Momen Memeluk Diri dan Belajar Melepaskan di “The Art of Letting Go”

the art of letting go

Setiap orang membawa rekam jejak masalahnya masing-masing. Ada trauma yang mengendap, kelelahan emosional yang menumpuk, hingga rasa cemas yang tak kunjung surut.

Sadar bahwa tubuh dan pikiran manusia sering kali memikul beban tanpa suara, acara bertajuk “The Art of Letting Go: Releasing the Weight of the Past” hadir menjadi ruang aman untuk jeda dan menyembuhkan diri.

Dipandu oleh Ayank Irma, Psikolog & Pendiri Klinik Ruang Tumbuh bersama Anggia Hapsari, Fasilitator Sound Healing, sesi kolaborasi ini menggabungkan pendekatan psikologi klinis dan resonansi gelombang suara (sound healing) untuk membantu peserta memproses emosi yang tersimpan di dalam tubuh.

the art of letting go, ayank irma

Read More

Dalam paparan materinya, Ayank menekankan bahwa tidak semua luka terlihat oleh mata. Banyak orang mencoba mengabaikan atau memaksa diri melupakan pengalaman pahit, padahal tubuh secara tidak sadar tetap menyimpan ketegangan tersebut.

“Semakin kita berusaha melupakan sesuatu tanpa penyelesaian, semakin kuat memori itu melekat. Tubuh kita dari ujung rambut hingga ujung kaki adalah arsip emosi. Ketika stres berlangsung lama tanpa ada jeda, tubuh akan mengalami ketegangan kronis yang memicu burnout hingga gangguan tidur,” jelas Ayank, di ajang Ideafest 2026 JICC, Jakarta, Sabtu 5 September 2026.

Ayank  menambahkan bahwa respons fisik seperti bahu tegang, dada sesak, atau rasa cemas berlebih merupakan sinyal bahwa tubuh sedang membutuhkan bantuan. Oleh karena itu, langkah awal dari penyembuhan bukanlah menghapus masa lalu, melainkan menerima (accept) bahwa peristiwa tersebut adalah bagian dari perjalanan hidup, lalu memberikan ruang bagi tubuh untuk rileks.

Merawat Jiwa Lewat Resonansi Gelombang Suara

the art of letting go, sound healing

Setelah pemahaman secara psikologis, peserta diajak memasuki sesi relaksasi mendalam (pausing) bersama Anggia. Menggunakan instrumen singing bowls dan teknik stimulasi sensor-motorik, sesi sound healing ini dirancang untuk membawa gelombang otak peserta masuk ke fase Theta (kondisi meditatif) hingga Delta (relaksasi total).

Melalui getaran dan frekuensi suara yang harmonis, peserta diajak untuk menyadari sensasi dalam tubuh, melepaskan ketegangan otot, dan memberikan rasa hangat pada batin. “Ketika tubuh rileks, otak akan jauh lebih jernih dalam mengambil keputusan hidup dan melangkah ke depan,” ungkap Ayank Irma.

the art of letting go, sound healing. ideafest

Sepanjang acara, para peserta yang duduk di atas matras tampak khusyuk meresapi setiap prosesi. Sesi tanya jawab dan refleksi interaktif pun dipenuhi suasana hangat.

Banyak peserta membagikan harapannya usai mengikuti sesi ini mulai dari ingin merasa lebih lega, bisa tidur lebih nyenyak, hingga keberanian untuk melepaskan beban masa lalu.

The Art of Letting Go” menjadi pengingat berharga bahwa melepaskan bukanlah tanda menyerah, melainkan bentuk kasih sayang tertinggi untuk diri sendiri.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× six = 48