Menjadi ibu baru di era digital memang tidak mudah. Banyak mama baru dari generasi Z merasa terbebani dengan standar tinggi yang mereka lihat setiap hari di media sosial. Psikolog klinis, Saskhya Aulia Prima menegaskan bahwa kondisi ini membuat ibu baru lebih mudah panik, stres, dan merasa harus selalu jadi ibu sempurna.
“Generasi Z hidup dengan paparan media sosial setiap hari. Hal ini membuat mereka lebih sering merasa tidak cukup baik ketika melihat standar yang ditampilkan orang lain di media sosia. Misalnya melihat influencer yang baru lahiran, tapi terlihat sangat tenang. Ya, mereka ini kan tidak unggah momen anak rewel jam 1 dini hari, ya,” papar Saskhya sambil tertawa kecil saat sesi diskusi media bersama Cussons Baby yang kembali menghadirkan inovasi terbarunya: Cussons Baby Cuddle Calm di Jakarta.
Selain pengaruh media sosial, salah satu faktor kenapa ibu baru dari generasi Z cenderung ingin jadi “ibu sempurna” juga terkait dengan adanya adanya budaya perbandingan (comparison culture), Di mana media sosial juga mendorong kebiasaan membandingkan diri. Saat melihat ibu lain terlihat sukses, mereka bisa merasa “kurang” atau “gagal” jika tidak sama.
Seperti yang dikatakan Saskhya, “Akhirnya, kita jadi punya standar sendiri kalau ibu yang baik itu A, B, C, D, E. Kemudian menyebabkan mereka juga mudah bersalah dan muncul tekanan untuk selalu tampil sempurna sebagai seorang ibu,” Selama tidak menggangu aktivitas kita sehari-hari, baik untuk self care, makan, tidur, melakukan aktivitas sehari-hari termasuk menjalankan interaksi dengan orang lain, ya berarti stressnya masih bisa tertangani.
Tekanan Jadi Ibu Sempurna dan Pentingnya Parental Reflectif Function
Dalam hal ini Saskhya menekankan bahwa kunci utamanya membuat bayi lebih tenang bukan jadi ibu sempurna, tetapi orang tua memerlukan parental reflectif function. Psikolog klinis jebolan Universitas Indonesia ini menjelasakan bahwa parental reflectif function merupakan kemampuan orang tua dalam memahami perilaku anak dari sudut pikiran, perasaan dan kebutuhanya, sekaligus menyadari emosi kita sendiri sebagai orang tua.
“Masalahnya bisa muncul jika parental reflectif function kita jadi nggak jalan. Fokusnya jadi kita merasa jadi ibu yang gagal, tapi kan dari sini kita malah fokus ke diri sendiri bukan ke bayi. Ini yang sering kita lupa, as a mother seharusnya juga bisa fokus ke anak. Pada saat anak nangis harus gimana? Jadi lupa seharusnya kita mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan perlu dilakukan untuk anak kita.
Bayi tidak butuh ibu yang sempurna. Mereka butuh orang tua dan ibu yang cukup hadir dan responsif terhadap kebutuhannya. Itu artinya, ibu perlu juga merawat dirinya sendiri, memberi ruang untuk beristirahat, dan tidak ragu meminta bantuan pasangan atau keluarga ketika merasa kewalahan.
Dengan mengurangi perbandingan, menurunkan standar perfeksionis, dan lebih fokus pada kebutuhan nyata bayi serta diri sendiri, mama baru bisa menjalani peran ini dengan lebih damai. Kesempurnaan bukanlah tujuan, karena yang paling berharga bagi bayi adalah ibu yang penuh kasih dan hadir sepenuhnya.
Bagi sebagian besar mama Gen Z, tekanan ini bukan hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam diri sendiri. Budaya pencapaian yang lekat dengan generasi mereka membuat standar pribadi jadi sangat tinggi. Saat realita tidak sesuai dengan ekspektasi, rasa bersalah dan cemas pun muncul.
Cara Membantu Bayi Anteng dan Membuat Bunda Tenang
Memang, sebagai ibu baru akan merasakan tekanan yang semakin kuat saat berhadapan dengan bayi yang rewel atau menangis. Banyak ibu baru merasa bersalah, seolah tangisan bayi adalah tanda kegagalan mereka. Padahal, menurut Saskhya, tangisan adalah cara utama bayi berkomunikasi. Bayi menangis karena lapar, tidak nyaman, atau ingin dekat dengan ibunya. Itu wajar dan bukan berarti ada yang salah dengan pola asuh.
Hal ini pun ditegaskan dr. Dimple Nagrani, Sp.A, ditemui di acara yang sama, ia mengatkan bahwa bagi bayi yang baru lahir, dunia luar adalah tempat yang asing. Setelah sembilan bulan berada di dalam rahim yang hangat, gelap, dan penuh perlindungan, mereka tiba-tiba harus beradaptasi dengan lingkungan yang terang, bising, dan penuh rangsangan.

“Selama di kandungan, bayi merasa seperti selalu dipeluk. Tiba-tiba lahir ke dunia yang terang banget dan berisik. Itu sebabnya banyak bayi jadi mudah tidak nyaman atau mengalami overstimulasi,” ujarnya.
Dokter spesialis anak ini mengingatkan bahwa tangisan adalah bahasa utama bayi. Bayi akan menangis untuk menyampaikan lapar, popok basah, atau sekadar ingin merasa dekat dengan orang tuanya. Salah satu penyebab yang paling sering terlewatkan adalah perut kembung hingga bikin bayi kolik.
“Paling sering bayi rewel karena kembung. Bayi tidak bisa sendawa kalau dalam posisi tiduran. Karena itu, menggendong bayi adalah cara efektif untuk membantu mereka bersendawa,” terang dr. Dimple.
Meski tangisan bayi bisa membuat panik, kunci sebenarnya justru ada pada ketenangan ibu. “Ibu yang tenang, bayi ikut tenang. Ini sudah terbukti sekali,” ujar dr. Dimple.
Bayi sangat peka terhadap emosi orang tua. Ketika ibu cemas, detak jantungnya lebih cepat, dan bayi bisa ikut merasa tidak nyaman. Sebaliknya, ketika detak jantung ibu stabil dan tenang, bayi akan merasa aman. Irama ini mengingatkan mereka pada detak jantung yang didengar selama berada di rahim.
Itu sebabnya, langkah pertama untuk menenangkan bayi adalah menenangkan diri sendiri. Jika ibu merasa kewalahan, tak ada salahnya meminta bantuan pasangan atau anggota keluarga untuk menggendong bayi. Mengakui batasan bukan tanda kelemahan, justru bentuk kebijaksanaan.
Langkah Praktis Menghadapi Bayi Rewel

Selain menjaga ketenangan, ada beberapa cara yang bisa membantu ibu menghadapi kerewelan bayi:
- Sendawakan bayi setelah menyusui. Lakukan sekitar 30 menit untuk mencegah kembung.
- Perhatikan tanda alergi. Jika muncul kemerahan di kulit, bisa jadi reaksi dari makanan yang dikonsumsi ibu (untuk bayi yang menyusu ASI).
- Fokus pada kualitas tidur bayi. Pastikan bayi nyaman, tidak kembung, tidak demam, dan lingkungan sekitar mendukung tidur nyenyak.
- Berikan waktu istirahat untuk diri sendiri. Sekadar mandi selama 30 menit dapat membantu ibu kembali segar dan siap menghadapi tantangan.
Dukungan Produk dengan Aromaterapi untuk Ibu dan Bayi
Dalam kesempatan yang sama, Cussons memperkenalkan rangkaian Cussons Baby Cuddle Calm yang diperkaya dengan aromaterapi lavender dan chamomile. Kehadiran produk ini ditujukan untuk membantu ibu menenangkan bayi yang rewel, sekaligus memberi ruang bagi ibu untuk fokus menciptakan momen penuh cinta bersama si kecil.

“Kami ingin membantu ibu membangun rutinitas istirahat dan tidur yang menenangkan pada bayi, sekaligus mendukung ibu agar dapat menjalani peran dengan bangga dan bahagia. Kami percaya, ketika bayi anteng, bunda tenang,” ujar Eva Arisuci Rudjito, Marketing Director PZ Cussons Indonesia.
Rangkaian produk ini terdiri dari Hair & Body Wash, Face & Body Cream, dan Tummy Rub Telon Oil yang diformulasikan lembut untuk kulit bayi serta dilengkapi aromaterapi alami. Kehadirannya diharapkan bisa menjadi dukungan nyata bagi ibu Indonesia dalam menghadapi fase kerewelan bayi di tahun pertama kehidupan.
Perjalanan menjadi orang tua baru memang penuh tantangan. Namun, dengan memahami kebutuhan bayi, menjaga ketenangan diri, serta memanfaatkan dukungan dari pasangan, keluarga, dan rutinitas perawatan yang tepat, fase kerewelan bisa dilalui dengan lebih damai. Karena pada akhirnya, bayi tidak mencari kesempurnaan, sebab mereka hanya membutuhkan kasih sayang dan ketenangan dari orang tuanya.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads









and then