Kenali Anafilaksis, Reaksi Alergi Makanan pada Anak yang Bisa Berujung Fatal

alergi makanan pada anak, anak alergi
Foto: Pixelshot

Pemenuhan gizi seimbang sangat dibutuhkan pada masa kanak-kanak. Namun dalam praktiknya, orang tua sering menghadapi tantangan yang tak terhindarkan, salah satunya seperti alergi makanan pada anak yang bahkan bisa mengancam jiwa. 

Bagaimana cara mengenali alergi makanan pada si kecil dan apa yang harus dilakukan untuk tetap memenuhi nutrisi pada anak yang alergi makanan secara optimal? Simak penjelasan Dr. Endah Citraresmi, Sp.A, Subsp.A.Im(K), dari Bidang Ilmiah Unit Kerja Koordinasi (UKK) Alergi Imunologi  Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI dalam artikel berikut ya, MamPap. 

Alergi Makanan Berbeda dengan Intoleransi Makanan

Alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap protein dalam makanan tertentu. Meskipun gejalanya mungkin sama, alergi makanan berbeda dengan intoleransi makanan. Intoleransi makanan tidak memengaruhi sistem kekebalan tubuh. 

Dr. Endah menjelaskan, intoleransi makanan yang paling banyak adalah intoleransi terhadap bahan aktif dari makanan tersebut. Jadi, saluran pencernaan penderita intoleransi makanan tidak bisa mencerna makanan tersebut. 

Read More

“Yang paling terkenal adalah intoleransi laktosa, di mana anak yang kekurangan enzim laktase ini tidak bisa memetabolisme si laktosa pada susu sehingga terjadilah gejala pencernaan. Dan itu bukan alergi,” jelas Dr. Endah dalam seminar media IDAI. 

Lebih jelasnya, ia memberikan contoh perbedaan antara intoleransi makanan dan alergi makanan. Menurutnya pada anak yang intoleransi laktosa, biasanya masih bisa mengonsumsi susu sapi, tetapi yang bentuknya bebas laktosa atau mengonsumsi susunya dalam jumlah yang lebih kecil. 

“Kemudian ada juga intoleransi makanan akibat keracunan dari zat yang ada di dalam ikan atau seafood yang sudah tidak segar. Ini gejalanya bisa mirip seperti alergi. Tetapi bedanya, orang tersebut akan mengalami gejala hanya jika ikannya tidak segar. Namun jika ikannya segar, dia tidak dapat masalah apa-apa. 

Jadi, kata kunci dari alergi makanan adalah reaksi alergi setelah makan yang disebabkan dengan respon imun yang spesifik dari makanan tersebut, lalu dia harus berulang. Jadi, ketika kita paparkan pada makanan tersebut kembali gejalanya akan muncul,” papar Dr. Endah. 

Apa Saja Alergi Makanan yang Umum Dialami Anak?

Dr. Endah menjelaskan, ada beberapa alergen atau jenis makanan yang memicu keluhan alergi pada anak di Indonesia, seperti berikut: 

  • Usia Bayi: Susu sapi, telur, kacang kedelai, dan gandum. 
  • Usia anak yang  lebih besar: Kacang tanah, kacang polong, kedelai, almond, mede, seafood, dan ikan. 

Dampak Alergi Makanan pada Anak Bisa Sebabkan Kematian

Seperti yang kita tahu, alergi dapat menimbulkan reaksi ringan sampai berat, hingga kematian. Berikut penjelasannya. 

1. Reaksi Berat dan Mengancam Jiwa

Anafilaksis adalah reaksi syok mendadak yang mengancam jiwa pada seluruh tubuh, merupakan reaksi yang parah dan mengancam jiwa. Risiko anafilaksis tergantung dari alergen makanan tertentu. Dr. Endah menyebutkan, penyebab tersering dari anafilaksis adalah kacang tanah, tree nuts, dan ikan shellfish menyebabkan risiko anafilaksis lebih tinggi. 

2. Stres & Kecemasan

Alergi makanan juga bisa menimbulkan stres dan kecemasan. Karena, orang tua harus selalu memeriksa kandungan makanan, dan risiko pajanan tidak sengaja. Orang tua maupun anak mungkin khawatir adanya kemungkinan reaksi berat. 

3. Kualitas Hidup Buruk

Karena alergi, biasanya akan melakukan kesulitan dalam menentukan makanan, stres, dan memakan waktu dalam menyajikan makanan. Selain itu, bisa berdampak pada interaksi sosial seperti dikucilkan, tekanan, stigma, dan rasa malu  tentang alergi makanan. 

4. Pembatasan Diet & Malnutrisi

Karena pola pembatasan diet akibat alergi makanan tertentu, risiko asupan nutrisi si kecil bisa saja tidak memadai. Maka, bisa terjadi perlambatan tumbuh atau gangguan pertumbuhan pada anak. Apalagi, jika alergen makanan yang dipantang merupakan nutrisi penting, seperti telur dan susu.

Gejala Alergi pada Anak 

Secara garis besar, gejala alergi makanan pada anak dibagi menjadi dua tipe, yaitu tipe cepat dan tipe lambat. 

  • Tipe Cepat: Gejala alergi makanan tipe cepat biasanya muncul dalam beberapa menit setelah terpapar makanan. Namun, terkadang gejala dapat muncul 1-2 jam setelah anak mengonsumsi makanan tersebut. Gejala alergi makanan tipe cepat yang ringan hingga sedang meliputi gatal-gatal di bibir, wajah, atau mata bengkak; perubahan warna kulit – merah pada kulit yang lebih terang, dan cokelat, ungu, atau abu-abu pada kulit yang lebih gelap; bersin atau hidung tersumbat; mulut kesemutan atau gatal; sakit perut, muntah, atau diare.

Pada tipe cepat juga bisa muncul reaksi alergi yang parah, yaitu anafilaksis yang dapat mengancam jiwa dan dapat terjadi seketika. Tanda dan gejala anafilaksis meliputi sesak napas, lidah bengkak, tenggorokan bengkak atau sesak, kesulitan berbicara atau suara serak, mengi atau batuk terus-menerus, pusing atau pingsan, pucat dan lemas (pada anak kecil).

  • Tipe Lambat: Terjadi lebih dari 2 jam atau 4-8 jam setelah paparan makanan. Gejala yang dirasakan di kulit, di antaranya dermatitis atopik dan dermatitis kontak. Sedangkan gejala pada saluran cerna, yaitu muntah, nyeri perut, diare, dan BAB berdarah. Reaksi-reaksi ini lebih lambat, namun dapat berlangsung lama. Alergi yang muncul terlambat ini biasanya tidak mengancam jiwa.

Anafilaksis

Dari sejumlah gejala, Dr. Endah menyoroti tentang anafilaksis. Ini adalah kegawatdaruratan karena alergi makanan yang dapat mengancam jiwa. Kondisi ini biasanya didiagnosis melalui tanda yang meliputi dua gejala. “Misalnya, harus bentol plus sesak di saluran napas. Atau bentol plus muntah atau sakit perut. Atau saat seorang anak terpapar makanan yang diketahui alergennya, dan tekanan darahnya langsung rendah, itu sudah bisa dikatakan anafilaksis,” ungkap Dr. Endah. 

Tes dan Diagnosis Alergi Makanan

Jika si kecil diduga ada alergi makanan, dokter anak akan mencoba mencari tahu makanan mana yang menjadi penyebabnya. Hal ini bisa sulit jika reaksi alergi terjadi setelah makan dengan berbagai makanan. Jika anak Anda memiliki masalah kronis, seperti ruam kulit atau sakit perut, banyak makanan dalam pola makan harus dipertimbangkan sebagai kemungkinan penyebabnya.

Ada juga tes yang mungkin harus diperlukan, termasuk tes tusuk kulit atau tes darah, yang dapat membantu mempersempit kemungkinan penyebabnya. Namun, tes kulit dan tes darah tidak selalu dapat diandalkan. Ada kemungkinan hasil tes positif tetapi tidak ada gejala setelah makan makanan tersebut, dan terkadang hasil tes negatif meskipun memang terdapat alergi.

Dokter anak Anda mungkin akan merujuk ke ahli alergi yang khusus dalam mendiagnosis dan mengobati alergi makanan.

Pengobatan untuk Alergi Makanan pada Anak

Saat ini belum ada obat untuk alergi makanan pada anak-anak. Namun, beberapa obat bisa membantu mengurangi reaksi alergi jika anak Anda secara tidak sengaja terpapar beberapa jenis alergi makanan. 

Tanyakan kepada dokter anak Anda apa yang harus dilakukan jika gejalanya tidak segera membaik setelah mengonsumsi obat.

Tips untuk Orang Tua Mencegah Risiko Anak Alergi

alergi makanan pada anak
Foto: Aflo Images

Berikut ini merupakan beberapa tips untuk mencegah risiko anak alergi, di antaranya: 

1. Hindari Makanan yang Menyebabkan Alergi Makanan

Periksa dan baca label makanan setiap kali Anda membeli produk karena biasanya bahan-bahannya akan tertera dalam kemasan makanan. 

2. Hindari Kontaminasi Silang

Untuk menghindari kontak silang, pastikan Anda menggunakan peralatan makan, piring, wajan, dan nampan saji yang bersih. Jangan juga menyimpan makanan yang tidak aman dengan makanan yang aman. 

3. Berhati-hatilah Saat Makan di Luar

Jika makan di luar, pastikan Anda memberi tahu restoran tentang alergi anak Anda. Tanyakan bahan apa saja yang terkandung dalam setiap hidangan, bagaimana cara penyajiannya, apakah telah bersentuhan dengan makanan lain, dan apakah ada risiko kontaminasi silang.

Beberapa restoran dengan senang hati akan memberi tahu Anda, tetapi mereka mungkin tidak tahu tentang bahan-bahan dalam beberapa makanan seperti saus. 

Sebaiknya hindari prasmanan dan penghangat makanan karena sangat mungkin bahan-bahan telah berpindah dari satu hidangan ke hidangan lainnya.

4. Beri Tahu Anggota Keluarga Terdekat Tentang Penanganan Alergi 

Penting bagi anggota keluarga, pengasuh, dan guru anak Anda untuk mengetahui bahwa anak Anda memiliki alergi parah. Sebaiknya mereka juga mengetahui bagaimana dan kapan menggunakan obat epinefrin pada si kecil. Mereka juga harus mengetahui tindakan pertama jika terjadi anafilaksis pada anak Anda.

Itulah informasi tentang alergi pada anak. Beberapa anak dapat mengalami reaksi alergi makanan yang berpotensi mengancam jiwa, sehingga penting untuk memastikan alergi makanan tersebut didiagnosis oleh dokter dan orang tua perlu mengetahui petunjuk penanganan alergi yang tepat. Semoga informasi ini bermanfaat. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

66 ÷ = eleven