Hernia pada Anak: Benjolan Kecil yang Tak Boleh Dianggap Sepele, Apa Saja Gejalanya?

hernia pada anak

Pada banyak kasus, hernia pada anak pertama kali disadari bukan karena keluhan nyeri, melainkan karena munculnya benjolan yang yang kerap diaggap sepele. Benjolan itu sering kali hilang timbul, muncul saat anak menangis, mengejan, atau bergerak aktif, lalu menghilang ketika ia tertidur atau dalam kondisi rileks. Karena tidak menimbulkan rasa sakit di awal, tak sedikit orang tua yang menganggapnya sebagai hal biasa.

Padahal, menurut dokter spesialis bedah anak, hernia pada anak merupakan kondisi medis yang perlu diperhatikan sejak dini.

“Gejala hernia pada anak itu sebenarnya jelas, yaitu benjolan. Orangtua biasanya datang dengan keluhan ada benjolan yang muncul dan menghilang,” ujar dr. Karmile, Sp.B.A., dokter spesialis bedah anak, dalam Media Discussion RS. Pondok Indah Group di Jakarta.

Apa yang Terjadi Saat Anak Mengalami Hernia?

Hernia adalah kondisi ketika organ atau jaringan dari dalam rongga tubuh menonjol keluar melalui celah pada dinding tubuh yang lemah. Menurut dokter spesialis bedah anak, dr. Karmile Sp B.A., hernia pada anak bisa terjadi karena berbagai faktor.

Umumnya terjadi akibat kegagalan proses penutupan dinding rongga tubuh sejak dalam kandungan hingga kelemahan dinding tubuh, biasanya perut. Jadi, hernia pada anak bukan disebabkan karena aktivitas fisik berlebihan.

“Penyebabnya itu macam-macam. Bisa karena kelemahan dinding, tapi pada anak-anak paling sering karena kegagalan proses penutupan,” ujar dr. Karmile dalam Media Discussion RS Pondok Indah Group terkait penanganan hernia pada anak di Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Istilah hernia berasal dari bahasa Yunani hernios, yang berarti pucuk atau cabang, menggambarkan kondisi jaringan yang menyembul keluar dari tempat seharusnya. Pada bayi dan anak, kondisi ini bisa terjadi sejak lahir dan baru tampak jelas ketika tekanan di dalam perut meningkat, misalnya saat menangis atau mengejan.

Jenis Hernia pada Anak

Ada berbagai jenis hernia pada anak, mulai dari hernia inguinal, umbilikal, epigastrik, spigeli, insisional, diafragmatika, hiatal, lumbaris, hingga hernia akibat trauma pada dinding perut. Meski begitu, hernia inguinal dan hernia umbilikal merupakan jenis yang paling sering ditemukan di kasus pasien hernia pada  anak.

Hernia inguinal biasanya muncul sebagai benjolan di lipatan paha atau kantong kemaluan. Kondisi ini paling sering disebabkan oleh kegagalan penutupan processus vaginalis, sebuah saluran yang seharusnya menutup setelah bayi lahir. Sementara itu, hernia umbilikal tampak sebagai benjolan di area pusar akibat dinding perut yang belum menutup sempurna.

“Kalau hernia inguinal, benjolannya biasanya muncul di lipat paha atau di kantong kemaluan. Kalau hernia umbilikalis, benjolannya terlihat di daerah pusar,” jelas dr. Karmile.

Gejala yang Awalnya Ringan, Tapi Bisa Berbahaya

Pada tahap awal, hernia pada anak umumnya tidak menimbulkan rasa nyeri. Benjolan bersifat hilang timbul dan sering kali hanya terlihat pada kondisi tertentu. “Kalau masih awal-awal, benjolannya itu hilang timbul dan tidak terasa nyeri,” kata dr. Karmile.

Namun kondisi ini dapat berubah menjadi serius ketika hernia mengalami jepitan, yaitu saat organ yang menonjol keluar tidak bisa kembali ke dalam rongga perut. Pada fase ini, anak akan menunjukkan tanda-tanda nyeri yang jelas.” Nah, jika sudah terjepit, pasti nyeri,” tegas dr. Karmile.

 hernia pada anak

Masalahnya, hernia pada anak juga bisa dialami saat bayi atau anak kecil di bawah 2 tahun, sehingga pada saat nyeri sering kali tidak bisa diungkapkan secara verbal. Anak bisa menjadi sangat rewel, menangis terus-menerus, sulit ditenangkan, disertai muntah dan perut yang semakin kembung. Dalam kondisi tertentu, jepitan juga dapat mengenai pembuluh darah usus.

“Kalau sudah sampai jepitan pembuluh darah, buang air besarnya bisa disertai darah,” lanjutnya.

Kemudian dr. Karmile menjelaskan, hal yang perlu diwaspadai tentu jika hernia pada bayi sudah dalam kondisi yang lebih berat, di mana anak justru bisa tampak tidak rewel, tetapi gejala yang diperlihatkan adalah lemas dan tidak aktif. Perubahan perilaku ini sering kali menjadi tanda bahwa kondisi sudah cukup serius.

Pentingnya Riwayat dan Dokumentasi dari Orangtua

Karena sifat hernia pada anak yang hilang timbul, benjolan sering kali tidak terlihat saat anak dibawa ke dokter. Oleh sebab itu, cerita dan pengamatan orangtua menjadi bagian penting dalam penegakan diagnosis.

“Kadang orang tua bilang ada benjolan, tapi saat diperiksa tidak terlihat. Foto atau video dari orangtua itu sangat membantu kami untuk menilai apakah ini hernia atau bukan,” ujar dr. Karmile.

Diagnosis hernia pada anak umumnya ditegakkan melalui pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis bedah anak, dengan atau tanpa pemeriksaan penunjang seperti USG.

Bagaimana Penanganan Hernia pada Anak?

Penanganan hernia pada anak bergantung pada jenis dan kondisi hernia tersebut. Hernia umbilikal pada banyak kasus dapat menutup sendiri seiring pertumbuhan anak dan biasanya diobservasi hingga usia 3–4 tahun. Namun, tindakan operasi perlu dipertimbangkan bila benjolan menetap, ukurannya membesar, atau terjadi komplikasi.

Berbeda dengan hernia umbilikal, hernia inguinal tidak dapat sembuh dengan sendirinya dan tidak bisa ditangani dengan obat maupun pijat. Tindakan pembedahan menjadi satu-satunya pilihan untuk mencegah komplikasi.

Pembedahan dapat dilakukan secara terencana pada anak yang berada dalam kondisi sehat dan stabil. Sementara itu, hernia yang sudah terjepit harus ditangani sebagai operasi darurat karena berisiko menimbulkan kerusakan jaringan hingga kematian organ.

Laparoskopi, Metode Minimal Invasif Tangani Hernia pada Anak

Saat ini, pembedahan hernia pada anak dapat dilakukan dengan metode laparoskopi. Teknik ini menggunakan kamera kecil yang dimasukkan melalui sayatan berukuran sekitar 0,5–1 cm di area pusar, sehingga luka operasi jauh lebih kecil dibandingkan operasi terbuka.

Metode laparoskopi memungkinkan dokter untuk melihat kondisi rongga perut dengan lebih jelas serta mendeteksi kemungkinan hernia di sisi kanan dan kiri sekaligus. Masa tindakan lebih singkat, nyeri pascaoperasi minimal, dan waktu pemulihan pun lebih cepat.

Anak umumnya dipantau selama 24–48 jam setelah operasi dan dapat kembali beraktivitas secara bertahap. Perawatan luka dilakukan dengan menjaga area tetap bersih dan kering menggunakan balutan tahan air.

dr. Karmile menekankan agar orangtua tidak melakukan penekanan berlebihan atau memijat benjolan hernia, serta menghindari penggunaan koin atau perekat di area pusar. Tindakan tersebut tidak menyembuhkan hernia dan justru dapat meningkatkan risiko komplikasi.

Deteksi dini, konsultasi ke dokter spesialis bedah anak, dan penanganan yang tepat merupakan kunci utama agar hernia pada anak tidak berkembang menjadi kondisi yang membahayakan. Karena di balik benjolan kecil yang tampak sepele, ada risiko besar yang bisa mengancam kesehatan si kecil bila diabaikan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

÷ five = two