Ada kalanya, anak tidak bisa diam dan merasa sangat bersemangat. Namun, terkadang MamPap mungkin bertanya-tanya apakah perilaku anak masih wajar dan normal, atau mungkin memiliki masalah perilaku tertentu?
Kita tahu, banyak juga anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas yang terlihat sangat energik. Namun, energi tinggi saja tidak cukup untuk memastikan adanya gangguan perilaku.
Jadi, kapan seorang anak yang tidak bisa diam dikatakan normal atau dapat didiagnosis memiliki gangguan perilaku? Simak penjelasannya dalam artikel berikut ya, MamPap.
Anak Tidak Bisa Diam, Wajarkah untuk Usia Mereka?
Dilansir dalam laman Web MD, wajar bagi anak-anak dari segala usia memiliki banyak energi. Anak-anak usia prasekolah misalnya, bisa sangat aktif dan tidak bisa diam. Mereka sering berpindah dengan cepat dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Anak-anak yang usianya lebih besar dan remaja juga energik dan tidak memiliki rentang perhatian yang sama dengan orang dewasa.
Jika perilaku hiperaktif anak sering menyebabkan masalah di kelas, pekerjaan rumah, atau pertemanan dan hubungan, maka perlu dikonsultasikan dengan dokter anak.
Penyebab Anak Tidak Bisa Diam
Tidak semua anak yang tidak bisa diam dan lincah mengalami gangguan perilaku. Terkadang, ada penyebab lain yang mendasari tingginya tingkat aktivitas anak tersebut, antara lain:
1. Stres
Entah itu kekacauan yang mereka alami atau perubahan jadwal jangka pendek, anak-anak sering kali menjadi hiperaktif ketika mereka mengalami peristiwa yang penuh tekanan. Bahkan saat mengalami perubahan positif, seperti memiliki saudara baru atau pindah ke lingkungan yang lebih baik, dapat memicu banyak stres bagi seorang anak.
Selain itu, ingatlah bahwa anak-anak meniru pola stres orang tua mereka. Jika Anda stres, kemungkinan besar anak Anda juga stres. Pastikan si kecil memiliki rutinitas yang konsisten dan dapat diprediksi. Jika Anda mengalami peristiwa kehidupan yang penuh tekanan, berikan anak Anda ketenangan dan dukungan ekstra.
2. Masalah Kesehatan Emosional atau Mental
Masalah emosional sering kali terlihat seperti gangguan perilaku pada anak-anak. Misalnya, seorang anak dengan gangguan kecemasan mungkin kesulitan untuk duduk diam, sementara seorang anak yang trauma oleh peristiwa menakutkan mungkin tidak dapat berkonsentrasi.
Jika MamPap mencurigai hiperaktivitas anak mungkin berasal dari masalah emosional, carilah bantuan profesional. Perawatan dapat mengurangi berbagai gejala, termasuk hiperaktivitas.
3. Kondisi Medis
Ada beberapa masalah kesehatan fisik yang menyebabkan hiperaktivitas. Tiroid yang terlalu aktif, misalnya, dapat menyebabkan berbagai gejala, termasuk kecemasan dan hiperaktivitas. Ada juga masalah genetik lain yang dapat menyebabkan peningkatan aktivitas pada anak-anak.
Konsultasilah dengan dokter anak tentang gejala anak Anda. Jelaskan kekhawatiran Anda secara detail dapat membantu dokter mengidentifikasi potensi masalah kesehatan yang mungkin menjadi akar masalahnya.
4. Kurang Olahraga
Anak-anak umumnya aktif dan energik. Tanpa olahraga yang cukup, mereka akan kesulitan untuk duduk diam. Sayangnya, beberapa anak hiperaktif kehilangan hak istirahat mereka di sekolah. Padahal, kurangnya kesempatan untuk berlari-lari dan bermain bisa memperburuk hiperaktivitas.
Dorong anak Anda untuk berolahraga secara teratur setiap hari. Bermain di taman bermain, bersepeda, dan berlari memberi si kecil kesempatan untuk menyalurkan energinya ke dalam kegiatan yang produktif.
5. Kurang Tidur
Orang dewasa cenderung lesu ketika lelah, sementara anak-anak sering kali menjadi hiperaktif. Entah karena kurang tidur siang atau tidur terlalu larut malam, anak yang mengantuk mungkin tampak lebih bersemangat dari sebelumnya. Sebuah penelitian menyebutkan, ketika anak tidak cukup istirahat, tubuhnya merespons dengan memproduksi lebih banyak kortisol dan adrenalin agar mereka tetap terjaga. Akibatnya, mereka akan memiliki lebih banyak energi.
Pastikan anak cukup tidur. Jika kesulitan memastikan si kecil cukup istirahat, konsultasi pada dokter anak tentang strategi yang dapat membantu.
6. Kemungkinan ADHD
ADHD adalah kondisi neurobiologis yang menyebabkan gejala-gejala seperti impulsivitas, gangguan fokus, dan peningkatan aktivitas. Gejala ADHD yang berkaitan dengan hiperaktivitas yang dijelaskan dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Kesehatan Mental (DSM), meliputi:
- Kesulitan duduk diam; terus-menerus menggeliat dan menggerakkan kaki dan tangan, atau berdiri dan bergerak ketika orang lain sedang duduk.
- Berlari atau memanjat pada waktu yang tidak tepat.
- Jarang berpartisipasi dalam kegiatan bermain dengan tenang.
- Berbicara terus-menerus, yang dapat menyebabkan masalah di sekolah dan dalam lingkungan sosial.
- Kesulitan dalam bergiliran.
- Menyela pembicaraan orang lain.
- Tampak tidak mendengarkan ketika diajak bicara.
- Tidak mengikuti instruksi atau menyelesaikan tugas.
- Masalah dalam mengatur kegiatan.
Bicaralah dengan dokter anak jika Anda menduga si kecil mungkin menderita ADHD. Meskipun tidak ada tes yang dapat mendiagnosis ADHD secara pasti, dokter dapat melakukan penilaian dan merujuk anak Anda untuk evaluasi lebih lanjut jika diperlukan.
Orang tua juga disarankan untuk berkonsultasi dengan guru untuk mengetahui apakah gejala hiperaktivitas anak juga muncul di kelas. Salah satu persyaratan diagnosis ADHD adalah gejala harus muncul di lebih dari satu lingkungan, misalnya, di rumah dan di sekolah.
Cara Menghadapi Anak Tidak Bisa Diam
Baik anak Anda mengalami hiperaktivitas akibat ADHD atau memiliki tingkat energi yang sangat tinggi, ada beberapa strategi yang dapat Anda lakukan untuk membantu mereka mengatasinya.
- Memberi anak-anak kegiatan terstruktur dapat membantu mereka lebih memahami ekspektasi dan apa yang perlu mereka lakukan pada waktu-waktu tertentu sepanjang hari.
- Kurangi gangguan. Anak-anak yang hiperaktif atau berenergi tinggi memiliki waktu yang lebih sulit untuk tetap fokus, sehingga mengurangi peluang untuk terganggu dapat membantu meningkatkan fokus mereka.
- Biarkan mereka bermain. Pastikan anak Anda memiliki banyak kesempatan untuk terlibat dalam permainan yang aktif secara fisik. Ini dapat mencakup waktu di luar ruangan, tetapi Anda juga dapat mempertimbangkan untuk mendaftarkan mereka dalam kegiatan lain, termasuk tim olahraga.
- Batasi gula dan kafein. Gula dan kafein yang berlebihan dapat memperburuk tingkat energi yang tinggi, tetapi juga dapat mengganggu tidur. Membatasi zat-zat ini dapat membantu anak mengelola perilakunya dengan lebih baik.
- Puji anak Anda ketika mereka tetap fokus, berusaha mencapai tujuan, atau menyelesaikan tugas.
Jika Anda khawatir tentang tingkat energi anak Anda yang tinggi, konsultasikan dengan dokter anak. Dokter dapat memeriksa gejala anak dan menentukan dengan lebih baik apakah yang mereka alami terkait dengan ADHD, kondisi medis atau kesehatan mental, atau penyebab lainnya.
Kapan pun Anda memiliki kekhawatiran tentang perkembangan anak, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak ya, MamPap.
Content Writer Parentsquads











and then