Anak

Berikut beberapa pendekatan yang lebih efektif daripada sekadar memaksa anak untuk makan:

1. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan

Hindari memarahi atau memaksa anak makan. Jadikan waktu makan sebagai momen yang menyenangkan dan bebas stres. Ingat, ya, MamPap bahwa pada saat anak merupakan proses si kecil belajar.

2. Variasikan menu setiap hari

Cobalah untuk mengubah cara penyajian makanan. Si kecil akan tertarik dengan visual yang menarik, untuk itu buat tampilan makan menarik atau bentuk lucu agar anak lebih tertarik. Selain itu, MamPap perlu mengenalkan makanan baru secara bertahap (8-15 kali) agar si kecil terbiasa dan mendapatkan nutrisi yang lengkap. Jadi, jangan hanya menyajikan satu dua menu saja ya.

3. Jangan takut rasa

Sama seperti kita, ya, MamPap, anak juga akan menyukai makanan dengan rasa yang enak dan lezat. Jadi, coba perhatikan rasa makanan yang disajikan, sudah bisa menggugah selera atau tidak?

4. Libatkan anak dalam proses menyiapkan makanan

nafsu makan anak menurun

Anak yang ikut memilih atau membantu menyiapkan makanan cenderung lebih semangat untuk mencicipi hasilnya. Selain itu anak juga akan merasa dihargai dan didengar pendapatnya.

5. Tetapkan waktu makan yang konsisten bantu cegah nafsu makan anak menurun

Terlihat sepele dan sering diabaikan, nyatanya jadwal yang teratur membantu anak membangun kebiasaan pola makan yang sehat.

6. Konsultasikan dengan profesional kesehatan

Jika Mama khawatir gangguan makan pada anak berlanjut dan menghambat tumbuh kembangnya, segera berkonsultasilah dengan dokter atau ahli gizi anak. Dengan begitu, dokter tentu dapat melakukan evaluasi dan memberikan panduan yang tepat sesuai dengan kondisi anak.

7. Jika diperlukan gunakan suplemen

Pada saat nafsu makan anak menurun, pemberian suplemen untuk membantu nutrsi bisa MamPap berikan. Salah satu suplemen yang dapat membantu mengatasi masalah makan pada anak adalah Paramorina PE-D, yang bisa diberikan mulai usia 6 bulan.

Suplemen ini mengandung beberapa bahan alami, seperti temulawak  yang membantu merangsang nafsu makan dan pencernaan, moringa atau daun kelor yang kaya nutrisi,  unyit dan jintan hitam yang dapat membantu mendukung sistem imun serta sari kurma yang dapat membantu meberikan energi alami untuk anak,

Menurut CEO Paramorina, Evy Kusumaningtyas, produk ini tidak hanya membantu mengatasi masalah nafsu makan anak menurun, tapi juga memperbaiki pola makan dan mendukung proses belajar berjalan anak. Teksturnya cair dan mudah dikonsumsi anak tanpa rasa terlalu manis atau pahit.

Nafsu makan anak menurun memang bisa terjadi kapan saja. Namun jangan sampai berakibat terkadinya gangguan makan. Dengan pemahaman yang baik, dukungan emosional, pendekatan yang kreatif, serta pemantauan nutrisi yang konsisten, gangguan ini dapat diatasi sebelum menimbulkan dampak jangka panjang.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifty three + = fifty nine