Saat hamil, Mama pastinya perlu ekstra waspada terhadap berbagai risiko kesehatan, termasuk infeksi yang mungkin tampak sepele. Salah satunya adalah varisela kongenital atau cacar air saat hamil.
Banyak yang menganggap cacar air sebagai penyakit anak-anak yang umum dan tidak berbahaya. Padahal bila terjadi saat kehamilan, infeksi ini dapat berdampak serius pada janin dan dikenal sebagai varisela kongenital. Kondisi ini memang jarang, tetapi risikonya nyata dan penting untuk dipahami agar Mama dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat demi melindungi tumbuh kembang buah hati di dalam kandungan.
Apa Itu Varisela Kongenital?
Sindrom varisela kongenital pada ibu hamil disebabkan oleh virus yang sama (varisela) dengan cacar air, penyakit umum yang terjadi pada anak-anak. Namun bagi janin, risikonya bergantung pada kapan infeksi terjadi. Jika cacar air berkembang selama 20 minggu pertama kehamilan, hal itu bisa menimbulkan risiko kecil terhadap cacat lahir serius yang jarang terjadi. Inilah yang disebut sindrom varisela kongenital.
Kondisi ini juga dikenal sebagai sindrom varicella janin. Risiko tertinggi terjadi antara delapan dan 20 minggu kehamilan.
Risiko ibu menularkan virus varisela kepada bayinya sangat rendah. Hanya infeksi varisela primer yang dapat menyebabkan kondisi ini. Menurut Dr. dr. Ratni Indrawanti, Sp.A, Subsp.I.P.T(K), Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI mengatakan, kondisi ini memang jarang terjadi, yaitu sekitar 0,4% pada usia kehamilan kurang dari 13 minggu, dan 2% pada usia kehamilan 13-20 minggu.
Karakteristik Sindrom Varisela Kongenital atau cacar Air Saat Hamil
Seperti cacar air pada umumnya, varisela adalah infeksi virus yang menyebar dengan sangat mudah. Penyakit ini menyebabkan ruam gatal dengan lepuh kecil berisi cairan. Gejala lain seringkali termasuk demam, kurang energi, nyeri otot, dan merasa sangat lelah.
Jika cacar air terjadi selama kehamilan, hal itu dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius pada janin dalam kandungan. “Kondisi ini memiliki karakteristik berupa sindrom yang ditandai oleh kelainan dari berbagai sistem pada kulit, tulang, saraf, mata, dan lainnya,” ungkap dr. Ratni dalam diskusi media bersama IDAI.
Dokter Ratni juga membagikan beberapa karakteristik yang muncul pada bayi dengan sindrom varisela kongenital:
-
- Kulit: Bekas luka parut (sikatrik) seperti zoster.
- Tulang: Hipoplasia atau kekurangan perkembangan anggota gerak.
- Saraf: Mikrosefali, atrofi kortikal, kejang, retardasi mental.
- Mata: Korioretinitis, katarak, miikroftalmia.
- Karakteristik lainnya: Kelainan saluran kemih dan sistem saraf otonom.
Sindrom varicella kongenital dapat menyebabkan jaringan parut pada kulit janin. Hal ini juga dapat menyebabkan masalah kesehatan permanen yang memengaruhi mata, otak, lengan, kaki, dan saluran pencernaan janin. Perubahan ini dapat terlihat pada USG sebelum kelahiran.
“Pada bayi kalau terjadi varisela kongenital, apalagi jika terjadi pada saat trimester pertama pada saat embriologi, manifestasinya berat. Dapat mengalami defisit neurologis yang signifikan. Berat badan lahir rendah umum terjadi,” tambah dr. Ratni.
Jika Ibu Hamil Mengalami Cacar Air di Trimester Ketiga
Jika infeksi cacar air terjadi pada ibu hamil beberapa hari atau minggu sebelum persalinan, bayi mungkin lahir dengan kondisi yang disebut varisela neonatal. Kondisi ini juga dapat terjadi jika bayi terkena cacar air dalam beberapa minggu pertama kehidupannya (setelah lahir). Varisela neonatal juga dapat mengancam jiwa.
Bayi baru lahir yang mengalami varisela neonatal akan mengalami beberapa karakteristik, seperti muncul ruam pada akhir minggu pertama atau awal minggu kedua kehidupan. Infeksi varisela neonatal dapat terjadi berat dan mengancam jiwa.
“Ada peran antibodi ibu. Namun jika ibu sakit lebih dari 5 hari sebelum melahirkan, maka antibodi ibu dapat melindungi bayi, sehingga infeksi bisa lebih ringan,” ungkap dr. Ratni.
Perbedaan Varisela Kongenital dan Neonatal
Berikut beberapa perbedaan varisela kongenital dan neonatal:
| Aspek | Varisela Kongenital | Varisela Neonatal |
| Waktu infeksi ibu | < 20 minggu kehamilan | 5 hari sebelum – 2 hari setelah persalinan |
| Mekanisme | Transplasenta | Peripartum / pascanatal |
| Risiko utama | Kelainan bawaan | Penyakit berat neonatal |
Tatalaksana Varisela Kongenital
Saat hamil, penting untuk mengetahui apakah Anda kebal terhadap cacar air atau sudah mendapatkan vaksin. Untuk memastikannya, Mama bisa memeriksa kekebalan ini selama tes darah rutin di awal kehamilan.
Jika merasa pernah berada di dekat seseorang yang menderita cacar air, segera hubungi tenaga kesehatan atau dokter kandungan. Anda mungkin memerlukan obat yang disebut imunoglobulin yang mengandung antibodi terhadap virus cacar air. Jika diberikan dalam waktu 10 hari setelah terpapar, obat ini dapat menurunkan risiko terkena cacar air. Jika Anda terkena cacar air, keberadaan obat ini dalam tubuh dapat membuat infeksi lebih ringan. Namun, belum jelas apakah obat ini membantu melindungi janin.
Jika terkena cacar air saat hamil, tenaga kesehatan akan memberi obat antivirus untuk mempercepat pemulihan. Obat ini bekerja paling baik jika diminum dalam waktu 24 jam setelah ruam muncul.
Jika terkena cacar air saat melahirkan, bayi Anda mungkin akan diobati dengan obat imunoglobulin segera setelah lahir untuk membantu mencegah varisela neonatal. Jika bayi Anda terkena cacar air dalam beberapa minggu pertama kehidupannya, obat antivirus digunakan untuk mengobatinya.
Lakukan Vaksin Sebelum Program Kehamilan
Anda dapat mengambil langkah untuk melindungi diri dari cacar air sebelum hamil. Jika Anda belum pernah terkena cacar air atau divaksinasi, tanyakan kepada tenaga kesehatan Anda tentang vaksin cacar air sebelum kehamilan. Vaksin ini aman untuk orang dewasa. Namun, tunggu setidaknya satu bulan setelah dosis kedua vaksin Anda sebelum mencoba hamil.
Semooga membantu, MamPap!
Content Writer Parentsquads










and then