Panik, kecewa, sedih bahkan trauma. Mungkin perasaan ini yang akan muncul pada diri orang tua yang menerima kabar bahwa anaknya mengalami keracunan makanan. Benar bukan?
Sepanjang periode Januari–September 2025, berbagai daerah di Indonesia mencatat kasus keracunan anak yang diduga terkait program MBG (Makan Bergizi Gratis). Laman Tempo memberitakan sampai akhir September 2025 ini Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mencatat telah ada sekitar 6.452 kasus keracunan menu MBG. Sedangkan data versi pemerintah yang dihimpun Badan Gizi Nasional, Kementerian Kesehatan, serta BPOM mencatat jumlah total korban berada di kisaran 5 ribu orang.
Sejak awal, program MBG ini memang sudah menuai pro kontra. Ada yang tidak setuju dan menganggap dana besar untuk MBG bisa dialokasikan untuk program lainnya, namun ada juga yang setuju dan merasa terbantu. Setidaknya, hal ini ini diungkapkan orang tua korban yang mengalami gejala keracunan yang terjadi di Kecamatan Cipongkor.
Diberitakan BBC, tidak sedikit orang tua korban, yang pada awalnya mengaku senang dengan program MBG. Namun, setelah peristiwa banyaknya korban keracunan setelah menyantap MBG, para orang tua minta program ini distop. Sampai Kamis siang (25/09), Otoritas kesehatan setempat melaporkan jumlah korban keracunan terbaru di Cipongkor sudah lebih dari 1.000 orang.
Agus, ayah dari salah satu korban bernama Nesa kepada BBC mengatakan kalau putrinya itu sempat dirawat dua hari. Tidak hanya kejang-kejang, Nesa juga mengalami sesak napas yang membuat tangannya terkunci.
Korban sendiri, Nesa Agustin (18 tahun) mengatakan tidak curiga kalau menu MBG yang dia santap akan membuatnya keracunan. Namun ia mengatakan pada saat menyantap makanan sudah tercium ada sedikit bau dari ayamnya.
Mengapa Keracunan Makanan Bisa Terjadi?
Bagi orang tua, wajar jika muncul pertanyaan, “Kenapa makanan sekolah bisa bikin anak sakit? Apakah memang memang keracunan makanan atau bagaimana?”. Jawabannya tentu saja perlu dikaji ulang yang membutuhkan waktu tidak sebentar.
Dalam hal ini Dr. dr. Meta Herdiana Hanindita, Sp.A (K) menjelaskan bahwa keracunan makanan atau food poisoning ini sering juga disebut sebagai foodborne illness, penyakit yang disebabkan kontaminasi bakteri/virus/parasit dari makanan atau minuman.
Menurut dr. Meta, bayi dan anak sangat rentan terhadap berbagai mikroorganisme yang dapat mengakibatkan foodborne illness, penyakit yang disebabkan bakteri/ virus/ parasir yang didapatkan dari makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Ada beberapa gejala yang muncul, dan dapat bervariasi, seperti nyeri perut, muntah diare, demam, pusing hingga kejang.
Faktor Risiko Terjadinya Keracunan Makanan
Penting untuk digarisbawahi bahwa ada beberapa faktor yang memperbesar risiko keracunan makanan. Apa saja?

1. Tidak menjaga kebersihan tangan dan peralatan dapur
Tangan adalah media paling mudah membawa kuman. Bila orang yang mengolah makanan tidak menjaga kebersihan tangannya sebelum memasak, akan ada risiko bakteri berbahaya seperti E. coli atau Salmonella bisa berpindah ke makanan. Begitu juga dengan peralatan dapur yang jarang dibersihkan—pisau, talenan, atau wadah masak bisa menjadi tempat bakteri berkembang.
2. Menyimpan makanan di suhu ruang terlalu lama
Bakteri penyebab keracunan sangat cepat berkembang biak pada suhu ruang (sekitar 25–30°C). Dalam waktu 2 jam saja, jumlah bakteri bisa meningkat berkali lipat hingga cukup membuat makanan berbahaya dikonsumsi. Itulah kenapa makanan yang sudah matang sebaiknya segera dikonsumsi, atau jika ingin disimpan harus dihangatkan atau masuk kulkas.
3. Makanan tidak dimasak hingga suhu aman
Bakteri pada daging, ayam, atau telur hanya bisa mati jika dimasak sampai suhu tertentu. Jika makanan dimasak setengah matang atau api dimatikan terlalu cepat, bakteri masih hidup dan bisa menyebabkan keracunan.
4. Terjadinya kontaminasi silang
Kontaminasi silang terjadi ketika bakteri dari bahan mentah berpindah ke makanan matang melalui peralatan, tangan, atau permukaan dapur. Bakteri dari daging mentah sangat berbahaya jika “menempel” pada sayuran segar yang dimakan tanpa dimasak.
Mencegah Keracunan Makanan/ Foodborne Illness
Dr. dr. Meta Herdiana Hanindita, Sp.A (K) menegaskan, ada 4 langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah foodborne illness atau keracunan makanan.
1. Kebersihan
Pastikan kebersihan tangan dan peralatan dapur pada saat menyiapkan makanan, cuci tangan ibu dan bayi. anak dengan air mengalir minimal 20 detik sebelum makan. Jangan lupa untuk selalu cuci tangan ibu dengan sabun sebelum memasak atau menyiapkan makananan Terlebih lagi setelah ke toilet dan membersihan kotoran bayi. Selain itu, perhatikan kebersihan peralatan masak seperti talenan atau pisau.
2. Pisahkan

Jangan gabung talenan yang digunakan untuk memotong bahan mentah dan matang. Selain itu, jangan lupa simpan daging dan ikan dalam wadah yang terpisah mentah dengan makanan yang udah matang atau bahan yang siap makan.
3. Masak makanan dengan matang
Jangan memberikan makanan setengah matang atau tidak matang untuk bayi dan anak. Hindari juga zona suhu berbahaya, yaitu suhu dimana mikroorganisme berkembang pesatm yaitu, 5 sampai 60 derajat Celcius.
Makanan yang sudah lebih dari 2 jam di suhu ruang tidak boleh dikonsumsi.Jia hu ruang kurang aru 32 derajat celcius, makanan yang telah berada di suhu ruang >1 jam tidak boleh dikonsumsi.
4. Chill
Jika makanan tidak langsung dikonsumsi simpan di bawah suhu 5 derajat celcius (chiller), ketika ingin dikonsumsi bisa dipanaskan kembali.
Bakteri penyebab kontaminasi dapat tumbuh di makanan seperti dagingm ikan, telur, susu, kedelai, nasi, termasuk pasta dan sayuran, Maka, makanan tersebut harus disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu kurang dari 5 derajat celcius.
Dampaknya Keracunan Makanan pada Anak
Keracunan makanan bukan sekadar ‘sakit perut biasa’, anak yang mengalami keracunan makanan bisa dehidrasi, lemas, bahkan perlu rawat inap. Lebih jauh lagi, trauma juga bisa terbentuk. Misalnya terkait dengan MBG, ada siswa yang jadi enggan makan di sekolah karena takut sakit. Orang tua pun diliputi rasa khawatir, apakah besok anak akan aman dengan menu MBG?
Meski kendali utama ada di penyelenggara program, ada banyak hal yang bisa dilakukan orang tua untuk melindungi anak dari keracunan makanan. Termasuk dengan mengajarkan anak mengenali tanda makanan tidak layak. Misalnya, makanan yang berbau asam, terasa aneh, atau teksturnya berubah. Latih anak untuk berani menolak jika makanan mencurigakan.
Biasakan juga melatih anak untuk cuci tangan sebelum makan, hal sederhana ini bisa mengurangi risiko kuman berpindah ke makanan. Selain itu, orang tua dapat membekali anak dengan makanan tambahan dari rumah, buah potong, atau camilan sehat bisa menjadi cadangan bila anak ragu dengan makanan sekolah
Jangan lupa untuk membangun komunikasi dengan guru dan sekolah. Orang tua bisa aktif menanyakan menu harian MBG, kualitas penyedia, hingga mekanisme pelaporan jika ada keluhan. Jika anak pulang dengan gejala keracunan makanan, segera periksakan ke layanan kesehatan, lalu bantu sekolah mendata agar kasus cepat ditangani.
Kabar tentang ribuan anak keracunan akibat MBG memang membuat hati kita miris sekaligus khawatir. Tapi dari kejadian ini, kita bisa belajar satu hal penting bahwa makanan bergizi saja tidak cukup, karena pengolahan pun harus dilakukan dengan aman. Sebagai orang tua, mari kita terus waspada, membekali anak dengan pengetahuan, dan ikut mengawal agar program baik ini benar-benar memberi manfaat, bukan menjadi ‘ancaman’.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads









and then