Setelah ikatan pernikahan berakhir, seringkali yang paling terasa berat bukan soal mengurus dokumen atau membagi harta gono gini. Hal penting yang justru kerap menimbulkan berbagai perasaan justru persoalan bagaimana memastikan rasa sayang dan perhatian untuk buah hati tetap ada. Di sinilah co parenting menjadi kata kunci. Agar anak tetap mendapatkan rasa aman, merasa dicintai orang tuanya.

Belum lama ini warga net dibuat terkejut dengan pemberitaan perceraian Acha Septriasa dengan Vicky Kharisma. Pernikahan pasangan yang memiliki satu orang anak dan memutuskan untuk tinggal di Australia ini sebelumnya memang jauh dari gosip miring. Tak mengherankan ketika keputusan perpisahan ini mencuat, banyak yang terhenyak.
Pascaputusan cerai, rupanya pasangan yang menikah tahun 2016 ini memutuskan untuk menjalani co parenting. Setidaknya hal ini terlihat dari unggahan Acha di media sosialnya. Sebagai orang tua, keduanya memutuskan menjalani peran pengasuhan untuk buah hatinya bersama-sama.
Memahami Co Parenting
Dalam artikel di Psychology Today, secara singkat, co-parenting dapat diartikan sebagai praktik di mana dua orang dewasa yang berbagi tanggung jawab pengasuhan, meskipun hubungan pasangan romantis mereka telah berubah, keduanya tetap berkoordinasi dalam keputusan dan rutinitas anak. Ini berbeda dari sekadar bergantian mengasuh karena akan melibatkan komunikasi, konsistensi, dan dukungan bersama atas peran pengasuhan.
Dengan menjalani co-parenting tentu saja dapat membantu anak tetap tumbuh sehat secara emosional. Walau tidak lagi bersama sebagai pasangan, mereka tetap bisa menjadi satu tim untuk sang buah hati. Sama dengan ibu, agar tumbuh kembang dapat maksimal anak pun membutuhkan figur seorang ayah.
Menjalani co-parenting jalannya tidak selalu mulus. Ada hari di mana emosi masa lalu ikut terbawa atau hal lain perasaan pribadi yang rasanya belum tuntas. Menurut Psychology Today, konsistensi di dua rumah berbeda bisa membantu anak merasa aman.
Penelitian dan tinjauan ahli juga menunjukkan bahwa co-parenting yang positif, yang bisa dijalani dengan kolaborasi yang baik, konsisten, dan saling mendukung, akan memberikan dampak yang positif terkait dengan sisi emosional dan perilaku yang lebih baik pada anak.
Di mana anak tetap merasa aman, regulasi emosi yang lebih baik, dan performa akademik yang lebih stabil. Sebaliknya, jika anak terus melihat konflik yang berulang antar orang tua dapat meningkatkan risiko masalah kecemasan, perilaku, dan penyesuaian perkembangan sosial anak.
Hal ini pun ditegaskan oleh Sarah Siahaan, psikolog klinis dewasa. Di dalam buku Hari Hari Haru Huru-Hara Tapi Hore Ibu Tunggal yang ditulis Lita Iqtianti, Sarah menyebutkan bahwa keputusan co-parenting ini memang sebuah pilihan yang diambil untuk kepentingan anak, bukan orang tua. Katanya, Co-Parenting memiiki tantangan yang unik, yang bisa mimiliki dampak pada kesehatan dan well being secara keseluruan.
Hal yang Perlu Diperhatikan dalan Menjalani Co Parenting

Dalam menjalani co-parenting ada beberapa prinsip dasar yang sering direkomendasikan oleh pakar. Apa saja?
1. Utamakan kebutuhan anak
Apa pun keputusan yang akan dibuat perlu dibuat dari perspektif “apa yang terbaik untuk anak”.
2.Perlunya komunikasi terstruktur
Jika perlu gunakan kalender bersama, buat pesan singkat yang fokus pada kebutuhan anak, dan lakukan pertemuan berkala untuk hal besar.
3. Konsistensi dengan aturan
Meski sudah tidak tinggal bersama, namun tetap usahakan membuat aturan penting dan konsisten untuk anak.
4. Jaga batas emosi
Jangan melibatkan anak dalam konflik orang tua untuk itu orang tua perlu menghindari ‘menggiring’ anak ke pihak tertentu.
5. Fleksibilitas dan kesepakatan tertulis
Jika diperlukan, susun rencana pengasuhan tertulis (co-parenting plan) yang mencakup jadwal, keputusan penting, mekanisme penyelesaian konflik.
Dalam menjalani co-parenting ini, Sarah juga menegaskan setelah proses bercerai, tidak perlu mengubah kondisi yang memburuk menjadi hubungan persahabatan yang mendalam. “Kamu tidak perlu menyukai mantan, kok, tapi tetap perlu menghormatinya. Perlakukan co-parenting ini seperti bisnis, terdengar dingin, sih. Tapi pada kenyataannya seperti itu. Kalian tidak harus menjadi teman baik, tapi harus menjaga komunikasi demi tujuan yang sama, yaitu kebaikan anak.”
Dalam banyak kasus, co-parenting bukan berarti bisa berjalan dengan sempurna dan tanpa hambatan. Biar bagaimana pun Co-parenting bukan sekadar berbagi waktu, namun lebuh kepada komitmen berkelanjutan untuk bekerja sama demi perkembangan dan kesejahteraan anak.
Dengan komunikasi yang jelas, konsistensi, dan mungkin membutuhkan bantuan profesional, orang tua dapat membangun lingkungan yang stabil meskipun keluarga mengalami perubahan besar. Ketimbang mempertahankan pernikahan hanya demi anak, tidak sedikit keluarga khususnya anak yang mengangap bahwa perpisahan justru menjadi jalan terbaik di tengah dinamika perjalanan hidup yang baru.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads









and then