Anak terlihat lemas, mengeluh sakit kepala dan sering batuk kering? Coba dicek, Ma, jangan-jangan si kecil terkena influenza A. Untuk memastikan kondisi ini, kenali dulu sejumlah gejala influenza A pada anak. Dan, benarkah anak lebih rentan tertular influenza A?
Kasus influenza kembali menjadi perhatian setelah aktivitas influenza menunjukkan peningkatan di sejumlah wilayah Indonesia. Data pemantauan hingga minggu epidemiologi ke-36 tahun 2026 menunjukkan positivity rate influenza meningkat menjadi 46 persen, dari 35 persen pada minggu sebelumnya. Dari 185 spesimen yang diperiksa pada 13–19 September 2026, sebanyak 86 spesimen terdeteksi positif influenza.
Kondisi ini tentu membuat orang tua perlu lebih waspada, terutama ketika anak mulai menunjukkan gejala seperti demam, batuk, pilek, atau tubuh yang tiba-tiba lemas. Pasalnya, anak termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami infeksi influenza dibandingkan orang dewasa.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak usia 0–17 tahun memiliki risiko sekitar dua kali lebih tinggi mengalami influenza bergejala dibandingkan orang dewasa. Lantas, kenapa anak lebih mudah tertular flu?
Alasan Anak Lebih Rentan Tertular Influenza A
Salah satu alasan utamanya berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh. Pada anak, sistem imun masih berkembang dan terus belajar mengenali berbagai jenis virus yang masuk ke tubuh. “Anak usia 0–17 tahun dua kali lebih rentan kena flu bergejala dibanding orang dewasa pada umumnya,” ujar DR Dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Menurutnya, salah satu faktor yang berperan adalah sistem kekebalan tubuh anak yang masih belajar mengenali virus. Karena itu, ketika terpapar virus influenza, anak dapat lebih mudah mengalami infeksi dengan gejala yang cukup jelas.
Selain sistem imun, pertahanan saluran napas anak juga belum sesempurna orang dewasa. Kondisi ini membuat anak perlu mendapat perlindungan ekstra, terutama ketika berada di lingkungan dengan banyak orang seperti sekolah atau daycare.
Hal lain yang mungkin tidak terpikirkan orang tua adalah faktor tinggi badan. Anak memiliki tinggi badan yang relatif lebih rendah dibandingkan orang dewasa. Dalam kondisi ketika orang dewasa yang sedang sakit berada dekat dengan anak, posisi saluran pernapasan anak lebih dekat dengan area keluarnya percikan dari batuk atau bersin. Karena itu, kontak dekat dengan orang yang sedang mengalami influenza dapat meningkatkan risiko penularan.
“Selain sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang, fisiologi pertahanan saluran napas anak juga belum sesempurna orang dewasa,” jelas Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI.
Influenza sendiri dapat menular secara langsung maupun tidak langsung. Penularan langsung dapat terjadi ketika anak menghirup percikan dari orang yang terinfeksi saat batuk atau bersin. Sementara itu, penularan tidak langsung dapat terjadi ketika virus berpindah melalui tangan atau permukaan benda yang terkontaminasi, kemudian disentuh anak.
Karena anak biasanya aktif menyentuh berbagai benda dan kemudian menyentuh wajah, mata, hidung, atau mulut, kebiasaan mencuci tangan menjadi salah satu langkah sederhana yang penting dilakukan.
Aktivitas sehari-hari juga dapat memengaruhi kemungkinan anak terpapar influenza. Anak yang rutin berada di daycare atau sekolah memiliki lebih banyak kesempatan untuk melakukan kontak dekat dengan anak lain.
Risiko juga perlu lebih diperhatikan pada anak di bawah usia 5 tahun, anak dengan gangguan tumbuh kembang atau kondisi neurologis tertentu, serta anak yang tinggal di lingkungan padat. “Anak di bawah 5 tahun memiliki morbiditas yang tinggi, terutama mereka yang menghadiri tempat penitipan anak, memiliki kelainan neurologi dan tumbuh kembang, tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang, atau berada di area padat penduduk,” ujar Prof. Anggraini.
Bukan berarti setiap anak yang terkena influenza akan mengalami kondisi berat. Namun, kelompok dengan faktor risiko tersebut perlu dipantau lebih cermat sejak gejala pertama muncul.
Bedakan Flu dengan Pilek Biasa
Mama dan Papa juga perlu mengenali bahwa influenza tidak selalu sama dengan pilek ringan. Pilek biasa umumnya muncul secara perlahan dengan gejala yang lebih dominan di area hidung. Sementara influenza dapat muncul lebih mendadak dengan gejala yang lebih berat, seperti demam tinggi, batuk, tubuh lemas, dan nyeri badan.
Batuk akibat influenza juga dapat bertahan cukup lama. Pada sebagian anak, batuk dapat berlangsung hingga sekitar dua minggu. Jadi, ketika anak yang sebelumnya aktif tiba-tiba mengalami demam tinggi disertai badan lemas dan batuk, jangan buru-buru menganggapnya sebagai pilek biasa.
Kapan anak perlu dibawa ke dokter? Sebagian besar anak dapat mengalami influenza dengan gejala yang dapat ditangani dengan perawatan suportif. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan perubahan kondisi anak.
Menurut Prof. Anggraini, anak sebaiknya diperiksakan ke dokter ketika aktivitasnya tetap menurun meskipun demam sudah turun, mulai kurang minum, atau tidak berkemih lebih dari empat jam meskipun sudah banyak minum.
Orang tua juga perlu mengenali tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis segera. Misalnya, anak bernapas cepat disertai tarikan dinding dada atau leher, napas cuping hidung, tampak kebiruan atau sangat pucat, mengalami kejang, tidak mau minum, atau tampak sangat mengantuk dan sulit dibangunkan.
“Jangan memberikan obat tanpa resep, dan waspadai tanda bahaya seperti sesak napas, demam tinggi yang tidak turun, penurunan kesadaran, atau dehidrasi. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat,” pesan dr. Hikari.
Jangan Memaksa Anak Sekolah Saat Sedang Sakit
Satu hal penting lainnya adalah membatasi aktivitas anak ketika sedang mengalami influenza. Anak dapat menularkan virus bahkan sebelum gejala muncul dan masih dapat menularkannya selama beberapa hari setelahnya. Pada balita, masa penularan dapat berlangsung lebih lama.
Karena itu, ketika anak sedang sakit, sebaiknya tetap beristirahat di rumah dan tidak dipaksakan pergi ke sekolah atau tempat bermain.
Anak dapat kembali beraktivitas ketika sudah bebas demam setidaknya selama 24 jam tanpa menggunakan obat penurun panas dan kondisi gejala penyertanya sudah membaik.
Untuk membantu mengurangi risiko penularan, MamPap bisa membiasakan anak mencuci tangan menggunakan sabun, menerapkan etika batuk dengan menutup mulut menggunakan siku bagian dalam, menghindari kerumunan ketika sedang bergejala, cukup minum untuk mencegah dehidrasi, serta mempertimbangkan vaksinasi influenza tahunan mulai usia 6 bulan.
Dengan memahami kenapa anak lebih rentan tertular influenza A dan mengenali tanda bahayanya sejak awal, MamPap bisa lebih siap memberikan perlindungan tanpa perlu panik.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then