Aksi Nyata Cegah Stunting dan Anemia, Danone SN Indonesia Lakukan Kolaborasi Lintas Sektor

Salah satu pertanyaan yang kerap ada di benak orang tua, “Apakah kita sudah memberikan yang terbaik untuk anak?”. Tanda tanya besar ini sering dirasakan para orang tua baru, saat ibu menggendong bayinya, atau ketika ayah memandangi anaknya tertidur pulas. Di balik rasa khawatir ini, nyatanya berkaitan erat dengan fase krusial yang menentukan masa depan anak, 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), termasuk upaya pencegahan stunting pada anak. 

Di Indonesia, fase ini masih menjadi tantangan besar. Masalah gizi, anemia, kesehatan saluran cerna, hingga stunting masih membayangi jutaan anak. Dampaknya tentu saja bukan hanya hari ini, tetapi juga jangka panjang yang akan dirasakan anak puluhan tahun ke depan di mana akan berpengaruh pada kecerdasan, produktivitas, bahkan kualitas hidup mereka saat dewasa.

Kesadaran inilah yang menjadi benang merah dalam acara bertajuk “Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi” yang diselenggarakan oleh Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia pada 8 Januari 2026 di Jakarta. Sebuah forum yang mempertemukan pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, asosiasi profesi, hingga mitra komunitas yang memiliki satu tujuan, melindungi masa depan anak Indonesia.

1000 HPK: Fondasi yang Tak Bisa Diulang

Periode 1000 HPK sering disebut sebagai window of opportunity. Sekali terlewat, dampaknya sulit diperbaiki. Sayangnya, banyak keluarga belum sepenuhnya memahami betapa krusialnya fase ini.

CEO Danone Specialized Nutrition Indonesia, Joris Bernard, menjelaskan bahwa komitmen perusahaan dalam menjawab tantangan kesehatan dijalankan secara menyeluruh dan berkelanjutan. “Melalui Danone Impact Journey, kami menjadikannya sebagai panduan untuk mengintegrasikan kesehatan, tanggung jawab lingkungan, dan kemajuan sosial dalam setiap lini bisnis. Selama puluhan tahun hadir di Indonesia, Danone berkomitmen mendampingi keluarga dan berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Pendekatan ini didukung oleh riset yang kuat, publikasi ilmiah, serta kolaborasi dengan para ahli dan berbagai pemangku kepentingan. Sehingga solusi yang kami hadirkan tidak hanya relevan untuk saat ini, tetapi juga berbasis bukti ilmiah dan mampu memberikan dampak nyata bagi generasi mendatang,” ujar Joris.

 pencegahan stunting pada anak

Pemerintah sendiri menargetkan penurunan stunting hingga 14,2% pada 2029 sebagai bagian dari visi besar Indonesia Emas 2045. Namun, target ini tak bisa dicapai hanya oleh satu pihak. Dibutuhkan pendekatan berbasis sains, riset jangka panjang, dan kolaborasi lintas sektor hingga ke level keluarga.

Menariknya, komitmen Danone terhadap kesehatan tidak berhenti pada produk. Joris Bernard menegaskan bahwa perubahan besar harus dimulai dari dalam. “Melalui Danone Impact Journey, kami mengintegrasikan kesehatan, tanggung jawab lingkungan, dan kemajuan sosial dalam setiap lini bisnis,” jelasnya.

Program internal seperti DanCares, kebijakan cuti melahirkan enam bulan, hingga dukungan kesehatan mental karyawan melalui Be Well, menjadi fondasi budaya perusahaan yang pro-keluarga. Dari sinilah, pendekatan berbasis riset dan inovasi nutrisi dikembangkan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Anemia, Gut Health, dan Stunting: Rantai yang Tak Terpisahkan

Dalam diskusi panel, para ahli sepakat bahwa anemia, kesehatan saluran cerna, dan stunting bukan isu terpisah. Ketiganya saling memengaruhi. Anemia akibat defisiensi zat besi masih banyak terjadi, bahkan sejak usia dini. Padahal, zat besi berperan penting dalam perkembangan otak dan daya tahan tubuh anak.

Hal ini ditegaslan oleh Dokter Spesialis Gizi Klinik, Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K),  “Keragaman diet dan asupan serat yang cukup menjadi kunci untuk mendukung mikrobiota usus, proses pencernaan, dan penyerapan nutrisi secara optimal. Asupan nutrisi yang seimbang tidak hanya mencegah gangguan saluran cerna, tetapi juga mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif pada anak, termasuk pencegahan stunting. 

Sayangnya, penerapan strategi nutrisi di masyarakat, keterbatasan akses masyarakat pedesaan dan kebiasaan pangan rendah serat menjadi hambatan utama. Sehingga dibutuhkan riset lokal dan kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, serta industri untuk menghasilkan solusi yang efektif dan berkelanjutan,” Dr. dr. Luciana Sutanto, MS. SpGK(K), Presiden Indonesian Nutrition Association (INA).

Pencegahan Stunting Perlu Dimulai Sejak Usia Remaja

pencegahan stunting pada anak

Perlu digarisbwahi bahwa upaya pencegahan stunting dan anemia tidak bisa menunggu kehamilan. Remaja justru menjadi kelompok strategis dan perlu diperhatikan karena pencegahan stunting justru menjadi kunci pencegahan stunting sejak dini. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Edi Setiawan, Kemendukbangga/BKKBN.

“Melalui Sinergi GenRe (Generasi Berencana) dan GESID (Generasi Sehat Indonesia) diharapkan dapat menjadi model kemitraan strategis pemerintah dan sektor swasta dalam membangun generasi muda yang sehat, berdaya, dan siap mewujudkan Indonesia Emas 2045,” paparnya.

Sementara di lapangan, bidan menjadi sosok terdepan yang paling dekat dengan ibu dan anak. Di sini, bidan berperan penting dalam edukasi gizi seimbang dan kepatuhan konsumsi zat besi. 

Tak kalah penting adalah kesehatan saluran cerna. Gangguan pencernaan dapat menghambat penyerapan nutrisi dan berujung pada stunting. Sayangnya, keterbatasan akses pangan dan kebiasaan makan rendah serat masih menjadi tantangan, terutama di daerah pedesaan. Di sinilah riset lokal dan inovasi nutrisi menjadi krusial.

Sepanjang 2025, Danone SN Indonesia menghasilkan lebih dari 46 publikasi ilmiah yang membahas anemia, stunting, gut health, hingga imunitas. Pendekatan berbasis bukti menjadi kunci untuk memastikan program kesehatan dan inovasi nutrisi yang dikembangkan relevan dengan kebutuhan keluarga Indonesia.

Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan bahwa riset menjadi fondasi utama dalam pengembangan pendekatan kesehatan dan gizi yang komprehensif. Ia mengatakan, temuan-temuan ilmiah ini telah dipresentasikan dan didiskusikan secara aktif di berbagai forum ilmiah nasional dan internasional, termasuk konferensi seperti ESPGHAN dan ISPOR.

“Melalui pendekatan berbasis sains dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan, akademisi, serta asosiasi profesi, Danone berkomitmen untuk berkontribusi secara ilmiah melalui inovasi penelitian yang berkelanjutan dan berdampak. Komitmen ini juga kami wujudkan dengan menghadirkan solusi nutrisi berbasis sains serta pengembangan alat bantu digital untuk deteksi dini risiko nutrisi, guna membantu keluarga Indonesia, khususnya bagi anak-anak,” jelas dr. Ray.

Hasil riset dan publikasi ilmiah tersebut kemudian menjadi dasar berbagai inisiatif kolaboratif dan program kesehatan, termasuk gerakan Bersama Cegah Stunting dan Generasi Maju Bebas Stunting yang mendorong pencegahan stunting melalui edukasi gizi keluarga. Upaya ini juga diperkuat melalui inisiatif Kalkulator Zat Besi, yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap anemia melalui deteksi dini, pencegahan, dan edukasi gizi, sekaligus mendukung penguatan kapasitas tenaga kesehatan melalui kemitraan lintas sektor.

Hasil riset ini melahirkan berbagai inisiatif seperti Gerakan Bersama Cegah Stunting, Generasi Maju Bebas Stunting, hingga Kalkulator Zat Besi untuk deteksi dini anemia. Inovasi produk dengan fortifikasi zat besi dan dukungan kesehatan pencernaan pun dihadirkan sebagai bagian dari solusi menyeluruh.

Pada akhirnya, cerita tentang kesehatan anak bukan hanya tentang angka dan target nasional. Ini tentang pilihan kecil yang diambil setiap hari oleh keluarga, apa yang dimakan anak, bagaimana ia dirawat, dan siapa saja yang mendampingi tumbuh kembangnya.

Melalui kolaborasi berbasis sains, edukasi, dan peran aktif keluarga, jarak antara harapan dan masa depan Indonesia bisa dipersempit. Karena anak yang sehat hari ini adalah fondasi Indonesia yang kuat esok hari.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ sixty five = sixty eight