Pernah nggak, Ma, si kecil tiba-tiba jadi lebih rewel, sulit diajak bekerja sama, atau menangis tanpa sebab yang jelas setelah seharian bermain? Sekilas mungkin ia terlihat seperti sedang bad mood atau kelelahan. Padahal, kondisi tersebut juga bisa menjadi salah satu ciri-ciri anak overstimulasi.
Overstimulasi bisa terjadi ketika anak menerima terlalu banyak rangsangan dalam waktu bersamaan, mulai dari suara, aktivitas, hingga lingkungan yang ramai. Saat otaknya kewalahan memproses semua stimulasi tersebut, anak bisa menunjukkan berbagai perubahan perilaku sebagai cara untuk memberi tahu bahwa ia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Karena setiap anak dapat menunjukkan respons yang berbeda, penting bagi MamPap untuk mengenali ciri-ciri anak overstimulasi sejak dini. Dengan begitu, Mama bisa memberikan respons yang tepat dan membantu si kecil kembali merasa nyaman.
Yuk, kenali apa saja ciri-ciri anak yang sedang mengalami overstimulasi dan bagaimana cara membantunya merasa lebih tenang.
Apa Itu Overstimulasi?
Stimulasi berlebihan terjadi ketika anak merasa kewalahan akibat pengalaman, sensasi, kebisingan, dan aktivitas yang melebihi kemampuan mereka untuk mengatasinya.
Sebagai contoh, bayi baru lahir mungkin menjadi sangat gelisah setelah acara pesta di mana mereka digendong oleh banyak orang dewasa. Anak usia prasekolah mungkin tantrum setelah acara besar seperti pesta ulang tahun. Anak yang mengalami stimulasi berlebihan atau overstimulasi membutuhkan waktu tenang serta lingkungan yang familiar dan menenangkan.
Dikutip dari Healthline, kondisi overstimulasi berlebihan pada bayi cukup sering terjadi. Dan kondisi ini paling sering terjadi pada rentang usia sekitar 2 minggu hingga 3 atau 4 bulan.
Anak-anak yang lebih besar juga bisa mengalami stimulasi berlebihan. Sebagai contoh, Mama dan Papa mungkin mendapati balita atau anak usia prasekolah Anda mengamuk atau menangis tantrum setelah seharian beraktivitas di luar bersama teman dan keluarga.
Ya, overstimulasi pada anak dapat terjadi pada usia berapa pun, namun mungkin lebih sering terjadi pada bayi di empat bulan pertama.
Tanda-tanda Bayi Mengalami Stimulasi Berlebihan
Kondisi stimulasi berlebihan (overstimulasi) bisa tampak berbeda pada setiap anak, namun ada beberapa tanda umum atau ciri-ciri yang mungkin Anda temukan.
Ciri-ciri anak overstimulasi pada bayi, antara lain:
- Menangis, biasanya lebih keras dari biasanya.
- Menarik diri dari sentuhan Anda atau memalingkan wajah menjauhi Anda.
- Ingin digendong
- Ingin menyusu lebih sering.
- Menjadi sangat rewel atau mudah marah.
- Mengepalkan tangan atau menggerak-gerakkan lengan dan kaki.
- Tampak ketakutan
- Mengamuk (tantrum)
- Gelisah atau tersentak-sentak.
- Tampak sangat kelelahan
- Melakukan tindakan untuk menenangkan diri sendiri, seperti mengisap tangan atau tangan mengepal.
Sedangkan pada balita dan anak-anak yang lebih besar mungkin menunjukkan tanda-tanda stimulasi berlebihan yang berbeda, di antaranya:
- Menangis tanpa bisa menjelaskan apa masalahnya.
- Menjatuhkan diri ke lantai karena marah.
- Berperilaku memberontak atau sulit diatur.
- Menolak untuk mendengarkan.
- Bersikap ketus, agresif, atau terlalu aktif (hiperaktif).
Cara Menenangkan Bayi yang Mengalami Overstimulasi
Anda bisa melakukan beberapa langkah untuk menenangkan bayi yang mengalami stimulasi berlebihan:
1. Jauhkan Bayi dari Situasi Tersebut
Saat Anda menyadari bayi mengalami stimulasi berlebihan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memindahkan bayi ke tempat yang lebih tenang dan pencahayaannya redup.
Tempat ini bisa berupa kamar bayi, ruangan yang gelap di rumah, gendongan bayi (wrap atau carrier) di dada Anda, kereta dorong (stroller), atau bahkan car seat. Pastikan saja ruangannya tenang dan ajak bayi ngobrol dengan suara yang tenang dan lembut.
Jika memungkinkan, hindari warna-warna cerah karena dapat memberikan stimulasi berlebih.
2. Bedong Bayi
Anda juga bisa mempertimbangkan untuk membedong bayi. Membedong memberikan dekapan yang stabil, meniru kenyamanan di dalam rahim, dan meredam refleks kejut (refleks Moro), yang bagi sebagian bayi terasa menenangkan.
Namun, tidak semua bayi suka dibedong. Jadi jika si kecil tidak menyukainya, itu juga tidak masalah.
3. Tenangkan dengan White Noise
Anda juga bisa memutar musik lembut atau menyalakan mesin white noise. Hindari penggunaan TV atau gadget, terutama bagi anak-anak di bawah usia 2 tahun.
4. Gendong Bayi
Beberapa bayi ingin digendong atau disentuh, namun banyak juga yang tidak. Faktanya, bayi yang sedang berada dalam fase perkembangan, yakni kira-kira antara usia 2 minggu hingga 4 bulan, mungkin akan menolak sentuhan dan pelukan saat mereka mengalami overstimulasi, karena justru hal itulah yang memicu stimulasi berlebihan tersebut.
Jika si kecil tampak menjauh saat Anda menyentuhnya, baringkan ia telentang di tempat yang aman, seperti di ranjangnya, lalu duduklah di dekatnya sampai ia menjadi tenang.
Penyebab Stimulasi Berlebihan pada Anak
Setiap anak berbeda, namun beberapa hal yang dapat membuat si kecil kewalahan dan overstimulasi, antara lain:
- Lingkungan: Beberapa bayi atau anak balita mungkin merasa kewalahan di tempat yang bising, ramai, terlalu terang, atau penuh warna.
- Screentime yang berlebihan: TV, gadget, dan perangkat lainnya bisa jadi terlalu berat untuk diproses oleh otak bayi yang berusia di bawah 18 bulan. Itulah sebabnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan untuk menghindari screentime dengan gadget pada bayi.
- Terlalu banyak aktivitas: Ada alasan mengapa balita terkadang mengamuk di akhir acara pesta ulang tahun atau setelah seharian bermain di taman. Aktivitas yang berlebihan dapat membuat indra mereka kewalahan.
- Melewatkan tidur siang atau tidur terlalu larut: Kelelahan yang ekstrem dapat dengan cepat membuat bayi Anda kewalahan dan overstimulasi.
- Gangguan pada rutinitas: Bayi adalah makhluk yang terbiasa dengan rutinitas, sehingga perubahan jadwal dapat membuat mereka rewel.
- Terlalu banyak orang: Beberapa bayi mungkin senang bertemu banyak orang, sementara yang lain bisa cepat merasa kewalahan saat melihat wajah-wajah baru atau berada di tengah keramaian.
- Suhu: Suhu yang terlalu dingin atau terlalu panas dapat berkontribusi pada terjadinya stimulasi berlebihan.
- Tumbuh gigi: Meskipun bersifat sementara, proses tumbuh gigi dapat membuat bayi merasa tidak nyaman dan mengurangi toleransi mereka terhadap rangsangan lain.
- Kondisi medis tertentu: Sebagai contoh, anak dengan autisme memiliki sistem sensorik yang lebih sensitif, sehingga mereka lebih mudah merasa kewalahan oleh rangsangan berupa penglihatan, suara, sentuhan, bau, atau rasa. Anak yang sedang mulai sakit juga bisa lebih mudah mengalami overstimulasi.
Kapan Harus ke Dokter?
Wajar saja jika anak sesekali mengalami overstimulasi. Namun, dalam beberapa kasus, stimulasi berlebihan yang sering terjadi bisa menjadi tanda adanya kondisi lain, seperti masalah sensorik atau autisme.
Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika:
- Perilaku anak mengganggu rutinitas sehari-hari.
- Anak kesulitan bergerak atau berdiri.
- Reaksi anak terlalu sulit untuk ditangani sendiri.
- Pastikan juga untuk selalu membawa anak menjalani pemeriksaan kesehatan rutin, agar dokter dapat memantau perkembangan dan perilakunya. Jika anak tampak belum mencapai tahapan perkembangan yang sesuai dengan usianya atau jika kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai justru menghilang (regresi), segeralah berkonsultasi dengan dokter.
Cara Mencegah Stimulasi Berlebihan pada Bayi
Saat bayi mengalami stimulasi berlebihan, berbagai rangsangan, termasuk suara, pemandangan, aroma, dan sentuhan dapat dengan mudah membuatnya kewalahan dan memicu ledakan emosi atau tangisan hebat. Situasi ini bisa sulit dihadapi oleh setiap orang tua, dan kondisinya bisa memburuk jika tidak ditangani.
Langkah terbaik yang bisa Anda lakukan adalah mengenali hal-hal apa saja yang memicu stimulasi berlebihan pada anak. Dengan begitu, Anda bisa menghindari situasi pemicu, melakukan persiapan sebelumnya, atau segera menjauhkan bayi dari situasi tersebut saat ia mulai menunjukkan tanda-tanda stimulasi berlebihan.
Selain itu, kenali ciri-ciri stimulasi berlebihan.Mengenali pemicu dan tanda-tanda pada bayi Anda dapat membantu Anda berupaya mencegah stimulasi berlebihan atau merencanakan cara mengatasinya saat hal tersebut terjadi. Berikut adalah beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk membatasi atau mencegah anak mengalami stimulasi berlebihan:
-
Atur Jadwal Istirahat
Pastikan anak memiliki waktu jeda atau waktu santai di antara berbagai aktivitas atau acara. Misalnya, jika mengajaknya pergi ke taman, pastikan bayi memiliki waktu untuk tidur siang di rumah setelahnya. Atau, jika Anda memperkenalkan bayi kepada teman dan keluarga, ajaklah mereka ke ruangan yang tenang untuk beristirahat sejenak dari interaksi yang intens. Waktu istirahat sebaiknya dilakukan di tempat yang tenang dan familier bagi bayi.
-
Batasi Durasi Aktivitas
Bayi, terutama pada beberapa bulan pertama belum siap menjalani hari yang padat dengan berbagai urusan, pertemuan, dan aktivitas lainnya. Cobalah menjadwalkan kegiatan di luar rumah dalam durasi singkat dan waktu yang dapat diprediksi.
-
Buat Rutinitas dan Patuhi Jadwal Tersebut
Cobalah untuk tetap mengikuti jadwal makan, tidur siang, dan tidur malam yang teratur, meskipun Anda sedang tidak berada di rumah.
-
Batasi Screentime
Penggunaan layar gadget sebaiknya dihindari, terutama untuk anak di bawah usia 2 tahun. Cobalah memberikan buku atau boneka sebagai pengalih perhatian, daripada screentime.
-
Hargai Kepribadian Anak
Jika bayi Anda merasa kewalahan akibat stimulasi berlebih saat berada di tengah keramaian, hargailah hal tersebut. Anda tidak akan mengubah kepribadian mereka dengan memaksakan situasi yang membuat mereka kewalahan; hal itu justru hanya akan menguji kesabaran Anda dan membuat situasi menjadi lebih sulit.
-
Jangan Ragu Mencari Bantuan
Dokter dapat membantu Anda membedakan antara perilaku yang wajar dan perilaku yang mungkin mengindikasikan kondisi medis tertentu. Mereka dapat memberikan tips untuk membantu Anda menghadapi situasi tersebut serta menyarankan pemeriksaan tambahan jika diperlukan.
Mengasuh anak yang mengalami overstimulasi memang bisa terasa berat, namun saat itu terjadi, anak yang sedang kewalahan tidak tahu cara mengungkapkan rasa tidak nyamannya kepada kita. Cara terbaik untuk memperbaiki situasi bagi Anda dan si kecil adalah dengan menjauhkan sumber stimulasi yang mengganggu mereka dan membantu mereka untuk kembali tenang.
Anda juga bisa melakukan perencanaan sebelumnya untuk meminimalkan kemungkinan anak mengalami stimulasi berlebihan sejak awal. Jika situasi mulai sulit ditangani, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter anak guna mendapatkan bantuan.
Content Writer Parentsquads










and then