Saat Anak Pra-Remaja & Remaja Terjebak Badai FOMO, Bagaimana Orang Tua Harus Bersikap?

Anak Remaja FOMO

Pernahkah nggak, sih, MamPap mendapati anak remaja FOMO? Ia mendadak uring-uringan hanya karena tidak dibelikan parfum yang sedang viral? Atau mungkin mereka langsung cemas luar biasa begitu baterai ponselnya habis, seolah-olah dunia akan kiamat jika mereka tertinggal obrolan di grup WhatsApp selama satu jam saja?

Jika iya, MamPap mungkin tidak sendirian. Orang tua yang memiliki anak yang memasuki usia remaja memang sedang bertarung dengan sebuah fenomena psikologis yang sangat nyata di era digital ini, apalagi kalau bukan FOMO.

Sebagai orang tua, kita sering kali gemas dan menganggap mereka berlebihan atau sekadar “ikut-ikutan”. Namun, jika kita mau menyelami dunia mereka lebih dalam, FOMO bukan sekadar perkara anak yang nggak mau ketinggalan tren. 

Apa Sebenarnya yang Dimaksud dengan FOMO?

Istilah Fear of Missing Out (FOMO) umumnya digambarkan sebagai kecemasan atau ketakutan yang dialami orang ketika mereka merasa kehilangan atau melewatkan sesuatu yang berharga, seru, atau tren yang sedang terjadi (Rifkin, Chan & Kahn, 2025).

Dalam dunia remaja, FOMO menjelma menjadi rasa khawatir jika mereka tidak up-to-date. Ada dorongan kuat untuk selalu tahu, selalu ikut, dan selalu memiliki apa yang sedang ramai dibicarakan. Jika mereka tidak mengikuti aktivitas atau tren tertentu, muncul perasaan mengganjal bahwa mereka “kurang gaul”, tertinggal, dan terasingkan.

Dampak buruk anak remaja FOMO pun sangat nyata. Demi memuaskan rasa haus akan pengakuan ini, anak-anak bisa berubah menjadi sangat konsumtif. Mereka bisa menuntut ini-itu demi bisa menyamai apa yang sedang hits di anatara pertemanan atau sedang dipajang di layar gawai mereka.

Mengapa Anak Pra-Remaja dan Anak Remaja FOMO?

anak remaja FOMO

Dalam hal ini,  Agstried Elisabeth Piether, Psikolog Pendidikan dari Rumah Dandelion menerangkan, ada beberapa alasan mengapa anak yang memasuki usia ini begitu rapuh terhadap FOMO. Jawabannya ada pada kombinasi antara perkembangan emosional mereka dan tekanan lingkungan.

  1. Anak Remaja Fomo Terkait dengan Kebutuhan untuk Diterima 

Secara psikologis, fase pra-remaja dan remaja adalah masa transisi di mana fokus kedekatan mereka bergeser dari orang tua ke teman sebaya. Mereka memiliki kebutuhan yang sangat besar untuk diterima dan diakui oleh kelompoknya.

  1. Otak Remaja dan Dinamika Sosial

Faktanya, bagian otak remaja yang mengatur emosi dan interaksi sosial berkembang lebih cepat daripada bagian otak yang mengatur logika dan kontrol diri (korteks prefrontal). Otak mereka belum sepenuhnya matang untuk menyaring dinamika sosial yang begitu luas dan cepat. Ketika ada peer pressure (tekanan teman sebaya), mereka cenderung meresponnya secara emosional, bukan rasional.

  1. Adanya “Standar” Tidak Tertulis dalam Pertemanan

Lingkungan pertemanan remaja sering kali memiliki aturan atau standar tidak tertulis. Terkadang, untuk bisa diterima di lingkungan pertemanan, anak harus mengikuti apa yang dianggap sedang tren di antara teman-temannya. Jika dirasa tidak bisa mengikuti standar tersebut, anak akan didera ketakutan luar biasa bahwa mereka akan tersisih dari tongkrongan.

Lingkungan Punya Pengaruh Besar Anak Menjadi FOMO 

FOMO memang tidak datang begitu saja. Ada lingkungan yang ikut andil membentuk karakter atau memicu anak remaja FOMO. 

anak remaja FOMO

Lingkungan Digital

Di era digital, arus informasi mengalir secepat kilat dan hampir mustahil dibendung. Media sosial menyajikan panggung pamer 24/7. Ada beragam informasi yang diterima anak setiap harinya. Sayangnya, mereka juga belum mampu memilah dan memilih. 

Lingkungan Sekolah

Sekolah menjadi medan perang sosial yang nyata bagi anak. Area sekolah bisa berisiki menjadi tempat di mana status gaul dan tidak gaul dipertaruhkan lewat barang bawaan atau obrolan.

Lingkungan Rumah (Pola Asuh)

Ini yang sering kali luput dari perhatian kita. Percaya atau tidak, anak yang kurang mendapatkan apresiasi di rumah akan cenderung mencari validasi itu di luar? Ketika pelukan, pujian, dan ruang aman di rumah terasa minim, mereka akan beralih ke media sosial atau pengakuan teman. Akhirnya, mereka makin ketergantungan pada tren demi bisa dipuji oleh orang lain.

Apa yang Perlu Dilakukan Orang Tua?

Anak remaja FOMO memang bisa dianggap wajar. Namun, jika rasa FOMO tidak bisa dikendalikan tentu saja menimbulkan danpak buruk dikemdian hari. Menurut Agstried,  menghadapi anak remaja FOMO tidak bisa dengan cara memarahi atau langsung menyita gawainya.

“Anak perlu dilatih secara perlahan agar bisa lebih mindful (sadar penuh) dalam mengambil keputusan, serta bertanggung jawab untuk memilah mana tren yang layak diikuti dan mana yang tidak perlu,” tegasnya. 

Selain itu, ada beberapa tips yang berharga yang bisa langsung dipraktikan saat menghadapi anak remajaFOMO.

  1. Ajak Anak Berefleksi Sebelum Mengikuti Tren

Setiap kali anak merengek ingin mengikuti sebuah tren (baik itu membeli barang, mendatangi tempat tertentu, atau melakukan tantangan di medsos), jangan langsung menolak atau mengiyakan. Ajak mereka berdiskusi dan berefleksi:

“Apa pentingnya kita ikutan tren ini?”

“Benarkah hal ini membawa manfaat buat kamu?”

Proses ini akan melatih logika anak agar tidak tumbuh menjadi konsumen yang impulsif.

  1. Diskusikan Makna “Pertemanan yang Sehat”

Jika alasan anak bersikeras mengikuti tren adalah karena takut tidak diterima oleh teman-temannya, inilah saat yang tepat bagi Parents untuk masuk ke dunianya. Duduklah bersama mereka dan bedah makna pertemanan:

“Apakah teman yang baik hanya mau berteman kalau kamu punya barang yang sama?”

“Seperti apa sih konsep berteman yang sehat itu?”

Bantu mereka menyadari bahwa teman yang tulus akan menghargai keunikan diri mereka, bukan karena mereka memakai topeng tren yang sama.

  1. Bangun Hubungan Sehat dan Komunikasi 2 Arah

Inti dari semua benteng pertahanan anak adalah hubungan yang sehat di dalam rumah. Perbanyak komunikasi dua arah di mana MamPap lebih banyak mendengar daripada menceramahi. Jadikan rumah sebagai tempat pertama mereka mendapatkan pujian dan validasi, sehingga mereka tidak perlu mengemis pujian di dunia maya.

Mungkin terdengar klise, membangun hubungan yang sehat dan dimulai dari komunikasi dua arah nyatanya memang membantu mencegah anak remaja FOMO. “Membangun kedekatan emosional dan melatih anak remaja untuk tangguh menghadapi tekanan sosial tentu tidak bisa dilakukan secara instan. Ini adalah investasi waktu, kesabaran, dan pelukan yang konsisten setiap hari,” papar Agstried lagi. 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixty six ÷ = 11