Ada ungkapan yang mengatakan, anak-anak adalah peniru ulung. Ungkapan ini diciptakan bukan tanpa dasar, MamPap. Secara ilmiah, penjelasan mengenai hal ini ada, begitu juga alasan mengapa anak suka meniru konten sosial media. Cek penjelasannya di bawah ini, yuk!
Alasan Anak Suka Meniru
Anak-anak bagaikan cermin kecil, yang senang memantulkan segala sesuatu yang mereka lihat dan dengar di sekitarnya. Entah itu meniru nada suara, gestur atau gerakan, hingga perilaku-perilaku lain yang menarik perhatian mereka.
Jika hal ini juga terjadi pada buah hati Anda, jangan dicegah ya, MamPap. Perilaku ini ternyata membantu membentuk pertumbuhan dan perkembangan mereka. Dan menurut Kids USA Montessori, ini merupakan kunci dalam membesarkan individu yang berwawasan luas, berempati, dan sadar sosial.
Kalau menurut MamPap sendiri, apa yang membuat mereka melakukan hal-hal tersebut?
MamPap, anak tidak sekadar meniru perilaku orang di sekitarnya untuk bersenang-senang. Anak melakukannya karena itulah cara mereka belajar.
Di usia saat ini, otaknya seperti spons, sanggup menyerap segala hal, mulai dari bahasa hingga respons emosional. Meniru memang salah satu cara utama mereka dalam mengembangkan keterampilan sosial, kognitif, dan emosional.
Ini beberapa alasan mengapa si Kecil suka meniru:
- Pembelajaran observasional: Anak-anak mempelajari perilaku dengan mengamati orang lain, baik belajar berbagi juga bagaimana mengekspresikan frustasi.
- Membangun koneksi: Meniru merupakan cara anak menjalin ikatan dengan pengasuh dan teman sebayanya. Ini cara untuk menunjukkan bahwa mereka memahami isyarat sosial dan ingin menjadi bagian dari suatu kelompok.
- Mengembangkan keterampilan komunikasi: Sebelum si Kecil mampu mengekspresikan diri secara verbal, mereka sering meniru gestur, ekspresi wajah, dan nada suara untuk menyampaikan emosi.
- Memahami sebab dan akibat: Dengan meniru perilaku dan melihat reaksinya, si Kecil belajar apa yang bisa diterima dan tidak. Ini juga membentuk keterampilan pengambilan keputusan mereka.
- Melatih kemandirian: Melalui meniru, anak memperoleh kepercayaan diri dalam melakukan berbagai hal secara mandiri, seperti berpakaian sendiri atau mengikuti rutinitas sehari-hari.
Jadi, MamPap, buah hati Anda tidak sekadar meniru, tapi mereka sedang membangun fondasi untuk pembelajaran seumur hidup.
Setiap gestur, kata, atau reaksi yang dilakukannya –khususnya yang hasil dari meniru– membantu mereka memahami cara berinteraksi dengan dunia, serta membentuk perkembangan emosional dan sosial mereka.
Penggunaan Sosial Media pada Anak
Beberapa tahun terakhir penggunaan sosial media sudah menjadi bagian dari kehidupan anak –periode pandemi Covid-19 sangat berkontribusi dalam hal ini.
Seperti dilansir dari Mayo Clinic, American Academy of Pediatric (AAP) sebenarnya tidak menganjurkan penggunaan media digital, termasuk sosial media, pada anak –kecuali video call untuk anak-anak berusia di bawah 18 bulan.
Kalau pun terpaksa, MamPap bisa mengenalkan media digital pada anak saat usianya antara 18-24 bulan. Sementara saat anak berusia antara 2-5 tahun, batasi waktu layar (screen time) hingga satu jam sehari, itu pun anak hanya boleh menonton program-program yang sesuai usianya saja.
American Academy of Child & Adolescent Psychiatry menyarankan penggunaan gadget pada anak sebagai berikut:
Pertimbangkan hal-hal berikut sebagai panduan:
- Usia >18 bulan, batasi penggunaan layar untuk obrolan video bersama orang dewasa. Misalnya video call saat orangtua sedang berada di luar kota.
- Usia 18-24 bulan, screentime hanya untuk menonton program edukatif bersama pengasuh.
- Usia 2-5 tahun, screentime non-edukatif menjadi sekitar 1 jam di hari kerja dan 3 jam di akhir pekan.
- Usia 6 tahun ke atas, dorong kebiasaan sehat dan batasi aktivitas yang melibatkan layar. Misalnya dengan mendorongnya melakukan aktivitas lain, seperti olahraga, musik, seni, dan hobi.
Selain itu, terapkanlah aturan ini di rumah:
- Mematikan semua layar gadget saat makan bersama keluarga dan saat bepergian.
- Gunakan fitur kontrol orangtua pada devices anak.
- Hindari menggunakan layar sebagai ‘empeng’, ‘pengasuh’ anak, atau untuk menghentikan tantrum.
- Anak tidak bermain dengan gadget-nya 30-60 menit sebelum tidur.
- Sebelum MamPap memberikan anak smartphone, apakah anak sudah cukup bijak memilah konten yang tepat untuknya.
- Pastikan konten yang dilihat anak sesuai dengan usianya.
- Selain menemani, diskusikan dengan anak tentang apa yang mereka lihat: perilaku baik, seperti kerja sama, persahabatan, dan kepedulian terhadap orang lain. Ini juga sekaligus bisa menjadi cara anak dan Anda menjalin hubungan yang bermakna.
- Waspadai iklan dan bagaimana iklan dapat mempengaruhi pilihan tontonan anak-anak.
- Ajari anak-anak yang lebih besar tentang privasi dan keamanan daring.
Apa bahayanya Anak Suka Meniru Konten Sosial Media?
Bagai dua sisi di mata uang, sosial media tidak hanya menawarkan banyak hal positif, tapi juga negatif.
Yang harus dipahami orangtua, penggunaan sosial media yang tidak bertanggung jawab dapat memberikan beberapa konsekuensi yang bisa merugikan anak-anak dan kaum muda.
Berdasarkan temuan National Library of Medicine, banyak anak dilaporkan mengalami akibat dari penggunaan sosial media berlebihan. Di antaranya masalah depresi, pola makan, gangguan tidur, penglihatan, sakit kepala, dan karies gigi, masalah seksual dan perilaku, hingga masalah psikologis lainnya seperti kecanduan, kecemasan, serta citra tubuh.
Masalah-masalah yang disebutkan di atas mungkin terkesan tidak terlalu ‘berbahaya’ bagi anak ya, MamPap. Padahal masalah-masalah tersebut, jika tidak diselesaikan dengan tepat dan mendapat bimbingan dari orangtua bisa memicu masalah yang lebih besar lagi.
Salah satunya seperti peristiwa peledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta, yang dilakukan sendiri oleh satu siswanya.
Selanjutnya diketahui kalau ternyata pelaku merupakan korban pem-bully-an. Ia melakukan peledakan tersebut lantaran sakit hati dan dendam karena sering di-bully beberapa temannya.
Aksinya memang tidak bisa dibenarkan, begitu juga dengan pem-bully-an yang dilakukan rekan-rekannya. Namun yang menjadi perhatian kemudian, bagaimana si pelaku peledakan ini bisa sampai memiliki bahan peledak dan meledakkannya di sekolahnya.
Setelah ditelusuri, ternyata ia belajar membuat bahan peledak dari sosial media.
Kiranya ini bisa meningkatkan kesadaran para orangtua bahwa dampak anak suka meniru konten sosial media itu bisa sangat membahayakan. Tidak hanya untuk si anak sendiri, tapi juga orang di sekitarnya.
Jauh sebelum kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta, MamPap pasti pernah mendengar nama-nama dari anggota Italian Brain Rot Animal ini: Chimpanzini Bananini, Bombardiro Crocodilo, Ballerina Cappuccina, Cappuccino Assassino, Tralalero Tralala, Boneca Ambalabu, Tung Tung Tung Sahur, dan Brr Brr Patapim.
Serangkaian karakter hewan absurd konyol buatan AI ini berhasil menghipnotis puluhan ribu anak di dunia –terutama Gen Z termuda dan generasi Alpha (lahir 2010-2025).
Banyak media yang mengulas mengenai karakter ini, salah satunya The Guardian yang mengatakan bahwa keberadaan karakter-karakter hewan ini tentu tidak masuk akal, begitu juga dengan cerita-cerita yang menyuguhkan kehidupan mereka. Namun begitu, banyak anak yang terobsesi dan otak ‘rusak’ karena mereka.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Orangtua bisa mempertimbangkan untuk menerapkan aturan yang sama di lingkungan nyata dan virtual pada anak.
Lakukan aktivitas bersama
Bila MamPap membuat aturan mengenai screentime, MamPap juga harus membuat aturan mengenai bermain atau berolahraga bersama.
Terlibat secara langsung (fisik) dengan anak tidak hanya menguatkan ikatan Anda dengan anak, tapi juga menciptakan kenangan yang indah.
Dengan beraktivitas bersama, anak jadi bisa meniru (belajar, Red.) hal-hal yang nyata dalam hidup. Tidak hanya bagaimana mengelola emosi seperti mengekspresikan rasa terima kasih, sedih, bahagia, atau lainnya, mengungkapkan pendapatnya, juga belajar langsung mengenai banyak hal: makan, merapikan mainan, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan masih banyak lagi.
Buat rencana penggunaan gadget keluarga
American Academy of Pediatrics (AAP) pada laman Healthy Children menyarankan agar MamPap menyusun rencana penggunaan gadget yang dipersonalisasi untuk anak-anak (fitur Kontrol Orangtua). Ini membantu menghindari anak menggunakan gadget secara berlebihan, membatasi akses anak ke konten sosial media yang tidak baik dan menyeimbangkan aktivitasnya antara bermain gadget dengan aktivitas sehat lainnya.
Rencana penggunaan media harus mempertimbangkan usia, kesehatan, kepribadian, dan tahap perkembangan anak, ya, MamPap. Misalnya dengan mempertimbangkan jam tidur anak –anak dan remaja butuh tidur 8–12 jam per malam, aktivitas fisik (1 jam sehari), dan waktu istirahat dari gadget.
Masukkan juga rencana khusus bersama keluarga dalam Rencana Penggunaan Media Keluarga –sesuaikan dengan nilai-nilai dan kesibukan keluarga Anda.
Penggunaan gadget yang positif dan sehat pada anak dapat dilakukan dengan bimbingan dan konsistensi yang tepat dari orangtua.
Terakhir, jika MamPap khawatir dengan kebiasaan anak suka meniru konten sosial media, konsultasikanlah dengan dokter anak atau psikolog keluarga. Dan jika masalah ini terus berlanjut ke arah yang negatif, mintalah rujukan ke tenaga kesehatan mental profesional yang berkualifikasi.










and then