Bagi Mama yang saat ini masih sabar dan setia mendampingi dan mengurus suami sakit-sakitan, Anda luar biasa, Mam. Seperti kita ketahui, mendampingi suami sakit itu tidaklah mudah, ditambah harus mengurus anak, rumah dan hal lainnya. Ini yang harus Mama kuasai dan lakukan jika mengalami kondisi sama.
TikTok Indonesia pernah dihebohkan dengan kisah cinta Riri Robiani (30) dan Yassir AlHabsyi (31). Siapakah mereka dan apa yang membuat kisah mereka viral?
Riri dan Yassir adalah pasangan suami-istri. Publik tahu tentang keduanya bermula dari Riri yang kerap menceritakan aktivitasnya saat menemani Yassir cuci darah.
Iya, cuci darah memang bukan aktivitas yang umum dilakukan pasangan suami-istri. Dan yang menarik, aktivitas ini sudah mereka lakukan sejak 9 tahun lalu.
Pada tahun 2015 Yassir didiagnosis mengalami gagal ginjal kronis. Dokter pun menyarankannya untuk menjalani prosedur cuci darah 2 kali setiap bulannya. Dan Kamis, 25 Juni 2025, lalu merupakan cuci darah Yassir yang ke-930. Selama itu juga Riri selalu menemani suaminya.
Itulah yang membuat publik kagum. Bayangkan saja, ada suami sakit-sakitan selama bertahun-tahun dan istrinya masih setia mendampingi hingga sekarang. Hal yang sangat jarang terjadi di era sekarang, bukan?
Dampak Suami Sakit-sakitan
Setiap tahun, jutaan orang di dunia divonis mengidap penyakit serius –entah itu penyakit Alzheimer, kanker, gagal jantung, atau kondisi medis serius lainnya. Kondisi ini tentunya mengubah hidup Anda dan pasangan –bagi yang sudah menikah.
Melansir laman News Medical, suami sakit-sakitan umumnya dapat menyebabkan beberapa hal ini pada hubungan pasutri (pasangan suami-istri):
- Sulit berkomunikasi. “Seringkali komunikasi menjadi masalah, karena sama-sama bingung dan tidak yakin harus bagaimana, terutama di awal-awal diagnosis,” kata Barbara Kivowitz dan Roanne Weisman dalam buku Love In The Time of Chronic Illness: How to Fight the Sickness – Not Each Other.
- Mengurus sendiri dan kesepian. Berdasarkan analisis terhadap 168 studi, istri biasanya mengurus sendiri suaminya yang sakit-sakitan, terutama jika usianya sudah tua atau tidak ada harapan untuk hidup lebih lama lagi –tanpa bantuan anak, anggota keluarga lain, teman, atau perawat di rumah (caregiver).
- Berkurangnya koneksi emosional dalam pernikahan. Tanpa disadari, hubungan ‘suami-istri’ yang tadinya sehat berubah menjadi hubungan ‘pasien-perawat’. Ini jelas dua jenis hubungan yang berbeda.
- Stres dan depresi. Baik itu suami atau istri sama-sama bergumul dengan perasaan takut kehilangan, kesalahpahaman (dalam hal pengasuhan) dan juga kemarahan. Belum lagi jika ditambah harus mengurus anak atau ada masalah keuangan karena istri tidak bekerja. Wah, stresnya double, nih!
Saran Ahli Agar Hubungan Tetap Kuat Saat Mendampingi Suami Sakit

Ketika suami didiagnosis sakit serius, tentu situasi di rumah jadi tak sama lagi dengan sebelumnya. Dalam semalam jobdesk Anda di’paksa’ berubah, bukan lagi sekadar ‘istri’dan/atau ibu rumah tangga, tapi juga perawat dan/atau pencari nafkah.
Tentunya ini tidak akan mudah, dan rentan memicu terjadinya situasi seperti yang disebutkan di atas.
Agar Anda bisa tetap waras dan pernikahan terlindungi, lakukanlah strategi berikut ini:
1, Atur ulang ekspektasi
Kegiatan bersama apa yang biasanya kerap Anda dan suami lakukan? Setelah suami diketahui sakit serius, fixed kegiatan itu tak bisa lagi dilaksanakan. Yuk, jangan lagi terpaku pada hal itu, tapi fokuslah pada apa yang masih bisa dilakukan bersama.
Melansir The Johns Hopkins Hospital, Dr. John Rolland, profesor psikiatri di Northwestern University’s Feinberg School of Medicine dan penulis buku Helping Couples and Families Navigate Illness and Disability: An Integrated Approach, menyarankan, agar Anda segera mencari tahu apa yang bisa dilakukan bersama suami dengan kondisinya saat ini –juga aktivitas yang bisa dilakukan secara terpisah.
Komunikasikanlah hal ini secara terbuka bersama suami.
2. Bagi tanggung jawab
Umumnya suami sakit-sakitan akan merasa tidak berarti, kurang berfungsi dan/atau merasa bersalah karena sudah membebani Anda dengan tanggung jawab harus merawatnya.
Penulis buku Love In The Time of Chronic Illness: How to Fight the Sickness – Not Each Other Barbara Kivowitz menyarankan, agar Anda membuat daftar semua hal yang perlu dikerjakan sehari-hari di rumah, lalu membagi tugas-tugas tersebut untuk berdua.
Jika Anda dan suami sama-sama tak bisa mengerjakannya –karena sakit dan sibuk menjadi caregiver– sepakatilah untuk mendelegasikannya kepada orang lain. Dengan begitu, keadaan jadi lebih seimbang, terutam bagi suami.
3. Libatkan suami
Psikiater sekaligus Direktur Klinik Psikiatri Geriatri di Rumah Sakit Johns Hopkins Susan Lehmann juga menyarankan agar Anda menghindari memposisikan suami pada peran pasif sebagai orang yang ‘tidak berdaya’, ‘yang lemah’ atau ‘pasien’.
Apapun yang ingin Anda lakukan –baik itu tentang urusan rumah tangga, anak atau metode pengasuhan untuknya– usahakan untuk tetap melibatkannya.
4. Dengarkan dan luangkan waktu bersama
Bingung harus mengatakan apa pada suami mengenai kondisinya? Ya, tidak perlu memaksakan diri untuk mengatakan sesuatu, Mam. Yakinkan saja bahwa Anda mencintai dan mendukung suami melalui perbuatan Anda.
Yakni, dengarkan suami jika ia bicara dan habiskanlah lebih banyak waktu bersamanya. Jika memungkinkan, teruslah berbagi rutinitas Anda bersamanya dan jadikan setiap momen bermakna.
5. Dapatkan informasi
Miliki informasi akurat mengenai kondisi, perawatan, dan kebutuhan suami.
“Meski internet menyediakan informasi umum dan spesifik tentang kondisi dan perawatan, tapi penting untuk diingat tidak semua situs web memberikan informasi akurat. Jadi ada baiknya tanyakan langsung ke penyedia layanan kesehatan,” kata Susan.
Saat mengantar suami untuk janji temu medis, jangan juga hanya duduk di ruang tunggu atau berdiam diri. “Ikutlah mendengarkan penjelasan dokter mengenai rencana perawatan. Mengingat waktu bersama dokter atau perawat terbatas, jadi usahakan sebelum bertemu mereka susun daftar pertanyaan juga kekhawatiran Anda.”
Pastikan Anda mendapatkan nomor kontak pribadi dokter agar lebih leluasa bertanya mengenai hal-hal yang penting di luar jadwal kontrol suami.
6. Jangan marah
Penyakit ini berdampak pada pola makan, tingkat aktivitas fisik, rutinitas pengobatan, juga jam istirahat suami. Selain membantu menyembuhkan penyakitnya, perubahan ini juga dapat memicu frustrasi pada suami. Tapi ketika suami meluapkan rasa frustrasinya, berusahalah untuk menanggapinya dengan sabar. Jangan balik memarahinya.
7. Perluas jaringan
Jika ada teman dan anggota keluarga yang tampak tak memahami apa yang Anda dan suami alami, jangan ambil pusing. Tapi jangan juga Anda antisosial dengan tidak mau bergaul. Carilah orang atau komunitas yang bisa memahami kondisi Anda, karena Anda akan membutuhkan dukungan mereka saat diperlukan nanti.
Jika ada kerabat yang menawarkan diri untuk membantu –baik itu memberikan uang, tenaga untuk mengantar ke rumah sakit, membersihkan rumah, atau apapun– jangan gengsi dengan menolaknya, terima saja. Anda bisa menggunakan waktu itu untuk rehat sejenak.
Tanda Anda Stres Mengurus Suami Sakit-sakitan
Mendampingi suami sakit itu memang bisa melelahkan, Mam. Selama mengasuh suami sakit-sakitan, Anda mungkin terlalu fokus sampai-sampai tidak menyadari kondisi kesehatan dan kesejahteraan diri sendiri.
Berikut ini tanda-tanda stres selama mendampingi suami sakit-sakitan menurut Mayo Clinic:
- Merasa khawatir sepanjang waktu: takut kehilangan, takut tidak melakukan yang benar, dan lainnya.
- Sering merasa kelelahan.
- Kurang tidur atau terlalu banyak tidur.
- Berat badan naik/turun dengan cepat.
- Mudah tersinggung dan/atau marah.
- Kehilangan minat pada aktivitas yang dulu disukai.
- Kerap merasa sedih dan kesepian.
- Sering mengalami sakit kepala atau nyeri atau masalah kesehatan lainnya.
- Mengalihkan rasa lelah dan khawatir dengan alkohol atau obat-obatan, termasuk obat resep.
- Melewatkan janji temu medis untuk masalah kesehatannya sendiri.
Yang Perlu Anda Lakukan
Tuntutan emosional dan fisik dalam mengasuh suami sakit-sakitan memang rentan membebani, bahkan meski sebelumnya Anda dikenal sebagai orang yang sangat kuat.
Jika mengalami banyak hal di atas, segera lakukan ini:
- Segera minta bantuan ahli kesehatan. Ingat, kesehatan Anda sama pentingnya dengan kesehatan suami.
- Beristirahatlah dengan cukup, jangan skip jam makan, berolahraga secara rutin, dan banyak minum air putih.
- Percayalah bahwa Anda telah melakukan yang terbaik yang Anda bisa, jadi jangan lagi merasa khawatir.
- Buat list tugas tugas yang harus Anda lakukan –mulai dari tugas kecil dan kerjakanlah satu per satu.
- Cukup lakukan rutinitas harian. Katakan tidak pada hal-hal besar yang menguras tenaga, seperti mengadakan jamuan makan.
Tidak ada yang terlalu berat jika Anda melakukannya atas dasar setia dan ikhlas. Percayalah, ketika Tuhan takdirkan suami sakit-sakitan, di saat itu juga ia memberi kekuatan dan kesabaran untuk Anda terus mendampingi dan mengurus suami.
Terus semangat, ya, Mam!










and then