Tidak bisa dipungkiri, sampai saat ini masih banyak nasihat yang menganjurkan bayi untuk dibedong. Banyak yang percaya bedong bisa mencegah kaki X atau kaki O pada anak. Memang, bentuk kaki X atau O pada anak tentu saja bisa membuat orang tua cemas. Khawatir, kaki anak mengalami kelainan.
Dalam istilah medis, kondisi kaki O atau bow legs juga dikenal sebutan genu varum di mana kaki anak terliat bengkok keluar membentuk kaki O. Sementara itu, kaki X atau knock knees bisa dilihat dari bentuk posisi kedua lutut yang saling menempel atau hampir bersentuhan, sementara pergelangan kaki justru mengarah ke luar dengan posisi berlawanan.
Perlu digarisbawahi sebenarnya bentuk kaki O atau X sebenarnya ‘wajar’ karena dalam banyak kasus merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang, terutama pada bayi dan balita. Hal ini ditegaskan oleh dokter spesialis ortopedi dari RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Mohammad Aulia Herdiyana, Sp. OT, Subsp. A (K).
Dalam sesi diskusi media, dr. Aulia menjelaskan kondisi kaki bayi berbentuk O memang normal, hal ini terjadi sejak bayi masih berada di dalam rahim, di mana ada keterbatasan ruang gerak sehingga posisi bayi meringkuk dan kakinya menekuk. Namun, kaki O fisiologis ini biasa akan membaik seiring bertambahnya usia anak, umumnya saat anak usia 18 bulan.
“Meski normal, tapi tetap saja kita sebagai orang tua perlu memerhatikan dan memahami batasan normalnya, agar bisa membedakan mana yang masih termasuk variasi pertumbuhan dan mana yang sudah memerlukan perhatian medis lebih lanjut dan perlu penangangan lebih lanjut. Kaki O ini perlu dievaluasi sampai maksimal usia 2 tahun, apakah kakinya sudah mulai lurus dan bagaimana kurva pertumbuhannya,” tegas dr. Aulia.
Berbeda dengan kaki O, kaki X pada anak umumnya muncul pada tahap pertumbuhan yang terjadi pada anak berusia 3 sampai 4 tahun. Kondisi kaki X ini akan berangsur membaik dengan sendirinya setelah usia 6 atau 7 tahun.

Bedong Bisa Cegah Kaki O pada Anak?
Terkait dengan nasihat atau anggapan yang mengatakan kalau kaki O pada anak bisa dicegah dengan cara dibedong, dr. Aulia menegaskan hal ini adalah mitos. Katanya, tindakan membedong yang terlalu rapat justru berisiko tinggi menimbulkan kerusakan pada area panggul bayi.
“Jelas saya mengatakan itu mitos. Justru kita agak peduli bahwa studi-studi menyebut ternyata dengan membedong yang terlalu rapat, justru akan berpengaruh ke panggulnya,” ujarnya.
Ia melanjutkan, membedong kaki bayi boleh saja namun jangan rapat karena justru bahaya karena area bonggol di sekitar panggul dapat bergerak ke arah luar. Hal tersebut dapat memengaruhi keaktifan anak ketika berkegiatan di masa depan. Kalaupun bayi harus dibedong, katanya, orang tua diharapkan tidak membedong terlalu kencang dan memastikan bayi tetap dapat bergerak dengan nyaman.
Pentingnya Vitamin D

Tidak hanya dipengaruhi oleh faktor usia, perkembangan bentuk kaki anak juga dipengaruhi oleh kesiapan tulang dalam menopang berat badan. Oleh karena itulah dr. Aulia mengingatkan pentingnya memperhatikan setiap tahapan pertumbuhan anak, serta kebutuhan nutrisi anak baik mikro dan makro.
“Jika anak berjalan terlalu cepat atau melewati fase pertumbuhan yang tidak sesuai dengan kurva pertumbuhan, hal ini perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kondisi tulang kaki. Selain faktor pertumbuhan, pemenuhan asupan gizi, terutama vitamin D juga berperan besar terhadap kualitas tulang anak. Kekurangan vitamin D dapat mengganggu penyerapan kalsium, sehingga tulang menjadi kurang kuat.”
Pada beberapa anak, defisiensi vitamin D bisa memicu terbentuknya kaki X atau O. “Kadar vitamin D yang rendah membuat tubuh sulit menyerap kalsium, sehingga kualitas tulang menurun. Vitamin D memiliki peran penting dalam membantu pembentukan tulang yang kuat dan sehat,” ” ujar dr. Aulia.
Jika asupannya tidak tercukupi, tulang anak menjadi lebih rentan mengalami perubahan bentuk. Karena itu, nutrisi seimbang dan paparan sinar matahari yang cukup sangat penting untuk mendukung pertumbuhan tulang optimal. Selain itu yang tidak kalah penting, menjaga berat badan anak tetap ideal juga menjadi lankah penting mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki pada anak.
Meski banyak kasus kaki X dan kaki O pada anak dapat membaik seiring pertumbuhan, konsultasi ke dokter tetap dianjurkan. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan kondisi anak masih sesuai dengan kurva pertumbuhan normal dan bukan disebabkan oleh gangguan lain yang memerlukan penanganan khusus.
Pasalnya, jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, kondisi kaki X atau pun kaki O pada anak bisa menyebabkan komplikasi. Mulai dari risiko kelainan pola jalan, risiko jatuh hingga osteoarthritis, cedara pada meniskus dan ligamen.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads









and then