Benarkah Gerd Bisa Sebabkan Kematian? 

Belakangan banyak peristiwa bahkan berita yang menyebutkan bahwa gerd sebabkan kematian mendadak layaknya penyakit jantung. Benarkah penyakit asam lambung ini bisa sampai merenggut nyawa?

Tidak bisa dipungkiri, bagi orang awam keluhan gerd mungkin dianggap serupa dengan sakit jantung. Di mana rasa panas itu muncul tiba-tiba di dada. Seperti terbakar, membuat napas terasa tidak nyaman bahkan membuat sesak. 

Namun, sebelum rasa cemas itu semakin membesar dan menganggao gerd sebabkan kematian,  mari kita pahami dulu apa sebenarnya gerd dilihat dari sudut pandang medis.

  1. GERD atau gastroesophageal reflux disease tidak sama dengan maag. GERD adalah kondisi medis yang terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan secara teratur. Hal inilah yang pada akhirnya menimbulkan nyeri dada sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman yang sering dikenal sebagai heartburn.

Jika tidak ditangangi dengan baik, GERD memang bisa menjadi masalah serius. Memahami penyebab serta faktor risikonya adalah kunci untuk pengelolaan dan pencegahan yang efektif.

Meski keluhannya kerap terasa di area dada,  anggapan gerd sebabkan kematian adalah persepsi yang keliru. GERD bukanlah penyakit jantung, dan inilah yang sering menimbulkan kesalahpahaman.

Gerd Sebabkan Kematian Mendadak Seperti Penyakit Jantung?

Hal ini ditegaskan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi RS Pondok Indah Puri Indah, dr. Imelda Maria Loho, Sp.P.D., Subsp.G.E.H.(K), FINASIM, menegaskan bahwa GERD tidak bisa menyebabkan kematian mendadak.

Gastroesophageal reflux disease atau GERD tidak menyebabkan kematian mendadak,” tegas dr. Imelda saat ditemui dalam sesi Media Discussion bersama RS Pondok Indah Group beberapa waktu lalu.

Menurutnya, kematian mendadak umumnya berkaitan dengan serangan jantung. Namun karena letak jantung dan kerongkongan berdekatan, banyak orang awam keliru menafsirkan sinyal tubuh.

Kalau meninggal mendadak itu biasanya karena serangan jantung. Tapi karena jantung dan kerongkongan lokasinya berdekatan, banyak yang mengira gejala serangan jantung sebagai gerd,” jelasnya.

Sensasi panas di dada, jantung berdebar, dan rasa tidak nyaman memang bisa muncul pada keduanya. Di sinilah kebingungan sering terjadi. Padahal, serangan jantung biasanya membawa “pesan tambahan” dari tubuh yang tidak boleh diabaikan.

Dr. Imelda menjelaskan bahwa pada serangan jantung, nyeri dada sering disertai keluhan lain seperti keringat dingin, sesak napas mendadak, atau nyeri yang menjalar ke leher dan lengan. Meski gejalanya bisa berbeda pada setiap orang, biasanya ada sensasi yang terasa sangat tidak biasa.

“Keluhannya memang bisa berbeda-beda, tapi biasanya ada sensasi lain yang menyertai. Misalnya keringat dingin atau nyeri menjalar ke leher,” ujarnya.

Masalahnya, ketika nyeri dada langsung dianggap sebagai asam lambung, banyak orang memilih menunggu. Minum obat lambung, lalu berharap keluhan mereda. Padahal, jika yang terjadi sebenarnya adalah serangan jantung, penundaan ini bisa berakibat fatal.

Karena itu, dr. Imelda mengingatkan agar masyarakat termasuk orang tua yang kerap mengabaikan kondisi diri demi keluarga, lebih peka terhadap sinyal tubuh. Terutama bagi mereka yang hidup sendiri, memiliki pola makan tidak teratur, sering stres, dan kurang istirahat.

gerd sebabkan kematian

Pola makan tidak teratur, stres akademik atau pekerjaan, dan kurang istirahat dapat memperburuk kondisi tubuh secara umum,” katanya.

GERD memang bukan penyebab langsung kematian mendadak. Namun nyeri dada yang terasa berbeda, muncul tiba-tiba, disertai rasa lelah berlebihan, keringat dingin, atau nyeri yang menjalar ke bagian tubuh lain seharusnya tidak dianggap remeh.

“Jangan langsung menyimpulkan bahwa nyeri di dada itu GERD. Bisa jadi sesuatu yang lebih serius,” tegas dr. Imelda.

GERD memang tidak bisa sembuh secara permanen. Namun seseorang yang mengalami GERD dapat mengelola keluahan dengan baik. Utamanya dengan melakukan perubahan gaya hidup sehat seperti menghindari makanan pemicu, menyesuaikan pola tidur, termasuk hindari merokok dan konsumsi alkohol. Selain mengatur pola makan, menjaga berat badan ideal juga penting untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi jangka panjang, sehingga memungkinkan penderita untuk hidup nyaman dan produktif.

Pada akhirnya, memahami perbedaan antara GERD dan serangan jantung bukan sekadar soal pengetahuan medis, tetapi soal kewaspadaan terhadap diri sendiri. Mendengarkan tubuh dan tidak menunda pertolongan bisa menjadi keputusan kecil yang menyelamatkan nyawa. Semoga informasi ini bermanfaat ya, MamPap!

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirty two − twenty four =