Biasanya, antara ibu dan ayah memiliki pendekatan pengasuhan anak yang berbeda. Mulai dari cara gaya berkomunikasi, kekhawatiran terhadap anak, hingga perannya sebagai orang tua. Tidak bisa dipungkiri, perbedaan gender juga membentuk perbedaan gaya pengasuhan ayah dan ibu.
Penasaran apa saja perbedaannya? Simak penjelasannya dalam artikel berikut ya, MamPap.
Sosok Ibu Sumber Keamanan dan Kelembutan
Dalam banyak keluarga, sosok ibu umumnya memiliki proporsi yang lebih besar dalam kehidupan anak. Sosok ibu lebih dekat secara emosional dengan anak.
Sebuah jurnal tahun 2020 yang dimuat di Springer Nature Link menyebutkan bahwa ibu cenderung memiliki gaya pengasuhan yang lebih responsif, hangat, dan suportif. Ibu juga lebih cepat menangkap sinyal emosi anak, dan biasanya lebih siap hadir untuk menenangkan, memeluk, atau membantu anak dalam mengatasi masalah.
Peran ibu ini sangat penting untuk membentuk rasa aman secara emosional pada anak, yang merupakan pondasi utama dalam tumbuh kembang psikologis seorang anak.

Dikutip dalam laman Pew Research Center, di antara orang tua dengan anak-anak di bawah usia 18 tahun, sekitar setengah dari ibu (51%) mengatakan bahwa mereka adalah tipe orang tua yang cenderung terlalu protektif, dibandingkan dengan ayah.
Selain itu, 48% ibu lebih mungkin membesarkan anak-anak dengan cara yang sangat berbeda dibanding cara mereka dibesarkan. Artinya, ibu sangat adaptif dalam menentukan pola dan tujuan pengasuhan yang ia inginkan.
Gaya Pengasuhan Ayah Latih Keberanian dan Kemandirian

Kalau ibu menjadi “tempat pulang”, maka ayah seringkali menjadi “pintu keluar” bagi anak. Menurut penelitian tahun 2022, ayah berperan penting tumbuh kembang anak khususnya dalam menumbuhkan kemandirian, rasa percaya diri, dan kemampuan sosial anak.
Gaya pengasuhan ayah secara alami cenderung mempersiapkan anak-anak menghadapi dunia. Ayah mendorong anak-anak untuk bereksplorasi, mengambil risiko, dan membangun ketahanan.
Penelitian yang disusun oleh American Institute for Boys and Men (AIBM) menemukan bahwa para ayah cenderung lebih terlibat dalam mempersiapkan anak-anak menghadapi kehidupan, dibandingkan dengan para ibu yang umumnya lebih fokus ke pengasuhan dalam hubungan mereka dengan anak-anak. Meskipun begitu, kedua peran tersebut saling melengkapi, tidak ada yang lebih penting atau kurang penting.
Salah satu cara utama para ayah membentuk anak-anak mereka adalah melalui bermain. Studi tahun 2020 menunjukkan bahwa para ayah menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak mereka untuk bermain. Mereka juga lebih menyukai interaksi yang lebih aktif secara fisik.
Penelitian American Institute for Boys and Men juga menyebutkan, bermain sangat penting untuk regulasi emosi, perkembangan sosial, dan keterampilan motorik anak.
Gaya Pengasuhan Ayah dan Ibu Saling Melengkapi
Meski gaya ibu dan ayah terlihat berbeda, sebenarnya keduanya saling melengkapi. Studi dari Pew Research Center tahun 2023 menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan secara aktif oleh kedua orang tua cenderung memiliki kematangan emosional dan sosial yang lebih baik.
Ibu membantu anak memahami perasaan dan empati, ayah membantu anak menghadapi tantangan dan risiko. Ketika keduanya beriringan, anak akan belajar keseimbangan antara kelembutan dan ketegasan, perasaan dan logika, serta perlindungan dan keberanian.
Perbedaan Gaya Pengasuhan Ayah dan Ibu, Ini Hal yang Perlu Diperhatikan

Walaupun MamPap mungkin sering berbeda pendapat soal cara mendidik si kecil, namun perbedaan itu bukan ajang pembuktian siapa yang lebih baik dari yang lain. Perbedaan ini justru seharusnya bisa saling melengkapi dalam mendidik anak. Ada beberapa tips untuk MamPap dalam menghadapi perbedaan gaya parenting antara Mama dan Papa.
1. Komunikasi dan diskusi.
Kuncinya ada di komunikasi dan saling memahami gaya pengasuhan masing-masing. Jangan lupa diskusikan juga tentang nilai yang ingin ditanamkan pada anak, seperti disiplin, empati, tanggung jawab, dan juga keberanian.
2. Saling memahami.
Tidak masalah jika Mama dan Papa punya cara yang berbeda, selama tujuannya sama-sama menumbuhkan anak yang bahagia. Coba hormati perbedaan pendapat dengan cara saling memahami. Misalnya, saat Mama merasa Papa terlalu tegas, coba pahami niat baik di baliknya untuk menyiapkan anak menjadi pribadi yang tangguh. Sebaliknya, Papa juga bisa mencoba menghadapi anak yang sedang sensitif belajar dari sisi kelembutan Mama.
3. Saling memberi ruang.
Biarkan ayah punya waktu khusus dengan anak tanpa campur tangan ibu, dan sebaliknya. Anak butuh merasakan kedekatan dengan keduanya.
4. Berargumen dengan cara sehat di depan anak.
Jika ada perbedaan cara mendidik, bicarakan dengan cara yang tepat. Para pakar psikologi mengegaskan bahwa anak boleh saja melihat orang tua berkonflik, namun tentunya perlu diseleaikan dan dibicarakan dengan cara yang tepat. MamPap juga bisa memilih waktu yang tenang.
5. Gaya pengasuhan ayah dan ibu, meski beda Tetap satu suara di depan anak.
Adalah wajar jika antara MamPap memiliki cara pandang yang berbeda. Ya, beda pandangan tentu saja boleh, namun ingat meskipun gaya pengasuhan ayah dan ibu berbeda namun di depan anak tentu saja perlu satu suara. Jangan saling menyalahkan dan menjatuhkan di depan anak agar tidak memunculkan kebingungan dengan dua “aturan” yang berbeda.
Perbedaan gaya pengasuhan ayah dan ibu bukan masalah, justru hadiah berharga bagi anak untuk membersamai proses tumbuh kembangnya. Dan dari keduanya, anak akan belajar bahwa cinta bisa hadir dalam berbagai bentuk apa pun, kelembutan atau ketegasan, kehangatan atau tantangan, tetapi selalu dengan tujuan yang sama, yaitu agar anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bahagia dan penuh kasih.
Content Writer Parentsquads









and then