Memilih susu pertumbuhan untuk si kecil bukan sekadar mencari merek yang populer atau produk dengan harga paling terjangkau. Orang tua juga perlu memahami kandungan nutrisi di dalamnya agar susu yang diberikan sesuai dengan kebutuhan anak. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah membiasakan diri membaca label Informasi nilai gizi sebelum membeli.
Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Permata Depok, dr. Felianty Badralany, Sp.G.K., mengingatkan orang tua agar tidak mudah terpengaruh oleh klaim promosi produk. Menurutnya, informasi pada kemasan perlu menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihan.
“Jangan terpaku pada merek susu tersebut dan klaim yang diberikan. Langsung lihat label gizi yang tertera di box atau kaleng susu,” tegas dr. Felianty.
Perhatikan Kandungan Gula saat Memilih Susu Pertumbuhan

Salah satu komponen yang perlu dicermati saat membaca label gizi adalah kandungan gula. Orang tua perlu memahami bahwa tidak semua jenis gula memiliki sumber yang sama.
Laktosa merupakan gula alami yang terdapat dalam susu. Sementara itu, sukrosa dan maltodekstrin perlu diperhatikan apabila digunakan sebagai bahan tambahan dalam produk. Jumlahnya perlu diperhitungkan karena dapat berkontribusi terhadap total asupan gula harian anak.
WHO dan American Heart Association (AHA) merekomendasikan agar asupan gula tambahan dibatasi kurang dari 10% dari total energi harian. AHA juga merekomendasikan batas maksimal 25 gram gula tambahan per hari untuk anak usia 2–18 tahun.
dr. Felianty menyarankan orang tua untuk memperhatikan jumlah gula tambahan dalam setiap takaran saji, kemudian menyesuaikannya dengan frekuensi konsumsi susu anak. “Efek konsumsi gula berlebihan mungkin tidak terlihat jangka pendek, namun dalam jangka panjang bisa memicu risiko obesitas hingga penyakit metabolik seperti diabetes melitus,” jelasnya.
Selain gula, ada sejumlah zat gizi yang perlu masuk dalam pertimbangan orang tua. Mulailah dengan melihat takaran saji dan energi total pada label kemasan. Informasi ini membantu orang tua memahami jumlah nutrisi yang diperoleh anak dari setiap sajian.
Selanjutnya, perhatikan kandungan protein yang berperan dalam pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh. Zat besi juga penting untuk pembentukan sel darah merah, sedangkan zinc mendukung pertumbuhan dan fungsi kekebalan tubuh.
Kandungan DHA, Omega 3, dan Omega 6 juga dapat menjadi pertimbangan karena berperan dalam mendukung perkembangan otak anak.
Namun, membandingkan produk tidak cukup hanya dengan melihat nama atau jenis bahan yang dicantumkan. Pastikan jumlah zat gizi yang dibandingkan setara. Misalnya, kandungan DHA perlu dilihat secara spesifik dan tidak langsung disamakan dengan jumlah cod liver oil.
Susu Tetap Pelengkap, Bukan Pengganti Makanan
Hal lain yang tak kalah penting adalah memahami peran susu dalam pola makan anak. Susu pertumbuhan bukan satu-satunya penentu terpenuhinya kebutuhan gizi si kecil. Makanan utama dengan variasi bahan pangan tetap perlu menjadi prioritas. “Susu itu bukan penentu keberhasilan pencapaian nutrisi pada anak, susu hanya pelengkap. Tetap orang tua harus mengutamakan pola makan sehat dari real food atau makanan utama,” tutur dr. Felianty.
Jika anak lebih memilih minum susu daripada makan, orang tua perlu menerapkan rutinitas makan yang konsisten. Biasakan jadwal makan utama tiga kali sehari dengan porsi sesuai usia dan kebutuhan anak. Susu sebaiknya tidak otomatis diberikan sebagai pengganti makanan setiap kali anak menolak makan.
Pada akhirnya, memilih susu pertumbuhan membutuhkan ketelitian, bukan sekadar mengikuti tren. Dengan memahami label gizi, memperhatikan kandungan gula, serta mengutamakan makanan utama yang beragam, orang tua dapat mengambil keputusan yang lebih tepat untuk mendukung tumbuh kembang si kecil.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then