Minim Sayatan, Pemulihan Lebih Cepat: Kenali Prosedur VATS untuk Operasi Dada

bedah minimal invasive

MamPap, mendengar kata ‘operasi’ pasti banyak yang langsung terbayang akan ruang bedah, sayatan besar di tubuh, rasa nyeri berkepanjangan, hingga proses pemulihan yang memakan waktu lama. Apalagi jika operasi tersebut dilakukan di area dada. Rasanya wajar jika muncul kekhawatiran. Berharap ada operasi bedah minimal invasive.

Tahukah MamPap kalau kemajuan teknologi medis kini memungkinkan operasi dada dilakukan dengan cara yang jauh lebih ringan dan minim luka? Salah satunya melalui prosedur VATS atau Video-Assisted Thoracoscopic Surgery, teknik bedah minimal invasive yang hanya memerlukan sayatan kecil saja.

Dalam seminar media bertajuk “VATS (Video-Assisted Thoracoscopic Surgery): Bedah Dada Minimal Invasive”, dr. Ermono Superaya, Sp.B.T.K.V, dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular dari RS Pondok Indah, Bintaro Jaya, menjelaskan bagaimana prosedur ini bisa menjadi solusi bagi banyak kondisi medis di area dada tanpa perlu operasi besar.

Apa itu VATS (Video-Assisted Thoracoscopic Surgery)?

bedah minimal invasive

Selain Walant, teknik operasi tanpa bius total yang minim risiko, RS. Pondok Indah juga memiliki teknologi atau prosedur VATS. Seperti namanya Video-Assisted Thoracoscopic Surgery, dalam prosedur ini dokter bedah akan menggunakan kamera kecil untuk mendiagnosis dan mengobati berbagai penyakit. VATS dikategorikan sebagai prosedur bedah minimal invasive, di mana prosedur yang dilakukan dengan sayatan kecil dan gangguan minimal terhadap jaringan tubuh. 

Selama prosedur bedah ini, dokter hanya akan membuat satu atau beberapa sayatan kecil di sekitar dada pasien. Ukuran sayatan ini berkisar antara 3-5 cm, tergantung permasalahan medis yang dialami oleh pasien. Melalui sayatan ini dokter akan memasukan kamera kecil dan alat bedah untuk mendiagnosis dan mengobati masalah pada area dada.

Kamera ini, yang disebut torakoskop, bertugas untuk mengirimkan gambar dari dalam dada ke monitor video. Gambar-gambar inilah yang akan menjadi panduan bagi dokter bedah selama prosedur berlangsung.

Prosedur VATS biasanya berlangsung selama 2 hingga 3 jam. Setelah prosedur, beberapa pasien bisa langsung pulang atau mungkin perlu dirawat di rumah sakit selama beberapa hari, tergantung pada jenis prosedur dan kondisi pasien.

Namun dr. Ermono Superaya, Sp. B.T.K.V memaparkan jika proses pemulihan pasien yang menjalankan prosedur VATS bisa lebih cepat dibandingkan pasien yang menjalankan prosedur bedah terbuka. 

“Karena dengan prosedur VATS, sayatannya lebih minim sehingga jumlah syaraf yang dipotong pada jaringan tubuh juga lebih sedikit. Hal itu yang membuat proses recovery-nya bisa lebih cepat hanya sekitar 3-5 hari saja. Risiko nyeri serta infeksi luka pasca-bedahnya juga jauh lebih berkurang,” jelasnya.

Kondisi atau Penggunaan Prosedur VATS

bedah minimal invasive

Menurut penjelasan dr. Ermono Superaya, Sp. B.T.K.V prosedur VATS dapat dilakukan hampir pada seluruh kasus rongga dada. Namun secara khusus, ia menjelaskan bahwa VATS dapat dilakukan untuk mengatasi beberapa kondisi, seperti:

1. Kasus Tumor Paru 

Dalam kasus tumor paru, prosedur VATS dapat digunakan untuk membantu diagnosis tumor paru dengan pengambilan sampel jaringan (biopsi) dari tumor secara langsung atau jika hasil biopsi menunjukkan tumor tersebut ganas (kanker paru) maka VATS juga dapat digunakan untuk mengangkat tumor secara langsung.

“Pada kasus tumor paru direkomendasikan langsung kita VATS, kita ambil tumornya lalu kita potong dengan stapler. Karena namanya paru itu, (isinya) darah, kecenderungannya dia semakin menyebar dan membesar itu tinggi. Jadi sebaiknya ditangani dengan cepat,” tegasnya. 

 2. Kasus Hiperhidrosis 

Hiperhidrosis adalah kondisi medis ketika seseorang mengalami keringat berlebih secara berlebihan dan tidak normal, bahkan saat tidak sedang panas, gugup, atau berolahraga. 

Dalam kasus hiperhidrosis yang parah dan tidak mempan diatasi dengan obat atau suntikan botox, dokter bisa menggunakan VATS untuk melakukan simpatektomi torakal yaitu prosedur memotong atau menjepit saraf simpatik di rongga dada yang mengatur produksi keringat berlebih.

3. Kasus Kelebihan Cairan Rongga Dada dan Jantung

Pada beberapa penyakit gagal jantung atau penyakit koroner lainnya, biasanya tubuh pasien akan mengeluarkan cairan terus menerus di selaput jantung atau rongga dada. VATS bisa dilakukan untuk mengeluarkan cairan di jantung dan dada tersebut. 

“Selain mengeluarkan cairan, biasanya dalam prosedur tersebut kita juga akan melakukan pembersihan disekitar dan pengambilan jaringan untuk menentukan diagnosisnya kuman apa yang menginfeksi daerah tersebut,” jelasnya.

 4. Kasus Patah Tulang Iga

Patah tulang iga tidak selalu membutuhkan operasi. Tapi dalam kasus berat (misalnya banyak tulang patah, atau ada komplikasi), VATS digunakan untuk:

  • Melihat visualisasi struktur dalam dada apakah terjadi kerobekan atau kebocoran
  • Mengeluarkan darah (hemotoraks) akibat perdarahan dari tulang atau organ dalam
  • Mengatasi pneumotoraks (udara di rongga dada) jika tulang patah merusak paru-paru
  • Membersihkan bekuan darah atau jaringan rusak
  • Menilai kebutuhan fiksasi internal (pemasangan pen atau pelat) jika tulang iga tidak sejajar

5. Kasus Kelainan Otot Diafragma dan Saluran Makan

VATS membantu menangani kelainan otot diafragma dan saluran makan dengan memungkinkan dokter bedah memperbaiki hernia, kelumpuhan diafragma, atau kelainan esofagus secara akurat melalui sayatan kecil dan risiko minimal.

Komplikasi Prosedur VATS, Bedah Minimal Invasive

Dilansir dari Mayo Clinic, ada beberapa kemungkinan komplikasi dari prosedur VATS, yaitu:

  • Pneumonia
  • Perdarahan
  • Kerusakan saraf sementara atau permanen
  • Kerusakan organ di sekitar area prosedur
  • Efek samping dari obat bius

Meskipun begitu dr. Ermono Superaya, Sp. B.T.K.V menyarankan untuk tidak terlalu khawatir karena sejauh ini tidak ditemukan komplikasi serius akibat VATS, baik komplikasi jangka pendek maupun jangka panjang

VATS, Bisakah Bedah Minimal Invasive Ini untuk Anak-anak?

Mungkin di antara MamPap juga bertanya-tanya, apakah prosedur ini bisa untuk pasien yang masig berua bayi dan anak-anak. Sayangnya, untuk saat ini, prosedur VATS tidak dapat dilakukan pada bayi mengingat kondisi tubuh mereka yang masih kecil dan belum tersedianya alat yang dapat mendukung hal tersebut. Namun VATS dapat dilakukan pada anak-anak, khususnya pada anak-anak yang memiliki berat badan minimal 35 kg atau usia 12 tahun ke atas.

“Di usia tersebut biasanya dadanya sudah cukup berkembang jadi alat (kamera) pun sudah bisa masuk. Jadi untuk anak-anak masih bisa kita pertimbangkan, tetapi tetap tergantung kondisinya,” tutup dr. Ermono Superaya, Sp. B.T.K.V.

Bagaimana MamPap? Menarik, kan? Jadi MamPap tidak perlu khawatir lagi jika memiliki kondisi medis di atas. Seiring berkembangnya teknologi medis, kini prosedur bedah bisa dilakukan dengan cara yang lebih aman, minim sayatan, dan waktu pemulihan yang lebih cepat dengan VATS, prosedur bedah minimal invasive ini. 

 

Ditulis oleh: Dhilla

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventy two − = 71