5 Gaya Parenting Orang Tua Gen Z dalam Membentuk Karakter Anak 

gaya parenting orang tua gen z
Foto: Aflo Images

Bagi Gen Z, menjadi orang tua bukanlah sekadar fase kehidupan yang biasa. Bagi mereka, menjadi orang tua merupakan pilihan hidup yang penuh pertimbangan, agar mereka memiliki fokus yang jelas dalam membentuk anak-anak mereka. Jika MamPap termasuk dalam generasi ini, berikut gambaran gaya parenting orang tua Gen Z yang bisa menjadi referensi. 

Gaya Parenting Orang Tua Gen Z yang Eksploratif  

gaya parenting orang tua gen z
Foto: amasan from Getty Images

Lahir antara tahun 1997 hingga 2012, para Gen Z sangat mementingkan stabilitas finansial, kebebasan pribadi, dan kesejahteraan emosional. Karena itu, Gen Z harus memenuhi itu semua terlebih dahulu sebelum memutuskan menjadi orang tua, agar mereka bisa fokus dalam membentuk anak-anak yang tangguh dan cerdas secara emosional.

Untuk memahami pola pengasuhan yang terus berkembang ini, kami menyoroti beberapa gaya parenting orang tua Gen Z dalam pengasuhan, yang membentuk masa depan anak-anak mereka. 

1. Anak Memegang Kendali dalam Bereksplorasi

Orang tua Gen Z percaya bahwa setiap anak adalah individu yang unik dengan kepribadian, minat, dan alur waktu perkembangan yang berbeda. Daripada memaksakan preferensi mereka sendiri atau mengarahkan jalan hidup anak mereka, orang tua Gen Z ingin mendorong kemandirian dan penemuan jati diri sang anak. Baik itu mengeksplorasi hobi, terlibat dalam ekspresi diri, atau mempelajari keterampilan baru, orang tua Gen Z akan memberi anak-anak mereka kebebasan untuk mengeksplorasi.

Read More

Pendekatan suportif dan tidak ikut campur ini memungkinkan anak-anak untuk mengembangkan rasa percaya diri, rasa ingin tahu, dan kemandirian. Orang tua Gen Z lebih bertindak sebagai pemandu daripada mengarahkan, mendengarkan, memvalidasi emosi, dan menyediakan alat yang terbuka untuk membantu anak-anak mereka berkembang. Landasan ini memberdayakan anak-anak untuk mengeksplorasi minat mereka tanpa batasan apa pun.

2. Fondasi yang Tak Kenal Takut

Orang tua Gen Z memahami bahwa tantangan hidup tidak dapat dihindari. Tumbuh di era yang dipenuhi oleh ketidakpastian, mereka memprioritaskan mengajarkan ketahanan dan kemampuan beradaptasi kepada anak-anak mereka. Mereka merasa belajar mengatasi kesulitan sejak dini adalah kunci untuk membangun kepercayaan diri dan kekuatan emosional untuk melewati kesulitan.

Alih-alih melindungi anak-anak mereka, orang tua Gen Z mengajarkan anak-anak mereka untuk melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Baik itu dengan membahas topik dunia nyata seperti kesehatan mental, diskriminasi, atau literasi keuangan, orang tua ini memiliki tujuan untuk mempersiapkan anak-anak mereka menghadapi siap masalah yang rumit dengan percaya diri. 

Mereka juga mendukung pengambilan risiko dan pemecahan masalah untuk membantu anak mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang tangguh dan mudah beradaptasi. 

Untuk melakukan ini, orang tua Gen Z harus menyediakan lingkungan yang mendukung, dan menemukan cara untuk melibatkan anak-anak mereka dengan kecepatan atau phase mereka sendiri sambil membangun fondasi yang kuat.

3. Menjaga Kecerdasan Emosional

Bagi orang tua Gen Z, membesarkan anak-anak yang cerdas secara emosional adalah hal yang tidak dapat dinegosiasikan. Mereka menciptakan rumah tempat anak-anak mereka merasa aman, didengarkan, dan dihargai. Hal ini sangat kontras dengan hubungan mereka dengan orang tua yang memiliki jarak, yang dialami banyak dari mereka saat tumbuh dewasa. Karena itu, para orang tua Gen Z akan bertekad untuk memberikan pengalaman yang berbeda bagi anak-anak mereka, sehingga banyak yang berusaha untuk menjaga secara emosional.

Artinya, orang tua Gen Z akan memprioritaskan komunikasi terbuka dan transparansi emosional, membantu anak-anak mereka mengembangkan empati, kesadaran diri, dan pada gilirannya, ketahanan emosional. 

Dengan berbicara tentang kesehatan mental dan emosi di tempat yang aman, baik orang tua maupun anak akan membangun ikatan emosional yang kuat. Secara aktif, dengan cara ini berarti orang tua Gen Z membantu mempersiapkan anak-anak mereka untuk menavigasi kompleksitas masa dewasa dengan percaya diri.

4. Petualangan Bersama Anak

Karena fokus mereka pada identitas diri dan pilihan, orang tua Gen Z melihat pengasuhan anak sebagai petualangan bersama, bukan pengorbanan. Mereka secara aktif mencari kegiatan yang membawa kegembiraan bagi orang tua dan anak, mengubah rutinitas sehari-hari menjadi pengalaman keluarga yang bermakna.

Dengan menjadikan pengalaman bersama sebagai bagian rutin dari rutinitas, orang tua gen Z ingin membangun ikatan keluarga yang kuat dan menciptakan kenangan abadi. Baik itu dalam proyek keluarga, permainan, atau aktivitas outdoor, orang tua Gen Z percaya mereka harus menemukan kegembiraan bersama anak dan menciptakan momen bermakna yang melampaui peran pengasuhan tradisional.

5. Ayah Gen Z Lebih Mungkin Membantu Pekerjaan Rumah Tangga

Menurut survei BabyCenter terbaru yang melibatkan lebih dari 400 wanita yang sedang hamil atau memiliki setidaknya satu anak di bawah usia 5 tahun, menemukan bahwa para suami dari generasi ini lebih mungkin ikut membantu pekerjaan rumah tangga daripada para ayah dari generasi Milenial. 

Ya, peran ayah Gen Z di sini sangat terlibat. Suami para ibu Gen Z secara signifikan lebih mungkin membantu pekerjaan rumah tangga. Para ayah Gen Z dua kali lebih mungkin mengambil alih tugas-tugas seperti membersihkan dan mengganti popok daripada ayah Milenial. 

Selain itu, para ayah Gen Z juga mengungguli generasi Milenial dalam hal kemauan mereka untuk melakukan tugas-tugas seperti merencanakan menu makanan, mendelegasikan tugas rumah tangga, dan mempertimbangkan produk-produk baru untuk rumah.

Menurut Allison Daminger, asisten profesor sosiologi di University of Wisconsin-Madison yang mempelajari peran gender dalam rumah tangga, cara para ayah Gen Z dalam mengatur pekerjaan rumah tangga ini memiliki banyak kesamaan dengan keterampilan yang digunakan orang-orang dalam pekerjaan kantor mereka, dengan cara profesional.  

Dari ibu-ibu Gen Z yang berpartisipasi dalam studi tersebut, 10% juga mengatakan bahwa pasangan merekalah yang memiliki tugas utama untuk menjadwalkan janji temu dokter anak. Hal ini sangat kontras dengan pasangan Generasi Milenial, yang hanya mengambil inisiatif dalam tugas ini sebesar 4% dari waktu yang dimilikinya. Selain itu, para suami dari Generasi Z juga lebih cenderung menyimpan inventaris makanan dan barang-barang rumah tangga.

Secara keseluruhan, hanya 1 dari 4 ibu yang mengatakan bahwa mereka berbagi tugas mengganti popok dengan pasangannya.

Namun meskipun pembagian tugas lebih banyak ditangani suami, secara historis, perempuan tetap dikaitkan menjadi pihak yang bertanggung jawab ketika hal-hal di rumah tampak “salah”. Dalam wawancara, para ibu tetap menerima kritik jika ada yang salah dengan anaknya, bukan suami yang akan dinilai. 

Jika MamPap ingin menyamakan kedudukan di rumah, Anda perlu memulai komunikasi terbuka ​​dengan pasangan. Sering kali, pasangan tidak mencapai pembagian kerja yang 100% setara, tetapi Anda berdua dapat menyetujui aturan yang terasa adil bagi kedua belah pihak jika berkomunikasi dengan jelas.

Gen Z tidak hanya membesarkan seorang anak, tetapi mereka membentuk masa depan. Mereka berusaha keras untuk menumbuhkan rasa percaya diri, ketahanan, dan anak-anak yang cerdas secara emosional. Setuju nggak nih, MamPap?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two + 3 =