Mengapa jarak kehamilan disarankan tidak terlalu dekat atau jauh? Ini tentunya berkaitan dengan masalah kesehatan ibu, bayi, dan perinatal. Jika saat ini MamPap sedang merencanakan kehamilan berikutnya, ada baiknya pahami beberapa hal berikut ini untuk mendapatkan jarak kehamilan ideal, ya.
Mengatur Jarak Kehamilan Ideal itu Penting
MamPap sedang merencanakan untuk punya anak lagi. Memangnya, berapa usia anak (yang terakhir) saat ini?
Tahukah Ma? Menjaga jarak kehamilan merupakan bagian penting dari perencanaan keluarga, loh. Ini berhubungan dengan masalah kesehatan ibu dan bayi, yang kemudian berdampak pada masalah psikologis pasangan suami istri dan anak, ekonomi keluarga dan lain sebagainya.
Berikut ini penjelasan Unicef mengapa menjaga jarak kehamilan itu penting:
- Tubuh ibu membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya setelah kehamilan dan persalinan. Ia perlu memulihkan kesehatan, status gizi, dan energinya sebelum hamil kembali.
- Ibu jadi punya lebih banyak waktu untuk menyusui dan merawat bayinya. Setidaknya bayi mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan.
- Ada lebih banyak sumber daya untuk pengasuhan anak, terutama jika jarak kehamilan tidak terlalu dekat. Seperti, orang tua bisa lebih fokus membiayai sekolah anak, lebih sedikit membeli pakaian anak, menyediakan lebih sedikit makanan dan lainnya.
- Tubuh ibu punya lebih banyak waktu untuk pulih dan mempersiapkan kehamilan berikutnya.
Dampak Jarak Kehamilan yang Terlalu Dekat atau Jauh
Memangnya apa yang akan terjadi jika jarak kehamilan terlalu dekat? Berikut ini penjabaran Mayo Clinic dan sumber lainnya mengenai dampak jarak kehamilan terlalu dekat pada bayi:
- Kelahiran prematur, bayi lahir sebelum minggu ke-37 kehamilan.
- Berat badan lahir rendah (BBLR). Bayi yang lahir dengan BLBR, menurut Unicef, cenderung tidak tumbuh dengan baik, lebih mungkin sakit, dan empat kali lebih mungkin meninggal pada tahun pertama kehidupannya dibandingkan bayi dengan berat badan normal.
- Bayi lahir dengan masalah kesehatan, seperti kelainan bawaan atau cacat lahir.
- Kematian bayi. Unicef menambahkan bahwa jarak kehamilan yang terlalu dekat bisa berisiko kematian pada bayi baru lahir.
- Tidak mendapatkan ASI dan MPASI secara optimal. Dijelaskan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kehamilan berikutnya otomatis menghentikan pemberian ASI untuk anak yang lebih besar sehingga si kakak tidak mendapatkan asupan ASI dan nutrisi melalui MPASI secara optimal.
- Perkembangan psikologis anak terganggu. Ibu cenderung memiliki waktu yang lebih sedikit dalam menyiapkan MPASI, perawatan dan perhatian yang dibutuhkan anak –apalagi jika kurang dukungan dari orang sekitar.
Sementara risikonya pada ibu apa? Dampak yang akan dialami ibu adalah:
- Ibu berisiko anemia, yaitu kondisi di mana pada tubuhnya tidak terdapat cukup sel darah merah (hemoglobin) untuk membawa oksigen ke jaringan tubuh.
- Ibu tidak memiliki waktu yang cukup untuk pulih pasca persalinan. Selama fase kehamilan dan menyusui, simpanan beberapa nutrisi pada tubuh ibu otomatis akan menurun, terutama folat dan zat besi. Nah, jika nutrisi tersebut belum kembali ke tingkat yang sehat atau optimal dan si ibu hamil lagi, kondisi kesehatannya secara keseluruhan bisa menurun. Dan ini tentunya bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin juga.
- Masalah psikologis. Kondisi psikologis ibu secara tidak langsung juga akan terganggu, berisiko kelelahan, stres, postpartum disorder, atau baby blues.
Risiko Jarak Kehamilan Terlalu Jauh
Tidak hanya jarak kehamilan terlalu dekat yang berisiko, jarak kehamilan yang terlalu jauh juga.
Hingga kini memang belum jelas juga mengapa jarak kehamilan terlalu jauh itu menimbulkan risiko kesehatan. Namun berdasarkan beberapa kasus, jarak kehamilan yang terlalu jauh berisiko mengakibatkan preeklamsia dan distosia persalinan yang lebih tinggi.
Preeklamsia, seperti dijelaskan Alodokter, merupakan peningkatan tekanan darah (hipertensi) dan kelebihan protein dalam urin ibu setelah usia kehamilan di atas 20 minggu.
Sementara distosia adalah kondisi di mana proses persalinan terhambat atau lebih sulit yang ditandai dengan perlambatan kemajuan persalinan atau kesulitan bayi keluar dari jalan lahir.
Berapa Jarak Kehamilan Ideal?
Mayo Clinic menyarankan, agar setiap ibu merencanakan kehamilan minimal setelah 18 hingga 24 bulan atau maksimal sebelum 5 tahun setelah persalinan sebelumnya.
Kurang lebih sama dengan rekomendasi WHO, yakni agar pasangan suami-istri setidaknya memberi jarak kehamilan antara 2–3 tahun untuk mengurangi risiko dampak kesehatan ibu dan anak yang merugikan.
Studi dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) juga menyebutkan, interval jarak kehamilan yang sehat adalah antara 3–5 tahun.
Tapi hal ini pun direncanakan dengan melihat beberapa faktor. Di antaranya:
- Usia ibu saat hamil di atas 18 tahun, ditegaskan National Library of Medicine.
- Usia ibu belum di atas 35 tahun.
- Ibu belum pernah menjalani program fertilisasi in vitro (IVF) di kehamilan sebelumnya.
- Ibu tidak pernah mengalami persalinan prematur di kehamilan sebelumnya.
- Ibu tidak pernah mengalami preeklamsia.
- Ibu tidak pernah mengalami keguguran pada/setelah usia kehamilan 20 minggu (lahir mati).
- Ibu belum pernah menjalani operasi caesar.
Jika Mama pernah mengalami salah satu dari yang disebutkan di atas, ada baiknya Mama berkonsultasi dengan dokter kandungan kapan sebaiknya Mama merencanakan kehamilan berikutnya –terutama jika pernah mengalami dua kali atau lebih keguguran berturut-turut.
Dan setelah keguguran atau aborsi yang diinduksi, ibu sebaiknya menunggu setidaknya 6 bulan sebelum merencanakan kehamilan berikutnya guna mengurangi risiko kesehatan bagi ibu, bayi, dan juga masa perinatal.
Tips Mengatur Jarak Kehamilan Ideal
Untuk mengatur jarak kehamilan tidak terlalu dekat atau jauh tidaklah muluk-muluk, MamPap. Anda cukup melakukan hal-hal sederhana seperti berikut ini:
- Perencanaan yang matang disertai komitmen antar suami-istri.
- Menggunakan alat kontrasepsi yang tepat.
- Memberikan ASI eksklusif kepada bayi yang baru dilahirkan –pemberian ASI bisa menunda kehamilan.
Sekarang MamPap sudah lebih paham bukan mengenai pentingnya mengatur jarak kehamilan ideal dengan tepat? Ya, untuk kesehatan ibu dan kelangsungan kehidupan si kecil yang lebih baik, pastikan jarak usianya dengan si kakak/adik tidak terlalu dekat atau jauh, ya.






and then