Pernikahan tanpa seks. Bagi sebagian pasangan, mungkin hal ini terdengar aneh dan sedikit ‘menakutkan’. Terlebih lagi bagi pasangan suami istri yang baru menikah. Membayangkan kamar tidur terpisah, atau masih tidur satu kamar namun terasa dingin. Ditambah lagi percakapan yang serba kikuk, atau mungkin tak ada komunikasi lantaran kedua belah pihak sama-sama memendam rasa kesal. Apakah bisa menjalani pernikahan seperti ini?
Kenapa Bisa Terjadi Pernikahan Tanpa Seks?
Kenyataannya, kondisi pernikahan tanpa seks memang ada. Setidaknya pernikahan ini dirasakan pasangan Amrita dan suami, sebut saja begitu. Kepada Parentsquads, Amrita mengatakan bahwa setelah memasuki usia pernikahan ke 9 tahun, dirinya merasa banyak perubahan. Lambat laun kehangatan yang yang ia rasakan hilang. Meski masih tinggal satu atap dengan suaminya, ia mengatakan kehidupannya seperti bersama orang asing. “Ya, ada atau pun nggak dia di rumah, ya sama aja. Lah wong kalau sama – sama di rumah, jadi sibuk masing-masing,” ungkapnya.
Kehidupan seks? “Yah, boro-boro hubungan intim. Sampai lupa terakhir kapan, hahaha,” ujarnya dengan santai.
Jika dulu keduanya adalah pasangan yang selalu tertawa, saling mengejek saat berpelukan di sofa, dan tentu saja kehidupan seks mereka penuh gairah di awal pernikahan. Beberapa tahun belakangan, kamar tidur jadi lebih “sunyi”. Bukan karena mereka tidak saling mencintai, tetapi seiring waktu, hasrat perlahan-lahan redup.
Nyatanya pernikahan tanpa seks, memang lebih kompleks dari yang biasanya kita bayangkan. Laman Psikologi Today menuliskan, menurut berbagai penelitian, sekitar 10–20% pasangan menikah di AS berhubungan seks kurang dari 10 kali dalam setahun. Itu angka yang sering dijadikan batas untuk menyebut sebuah hubungan “tanpa seks”, meski sebenarnya tidak ada definisi tunggal yang disepakati.
Beberapa ahli lebih suka menyebutnya pernikahan dengan frekuensi seks rendah, dan sebagian lagi memilih untuk tidak memberi label apa pun. Apa pun istilahnya, ada satu hal yang pasti, ini tentu saja berkaitan dengan hasrat seksual dalam pernikahan memang bisa meredup seiring waktu, dan alasannya sangat beragam.
Fenomena ini memang ada, dan bisa jadi salah satu dinamika banyak rumah tangga modern. Meski begitu, tentu tidak ada pasangan yang tiba-tiba sepakat untuk menjadi pernikahan tanpa seks. Biasanya kondisi ini muncul perlahan, nyaris tanpa disadari.
Institute for Family Studies; juga dirangkum oleh WIFitalents (2024), menyebutkan kalau Sekitar 15–20% pasangan menikah masuk kategori “sexless marriage” (kurang dari 10 kali setahun).
Sementara Japan Family Planning Association (JFPA), yang dilaporkan The Times menyebutkan di Jepang, kondisinya lebih ekstrem, 48,3% pasangan menikah tidak berhubungan seks sebulan terakhir, dan total 68,2% pasangan mengaku “jarang atau tidak pernah” berhubungan seks.
Berdasarkan berbagai riset dan laporan, sekitar 15–20% pasangan menikah berada dalam apa yang disebut “sexless marriage” (pernikahan tanpa seks). Ada juga laporan yang menyebut bahwa sekitar sepertiga pasangan menikah memiliki frekuensi seks sangat rendah: kurang dari 10 kali dalam setahun. Artinya, “kamar tidur sunyi” bukan hal langka karena banyak pasangan yang mengalami fase pernikahan tanpa seks.
Penyebab Pernikahan Tanpa Seks
Penyebabnya sudah pasti sangat beragam, ya. Misalnya karena faktor kelelahan mengurus bayi. Lalu masuk ke fase anak sekolah dengan jadwal yang padat. Ditambah tenggat pekerjaan, atau hal lainnya yang bisa menguras perhatian ekstra.
Dalam hal ini Nadya Pramesrani, Psikolog Klinis Dewasa dari Rumah Dandelion juga mengatakan bawah sexless marriage kerap kali dipengaruhi faktor psikologis yang memiliki peran besar. Stres kronis, kecemasan, depresi, atau konflik hubungan yang lama tak terselesaikan bisa meredam hasrat. Perubahan hormonal pada perempuan yang memasuki usia perimenopause dan menopause atau kadar testosteron rendah juga turut andil. Termasuk kondisi medis, dan obat-obatan tertentu juga bisa memengaruhi gairah seksual yang menurun.
Terkadang kondisi ini dirasakan oleh kedua belah pihak secara bersamaan. Tapi sering juga terjadi mismatch: satu pasangan ingin, yang lain tidak. Kalau tidak dibicarakan secara terbuka dan dilakukan dua arah, kondisi ini bisa menimbulkan rasa tersakiti, malu, atau bahkan kebencian. “Nah, Emosi yang biasanya dialami karena mismatch itu rejection dan undesirable,” ujar Nadya.
Lambat laun, topik seks jadi sesuatu yang selalu dihindari dan kamar tidur pun berubah menjadi ‘zona bebas sentuhan’. Hanya sekadar tempat untuk tidur. “Ya malah inisiasi seks bahkan jadi tidak terjadi lagi demi menghindari perasaan ditolak atau tidak diinginkan.”
Pernikahan Tanpa Seks Jadi Sebuah Masalah dan Berujung pada Perceraian?
Jawabannya bisa ya dan tidak.
“Tapi jujur saja, soal pernikahan tanpa seks ini memang menjadi salah satu masalah dalam pernikahan. Khususnya untuk pasangan yang usia produktif, terjadi seksual frustration yang efeknya sebenarnya bisa ke aspek lain dalam hidup. Ibaratnya, sexless marriage itu puncak dari masalah-masalah lainnya,”
Memang, ada pasangan yang bahagia dan sangat dekat meski hubungan seksual mereka minim. Mereka merasa terpenuhi secara emosional, punya kedekatan yang hangat, dan tidak merasa kehilangan apa pun. Namun ditegaskan lagi oleh Nadya Pramesrani kondisi ini memang sangat mungkin terjadi, tetapi biasanya terjadi di pasangan lansia, usia di atas 60 tahun.
Selanjutnya, Nadya juga menuturkan ada penelitian yang bilang rata-rata frekuensi seks sekelompok usia dewasa adalah 54 kali per tahun atau seminggu sekali. Sedangkan untuk usia lansia (usia di atas 60an), angka rata-rata di 20 kali per tahun.
Meski begitu, angka ini hanya rata-rata, bukan standar wajib yang harus diikuti semua orang.
Yang biasanya jadi masalah adalah ketika berhentinya seks terjadi tanpa disengaja, dan salah satu atau kedua pasangan merasa kehilangan. Satu merasa ditolak, yang lain merasa bersalah atau bingung cara memperbaikinya.
Banyak pasangan diam-diam berduka atas hilangnya keintiman, namun tidak tahu harus mulai dari mana. Faktanya, hasrat bukan saklar on/off yang bisa dimatikan dan dinyalakan begitu saja. Ia lebih seperti dimmer, bisa dinaikkan perlahan, kalau tahu caranya.
Nadya menjelaskan bahwa sebenarnya bukan pernikahan tanpa seks atau sexless marriage yang membuat pasangan suami istri jadi bercerai. Tapi dengan adanya sexless marriage seringkali pasangan juga semakin jauh dari satu sama lain, emotionally distant, penumpukan masalah yang tidak bisa diselesaikan karena sudah kebanyakan dan overlapping. ketidakpuasan dan perasan kecewa yang besar.
Sexless Marriage, Pentingnya ‘Menyalakan’ Kembali Gairah Seksual
Sexless marriage tentu saja bisa ‘diperbaiki’, “Kuncinya asalkan jika kedua belah pihak mau sama-sama berusaha dan memperbaiki masing-masing, ya,” kata Nadya lagi.
Berikut beberapa hal yang didukung penelitian dan pengalaman para terapis atau pun psikolog pernikahan.
1.Pastikan nyaman untuk membicarakan topik seks/ hubungan intim
Dikatakan Nadya, langkah ini menjadi landasan untuk memperbaiki hubungan pernikahan tanpa seks. “Sebelum mulai bicara, mulai dari bikin diri sendiri nyaman dengan seks dan topik seks itu sendiri. Seringkali yang menghambat untuk bisa ngomong itu perasaan tidak nyaman dengan diri sendiri karena harus bicara tentang seks”.
Untuk membuat nyaman, Nadya memberikan tips. Bisa dimulai dengan mencoba baca-baca dulu mungkin, atau mendengarkan podcast yang membahas tentang hubungan seksual yang sehat, misalnya. “Because knowledge is power kan, dengan tahu sebenarnya diri sendiri butuhnya apa dan bagaimana, akan memudahkan juga untuk bisa bicara hati ke hati.
2. Mulailah bicara dari hati ke hati
Topik seks memang cukup sensitif, sehingga memerlukan pendekatan yang tepat. Jangan sampai membuat pasangan defensif.
Kalimat seperti:
“Aku kangen dekat sama kamu, udah lama ya kita nggak pergi berdua untuk liburan” akan jauh lebih membuka pintu dibanding, “Kok kita nggak pernah berhubungan intim lagi sih?”
3. Normalisasi naik-turunnya kehidupan seks.
Frekuensi seks berubah sepanjang hidup, Dan itu normal. Ada fase menurun, dan ini tidak berarti hubungan pernikahan ‘rusak’. Jika terjadi, cobalah untuk bisa fokus agar memiliki keterhubungan emosional kembali.
4. Luaskan definisi keintiman.
Keintiman tidak selalu berarti seks. Coba mulai dari hal-hal kecil, misalnya berpelukan lebih lama, atau sekadar tidak lupa untuk berpelukan mencium kening pasangan sebelum keluar rumah untuk melakukan aktivitas. Bisa juga dengan saling pijat ringan, melakukan aktivitas sederhana di rumah bersama. Kedekatan fisik dan emosional inilah yang menjadi tanah subur bagi kembalinya hasrat.
“Keintiman ada macam-macam, kok. Ada physical intimacy atau keintiman fisik, yang salah satu bentuknya adalah hubungan seks. Ada emotional intimacy atau keintiman emosional, di mana kamu ngerasa aman dan nyaman untuk mengekspresikan diri. Ada intellectual intimacy atau keintiman intelektual, nah kalau ini pasangan bisa sharing pengetahun, pemikiran, serta experiential intimacy yang bisa didapatkan pasangan ketika melakukan aktivitas menyenangkan bersama dan menikmati kebersamaan tersebut.”
Penelitian menunjukkan bahwa sentuhan non-seksual meningkatkan oksitosin yang mempererat hubungan dan membuka jalan untuk keintiman seksual.
5. Cari bantuan profesional bila diperlukan
Terapi seks bukan tanda “gawat darurat”. Banyak pasangan menemukan bahwa sesi konseling justru membantu mereka memahami akar masalah dan membangun ulang kedekatan. Bahkan satu atau dua sesi bisa membawa perubahan besar.
Pernikahan tanpa seks bukanlah kegagalan, namun ini bisa menjadi sinyal bahwa hubungan membutuhkan perhatian berbeda. Butuh sedikit waktu, sedikit niat baik, dan lebih banyak kejujuran serta membangun kembali kedekatan.
Setiap pasangan punya ritmenya sendiri. Memang hal terpenting dalam pernikahan bukan hanya frekuensi seks, tapi bagaimana pasangan suami istri bisa merasa terhubung, dicintai, dan dihargai, karena ini salah satu fondasi yang sangat kuat.
Pertanyaanya apakah koneksi dan kebutuhan tersebut bisa dirasakan dalam pernikahan tanpa seks?
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads










and then